Sat,5 September 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Feminis Menafsir: Perlukah Perempuan Bersandar Pada Brain, Beauty, Behavior?

Feminis Menafsir: Perlukah Perempuan Bersandar Pada Brain, Beauty, Behavior?

feminis-menafsir:-perlukah-perempuan-bersandar-pada-brain,-beauty,-behavior?
Feminis Menafsir: Perlukah Perempuan Bersandar Pada Brain, Beauty, Behavior?
service

Mubadalah.id Aku tak pernah berlama-lama di media sosial, selain hanya untuk keperluan pekerjaan. Namun, beberapa hari yang lalu, mataku melirik pada sebuah postingan dari akun yang menjual jasa pendampingan belajar untuk persiapan kuliah di luar negeri dan beasiswa. 

Menarik, sebab orang yang ditampilkan merupakan seorang perempuan muda umur 25 tahunan yang pernah berkuliah di salah satu kampus terkenal di Amerika. Tebak apa judul postingannya? Yap, profil seorang yang dinarasikan dengan judul “Brain, Beauty dan Behavior.”

Tentu, aku tak mudah tertarik dengan postingannya. Sebab, postingan itu merupakan teknik marketing. Sebuah cara untuk menggaet audiens media sosial agar mendaftar ke kelas persiapan beasiswa. Tentu, perusahaan menggunakan profil seorang perempuan muda tersebut agar banyak audiens tertarik dan dapat mengikuti jejak si perempuan melalui jasa persiapan belajar. Sebagai seorang yang belajar di bidang bisnis, tentu aku sudah paham bagaimana teknik marketing dasar hingga kelas kakap. 

Bagiku, aku memang tak tertarik. Membaca postingannya sampai habis, namun hanya mengamati bagaimana perusahaan menggunakan narasi “perempuan” untuk kepentingan bisnis mereka.

Darimana Datangnya Brain, Beauty, Behavior?

Sebelum berbicara mengenai konsep Brain, Beauty, dan Behavior, kita perlu memahami bagaimana budaya patriarki menjadi akar dari konsep tersebut. Mulanya, budaya patriarki mensosialisasikan perempuan untuk menyerap cara pandang “pengamat luar” terhadap tubuhnya sendiri. 

Bahasa sederhananya, dulu konsep ini berawal dari kontes kecantikan. Kemudian, kontes kecantikan melembagakan aktivitas tersebut secara formal dengan menilai penampilan para peserta kontes kecantikan. Juri yang menilai sebenarnya memperkuat pandangan bahwa tubuh perempuan jadi obyek publik yang layak untuk evaluasi. Secara saintifik, penjelasan tersebut merupakan teori milik Fredrickson & Roberts, 1997 dalam teori objektifikasi tentang Self-objectification.

Uniknya, Wolf (2021) mengamati perkembangan budaya patriarki tersebut. Seiring meningkatnya kekuatan politik dan ekonomi perempuan di abad ke-20, standar kecantikan justru semakin intensif sebagai mekanisme yang membuat perempuan saling bersaing satu sama lain, alih-alih melawan ketimpangan struktural. 

Coba kita berpikir lebih dalam lagi. Perkembangan kontes kecantikan kemudian menjadi sebagai platform beasiswa, pelatihan public speaking, ataupun advokasi sosial. Ngga heran kan, kalau di ajang kecantikan penyelenggara sering menambahkan unsur “Brain” dan “Behavior” pada format yang dulunya murni hanya menilai penampilan. 

Kalau kita mau memperhatikan lebih dalam lagi. Meski peserta menjawab pertanyaan tentang isu sosial, liputan media tetap lebih banyak menyoroti penampilan fisik. Sehingga unsur “brain” seringkali termarjinalkan dalam praktiknya. Juga, standar kecantikan menunjukkan pemenang kontes di berbagai budaya cenderung mengarah pada tipe tubuh, warna kulit, dan fitur wajah yang serupa.

Yang Bias dari Brain, Beauty, dan Behavior.

Mulanya, konsep 3B memang lahir dari kontes kecantikan yang hanya menilai penampilan fisik. Namun, seiring perkembangan waktu terus diperluas agar perempuan tak lagi dinilai dari fisik saja. Brain berarti kecerdasan dan kemampuan berpikir kritis. 

Beauty berarti penampilan menarik yang mencakup juga kecantikan dari dalam (inner beauty), dan Behavior berarti perilaku baik, etika, serta tata krama. Konsep ini kemudian menjadi standar baku industri pageant untuk menunjukkan bahwa seorang pemenang idealnya memiliki “paket lengkap”. 

Sebagian institusi atau figur menambahkan unsur keempat yaitu Brave (keberanian) sehingga menjadi konsep 4B, dan konsep ini bahkan diadaptasi ke bidang lain di luar pageant, seperti dunia penjualan (sales) dan pengembangan karakter pribadi secara umum. 

Kalau kita baca sekilas, memang tak ada yang aneh dari penjelasan tersebut. Juga, penjelasannya lebih humanis karena pendekatan penilaiannya tak hanya dari fisik saja. Kapasitas, kemampuan, minat, dan cara berpikir jadi pertimbangan dalam penilaian tersebut.

Namun, semakin aku berefleksi dan membaca beberapa literatur mengenai konsep 3B tersebut. Semakin aku menemukan bias yang sebetulnya tak sesuai dengan prinsip kesetaraan gender. Aku mencoba menggunakan kerangka pemikiran Interseksionalitas (Crenshaw, 1989). Interseksionalitas berprinsip bahwa “Semua perempuan berharga” berbenturan dengan struktur dan sistem kontes kecantikan.

Pertama, kriteria penilaian seperti warna kulit, bentuk tubuh, tinggi badan cenderung mengistimewakan standar ras dan kelas tertentu.

Kedua, perempuan dari kelompok termarjinalkan seperti kulit gelap, disabilitas, tubuh besar, kelas pekerja secara struktural lebih sulit mencapai visibilitas dalam sistem tersebut. 

“Tapi kan, sekarang sudah banyak kontes kecantikan yang melibatkan banyak perempuan dari kelompok termarjinalkan?”

Benar, kita bisa menjumpai kontes kecantikan yang memang melibatkan perempuan dari kelompok marjinal. Partisipasi kelompok marjinal dalam ajang semacam ini lebih tepat dipahami sebagai bentuk keberagaman di permukaan (surface-level diversity). Tidak sebagai kesetaraan struktural yang sesungguhnya. 

Sebab, jika dilihat dari data hasil kompetisi (siapa saja yang benar-benar memenangkan gelar), seringkali polanya masih relatif seragam. Juga, tetap mengikuti standar kecantikan dominan yang berlaku sejak dulu. 

Dua Mata Pisau dari Standar Brain, Beauty, Behavior

Sebuah pertanyaan yang terlintas, lalu apakah kita boleh memakai standar 3B ini? Wah, tentu tidak sesederhana boleh atau tak boleh. Sebab, ada banyak cara untuk memandang standar ini. Kali ini, aku ingin menggunakan perspektif feminis dalam meandang standar 3B. Kita akan berangkat pada titik bagaimana cara memakai standarnya dan untuk apa ia menjadi patokan?

Jika 3B kita pakai untuk membanding-bandingkan perempuan. Seperti siapa yang paling layak menang? Paling pantas jadi wajah perusahaan? atau paling “ideal” dijadikan panutan? Maka, masalahnya muncul lagi. Sebab membandingkan berarti menciptakan tingkatan. Dan tingkatan seperti ini biasanya tetap mengarah pada standar tunggal yang sempit. Seperti bentuk tubuh tertentu, warna kulit tertentu, kepribadian tertentu yang dianggap “paling pas”.

Namun, jika 3B kita maknai untuk diri sendiri sebagai pengingat dan motivasi untuk berkembang. Maka, rasanya sah-sah saja. Sebab bentuk “Cerdas” tak jadi senjata mengalahkan orang lain. “Penampilan” tak untuk pengakuan orang lain. Juga, “perilaku yang baik” tak untuk memenuhi konsep “perempuan yang sopan” sesuai standar masyarakat.

“Perempuan Sopan” lebih merujuk pada definisi perempuan yang lemah lembut, kalem, tak banyak bicara, Dan hal-hal lain yang telah menjadi konstruksi umum sosial masyarakat selama ini.

Tak Ada Brain, Beauty, Behavior Pada Laki-Laki

Standar 3B memang sangat rawan menjadi bias. Pada postingan iklan yang di awal telah aku sebutkan, misalnya. Standar 3B kemudian menjadi narasi siapa yang pantas jadi “contoh”. Siapa yang layak jadi wajah promosi. Juga, siapa yang menjadi “perempuan ideal”. Meski terkadang niatnya untuk diri sendiri. Pada praktiknya selalu berujung pada penilaian dan perbandingan.

Menariknya, standar seperti 3B ini hampir tidak pernah kita temui pada laki-laki. Kita tak pernah dengar ada ajang serupa “Brain, Beauty, Behavior” untuk laki-laki dengan sorotan media yang besar. Ketimpangan inilah yang sebenarnya perlu kita pertanyakan lebih dulu. Mengapa hanya tubuh dan perilaku perempuan yang terus-menerus menjadi bahan penilaian publik? 

Budaya patriarki menempatkan perempuan sebagai pihak yang harus terus membuktikan ia layak. Baik dari fisik, kepintaran, maupun sikap. Sementara laki-laki jarang menghadapi tuntutan yang sama besarnya. Jadi, pertanyaan “bolehkah 3B menjadi standar?” sebenarnya perlu kita perluas menjadi “mengapa standar seperti ini hanya terbebankan kepada perempuan?”

Jangan Melupakan Privilege

Kembali pada bahasan topik seorang perempuan muda yang menjadi model marketing dengan narasi 3B. Aku menyempatkan untuk menelusuri profil tokoh muda tersebut.

Ternyata, sejak kecil, ia mendapatkan privilege untuk hidup di luar negeri. Kedua orang tuanya menempuh pendidikan tinggi di luar negeri, saat zaman tersebut tak banyak masyarakat Indonesia yang menempuh pendidikan di luar negeri. 

Dalam kisah pengasuhannya, ia selalu mendapatkan fasilitas belajar yang lengkap juga dukungan penuh. Misalnya, orang tuanya tak pernah menyuruh ia melakukan sesuatu (seperti membeli barang di toko) ketika ia sedang belajar.

Juga, sejak kecil ia selalu mengikuti kelas tambahan di luar kelas. Ia benar-benar memanfaatkan privilegenya dengan sangat baik. Sehingga, dapat berkuliah di salah satu kampus dunia terkenal di Amerika baginya merupakan prestasi hasil dari sistem yang memfasilitasinya.

Jika kemudian kita menemukan perempuan-perempuan di sekitar kita merasa insecure mengapa mereka tak bisa begitu mudah menjadi seorang yang 3B sesuai dengan iklan promosi tersebut. Maka, kita perlu mengajaknya untuk berbicara dengan cara yang baik. Bahwa, kita tak memulai dari titik yang sama. Bisa jadi, sebagain besar dari kita selama ini fokus untuk survive dalam kehidupan. 

Misalnya, bekerja paruh waktu untuk membantu ekonomi keluarga. Membagi fokus antara belajar dan mengurus adik-adiknya. Atau memikirkan bagaimana caranya bertahan hidup hari ini. Dengan kata lain, sebagian dari kita para perempuan memiliki kerja keras yang sama. Bahkan lebih keras, tapi gagal sampai ke titik yang sama karena tak punya modal awal yang setara.

Kita perlu membawa kembali pada pertanyaan yang lebih besar soal kesetaraan. Kalau kita terus menjadikan sosok-sosok istimewa seperti ini sebagai patokan tunggal “perempuan ideal”. (Atau normalisasi standar 3B hanya agar dapat dihargai dan dihormati oleh orang lain. tanpa pernah membahas latar belakang privilegenya. Ya, secara ngga langsung kita sedang menciptakan standar yang mustahil terkejar oleh mayoritas perempuan lain. Terutama mereka yang tak lahir dengan starting point yang sama.

Feminis Menafsir

Seri Feminis menafsir ialah bentuk menuangkan pemikiran kritisku terhadap hal-hal disekitarku dengan menggunakan perspektif gender dan feminis. Melalui seri ini, aku ingin mengajak pembaca untuk tidak menerima begitu saja hal-hal yang tampak “biasa” atau “sudah semestinya begitu” di sekitar kita. Sebab, sering kali yang paling perlu kita pertanyakan justru hal-hal yang jarang kita pertanyakan. []

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.