Ada yang tak biasa di Desa Latas, dua jam perjalanan dari Jakarta. Riuh ramai hajatan yang dikenal sebagai pesta sambetan akan membuatmu sebagai penonton (di dalam film) kerasukan. Bukan oleh hantu atau setan, tapi oleh roh-roh binatang yang bakal membuatmu merasa senang. Lebih dari itu, para roh tersebut adalah penjaga alam desa, dan manusia adalah perantaranya. Jika alam dirusak, para roh menghilang, maka kesenangan warga pun lenyap bersamaan dengan penghasilan sanggar sabetan.
Dengan premis itu, sutradara Wregas Bhanuteja ‘merasuki’ kita lewat film Para Perasuk.
Bagi saya, menonton film Para Perasuk karya Wregas Bhanuteja bukan sekadar menikmati visual yang memikat tentang ritual dan komunitas lokal. Lebih dari itu, film ini menawarkan perjalanan reflektif tentang bagaimana manusia bernegosiasi dengan luka, ingatan, dan masa lalu yang belum selesai.
Di tengah pusaran konflik antara pelestarian tradisi lokal dan kuasa kapital, ada sosok karakter Ibu Guru Asri yang diperankan Anggun Cipta Sasmi. Ia muncul di dalam alur cerita sebagai jangkar moral yang tenang sekaligus menggugah. Guru Asri bukan sekadar pemimpin pesta sambetan yang eksentrik. Melainkan manifestasi agensi perempuan yang lahir dari kesederhanaan, dari pengalaman hidup yang berkelindan dengan tanah, komunitas, dan ingatan kolektif Desa Latas.
Maka tulisan ini adalah pembacaan saya terhadap tokoh Guru Asri secara apresiatif. Sebuah pilihan sadar untuk merayakan figur-figur perempuan berdaya yang dihadirkan pada layar sinema kita.
Guru Asri dikisahkan sebagai perempuan pemimpin sanggar pusat sambetan yang mencari perasuk utama baru. Yang terpilih akan memimpin pesta sambetan di Latas berikutnya. Belakangan, seiring terancamnya sumber mata air habitat para roh di ambang ambisi pembangunan modern oleh PT Wanaria, Guru Asri bersama para perasuk berjuang mengumpulkan uang untuk menebus mata air itu demi kelangsungan tradisi sambetan Desa Latas.
Baca juga: Jawaban untuk Perempuan Yang Merindukan Cinta Setara dalam Heated Rivalry
Dalam perspektif sosiologi, tindakan Guru Asri dapat dibaca melalui teori strukturasi Anthony Giddens. Bagi Giddens, agensi adalah kapasitas individu untuk bertindak di dalam, sekaligus terhadap, struktur yang membatasinya (Giddens, 1984).
Guru Asri bukanlah aktor yang berdiri di luar struktur kapitalisme yang diwakili oleh PT Wanaria. Ia bukan orang asing yang datang ke Desa Latas untuk menggelar aksi penyelamatan lingkungan. Ia justru hidup di dalamnya, di dalam struktur kapitalistik yang sedang berusaha menggeser ruang hidup Masyarakat Desa Latas. Namun alih-alih menyerah, ia memilih untuk tidak tunduk.
Ketika tanah dan mata air Desa Latas diposisikan sebagai komoditas, Guru Asri memaknai keduanya sebagai ruang hidup yang sarat nilai. Di sini, ia menunjukkan apa yang oleh Giddens disebut sebagai “kesadaran diskursif”. Ia tahu betul bahwa kehilangan mata air bukan hanya kehilangan sumber ekonomi, melainkan runtuhnya relasi spiritual antara manusia, alam, dan mereka yang tak kasat mata. Dalam kosmologi Desa Latas, mata air adalah pusat kehidupan. Ia menyimpan cerita tentang asal-usul, roh-roh desa, dan keberlanjutan hidup.
Agensi Guru Asri dalam Para Perasuk tidak selalu hadir dalam model perlawanan yang bising. Sesekali ia memang turun untuk melakukan demonstrasi, tetapi sebagian besar kerja politiknya berlangsung dalam senyap. Ia menempuhnya melalui keputusan-keputusan etis yang konsisten serta upaya membangun kesadaran kolektif warga Desa Latas, terutama lewat pesta-pesta sambetan yang diinisiasi oleh sanggarnya.
Maka tokoh seperti Asri juga bisa dibaca melalui pemikiran Lila Abu-Lughod, antropolog feminis yang panjang lebar mengkaji kehidupan perempuan Badui Awlad ‘Ali di Mesir. Abu-Lughod (1990) mengingatkan kita bahwa resistensi tidak selalu mengambil wujud sebagai sebuah konfrontasi terbuka. Ia kerap muncul sebagai praktik kecil yang dijalin dalam keseharian, sebagai cara perempuan menegosiasikan norma dan menjaga ruang hidupnya tanpa harus selalu mengangkat senjata. Guru Asri dalam hemat saya, adalah karakter yang menghidupi pemahaman tersebut.
Baca juga: Film ‘Legenda Kelam Malin Kundang’ Bisa Jadi Kilas Balik Putus Rantai Kekerasan
Puncak dari narasi pembebasan dalam film ini dapat dilihat ketika Guru Asri menggunakan hasil saweran pesta sambetan untuk menebus mata air milik Pak Dawuri. Tindakan ini bukan sekadar gestur kebaikan hati. Ia adalah bentuk intervensi politik yang sangat konkret dari sosok agensi.
Guru Asri mampu membaca situasi yang terjadi di Desa Latas dengan sangat jernih. Ia memahami kerentanan Pak Dawuri yang cucunya sedang sakit. Kondisi itu yang sering dimanfaatkan korporasi untuk mempercepat akumulasi lahan dengan menawarkan uang “ganti rugi” yang nilainya besar.
Membaca tindakan Guru Asri tanpa kerangka ekofeminisme rasa-rasanya akan membuat kita kehilangan separuh maknanya. Maria Mies dan Vandana Shiva (1993) menulis bahwa eksploitasi alam dan subordinasi perempuan bukanlah dua persoalan yang berdiri sendiri, melainkan dua wajah dari logika dominasi yang sama. Logika ini bekerja dengan cara mereduksi kehidupan menjadi sebatas sumber daya, mengubah relasi menjadi transaksi, dan memperlakukan apa yang seharusnya dirawat sebagai sesuatu yang dapat dieksploitasi.
Ketika sebuah korporasi menawarkan uang ganti rugi kepada keluarga yang terdesak, yang sedang berlangsung bukan sekadar jual beli tanah. Lebih dari itu, yang sedang terjadi sejatinya adalah pemutusan ikatan panjang antara manusia dan tanahnya. Ikatan manusia dengan mata air, leluhur, dan generasi yang akan datang.
Di titik inilah Asri membaca apa yang luput dari kalkulasi PT Wanaria. Ia tahu bahwa mata air Desa Latas yang ada di tanah Pak Dawuri bukan sekadar komoditas yang nilainya bisa diukur dengan rupiah. Maka ia memilih cara-cara di luar logika tersebut. Ia tidak melawan dengan menyaingi tawaran korporasi, sebab itu berarti menerima asumsi bahwa tanah memang bisa ditebus dengan uang.
Baca juga: Film ‘Na Willa’ Mengajak Kita Menjadi Anak Perempuan dengan Dunia yang ‘Sempurna’
Ia justru bernegosiasi dengan Pak Dawuri dan mengubah uang itu sendiri menjadi alat perawatan. Menjadikannya jembatan untuk mengembalikan mata air ke pangkuan komunitas Desa Latas. Inilah yang oleh Bennholdt-Thomsen dan Mies (1999) disebut sebagai subsistence perspective, yakni cara pandang yang menempatkan keberlanjutan hidup, bukan akumulasi, sebagai tujuan utama dari sebuah aktivitas ekonomi.
Lebih jauh, ekofeminisme menolak untuk melihat perempuan semata sebagai korban dari sistem ekstraktif. Sebaliknya, ia mengakui posisi mereka sebagai agen perawatan, sebagai sosok yang sehari-hari menjaga keberlanjutan hidup melalui kerja-kerja yang kerap luput dari statistik pertumbuhan ekonomi.
Dalam kacamata saya, Asri menempati posisi itu dengan utuh. Alih-alih memisahkan kepentingan manusia dan alam, ia justru membangun solidaritas kolektif lewat mekanisme “patungan” yang mengubah logika ekonomi dari sekadar aktivitas individual menjadi sebuah tindakan komunal yang bermakna.
Tentu saja, menuliskan ini bukan berarti membaca Asri sebagai tokoh yang sempurna tanpa celah. Ia perempuan, tapi dia juga punya otoritasnya sendiri di Desa Latas. Ia hadir sebagai guru, sebagai pemimpin sanggar, dan sebagai penggagas pesta sambetan. Patungan yang ia gerakkan, walaupun bermaksud baik, tetap berjalan melalui posisi yang ia tempati di tengah komunitasnya.
Pesta sambetan pun bukan ruang yang sepenuhnya netral, sebab di dalamnya ada hierarki tentang siapa yang boleh menjadi perasuk dan siapa yang menjadi pelamun. Namun, justru karena Guru Asri bukanlah seorang tokoh tanpa kuasa, maka agensinya menjadi lebih bermakna untuk dibaca.
Ia memilih, secara konsisten, untuk menggunakan kuasa kecil yang ia miliki bukan untuk menundukkan, melainkan untuk merawat kehidupan. Di situlah ia menjadi simpul yang menjahit kembali apa yang berusaha dirobek oleh kapital.
Baca juga: Bridgerton Season 4, Kisah Cinta Yang Melegitimasi Ketimpangan Kelas dan Rapuhnya Kedaulatan Perempuan
Tindakan semacam ini bukan tanpa preseden. Di luar layar lebar, banyak perempuan Indonesia yang lebih dulu menempuh jalan serupa, sebagaimana didokumentasikan oleh INFID dalam catatan tentang tokoh-tokoh perempuan pelestari lingkungan (INFID, 2023). Salah satunya Aleta Baun atau Mama Aleta dari Mollo, Nusa Tenggara Timur. Ia memimpin perempuan adat menenun di tapak tambang marmer selama berbulan-bulan, sebuah aksi damai yang akhirnya berhasil menghentikan penambangan gunung batu keramat di wilayahnya dan mengantarkannya menerima Goldman Environmental Prize pada 2013.
Ada pula Rukka Sombolinggi, Sekjen Aliansi Masyarakat Adat Nusantara, yang konsisten memperjuangkan hak masyarakat adat atas tanah dan ruang hidup. Barangkali karakter Guru Asri dalam Para Perasuk memang dibentuk dengan meneladani agensi perempuan yang menolak logika dominasi.
Namun kekuatan Guru Asri ternyata tidak hanya berhenti pada ranah ekologis dan politik. Dalam film, ia juga hadir sebagai figur yang merawat luka kolektif.
Melalui pesta sambetan, ia membuka ruang bagi warga Desa Latas untuk sejenak melarikan diri dari himpitan realitas yang menyesakkan, sekaligus berdamai dengan masa lalu yang tidak pernah benar-benar selesai. Ia secara tersirat mengajarkan bahwa kebahagiaan bukan berarti ketiadaan luka, melainkan kemampuan untuk merengkuh luka itu sebagai bagian dari keutuhan diri.
Bagi Asri, jalan menuju kebahagiaan, dan sekaligus jalan untuk menyalurkannya kepada orang lain, adalah dengan menerima diri seutuhnya. Pemahaman inilah yang ia tanamkan kepada Bayu (Angga Yunanda) yang terobsesi menjadi perasuk utama.
Baca juga: Internalized Misogyny dalam Film Perselingkuhan Menjebak Kita Pada Narasi ‘Istri Sah vs Pelakor’
Dalam dunia yang dibangun Wregas Bhanuteja, perasuk bukan sekadar perantara roh hewan. Ia adalah penyalur rasa nikmat dan senang yang akan dialami para pelamun ketika mereka memasuki alam sambet, ruang halusinasi yang indah, yang diciptakan dari ritual sambetan. Untuk bisa menyalurkan kebahagiaan secara utuh, seorang perasuk harus terlebih dahulu memeluk dirinya secara utuh. Justru di titik inilah Bayu kerap gagal. Ambisi membuatnya retak, dan keretakan itu menutup saluran kebahagiaan yang seharusnya ia teruskan.
Di sinilah agensi Asri mengambil bentuk yang lebih intim, sekaligus memperlihatkan jembatan yang sesungguhnya menjadi argumen terbesar film ini. Perlawanan terhadap PT Wanaria dan kerja batin yang ia bagikan kepada Bayu sebenarnya adalah satu kesatuan etis yang sama. Keduanya berangkat dari pemahaman bahwa keutuhan, baik keutuhan tanah maupun keutuhan diri, tidak bisa diperdagangkan.
Seseorang yang tidak mampu memeluk dirinya akan mudah tergoda oleh tawaran yang menjanjikan kekayaan. Begitu pula sebuah komunitas yang tidak mengenali nilai tanahnya, akan mudah melepaskannya untuk uang. Asri menunjukkan bahwa menjaga mata air dan menjaga batin adalah pekerjaan yang bersumber dari mata air yang sama, yakni kesediaan untuk hadir secara utuh pada apa yang sedang dirawat.
Penolakannya terhadap tawaran PT Wanaria pun tidak bisa direduksi sebatas sikap antikapital. Ia adalah ekspresi dari kemerdekaan batin yang sudah lama dipupuk. Guru Asri tidak tergoda oleh janji kemajuan dan kemakmuran yang menuntut harga berupa pemutusan relasi manusia dengan tanahnya. Ia tahu, bahwa kemajuan yang dibeli dengan menghilangkan akar kehidupan sejatinya hanyalah perpindahan dari satu bentuk ketergantungan ke ketergantungan yang lain. Maka dalam situasi itu ia memilih bertahan. Bukan karena tidak memiliki pilihan lain, melainkan karena ia tahu persis apa yang ingin ia jaga, dan untuk siapa ia menjaganya.
Baca juga: ‘The Housemaid’: Cerita PRT dan Lika-Liku Perempuan Lepas dari Jerat KDRT
Di tengah masyarakat yang semakin terbiasa mengukur segala sesuatu dengan rupiah, pilihan semacam ini memang terdengar seperti anomali. Padahal, justru di sanalah kekuatannya. Guru Asri menjadi pengingat bahwa masih ada cara lain untuk membaca dunia, cara yang tidak menempatkan tanah, air, dan tubuh perempuan sebagai komoditas yang dapat dipertukarkan. Cara yang melihat kehidupan sebagai jaringan relasi yang harus dirawat, bukan sekadar tumpukan sumber daya yang menunggu untuk diolah.
Melalui Guru Asri, film Para Perasuk mengingatkan kita bahwa perubahan sosial tidak selalu dimulai dari pusat kekuasaan. Ia bisa tumbuh dari pinggiran, dari sebuah desa kecil yang barangkali tak masuk dalam peta investasi nasional, dari seorang perempuan yang setia pada nilai-nilai yang ia yakini meski dunia di sekitarnya bergerak ke arah sebaliknya. Sejarah memang sering ditulis dari atas, tetapi pergeserannya kerap dimulai dari bawah, dari tangan-tangan yang sabar merawat apa yang nyaris hilang.
Sekali lagi, perlu saya akui bahwa Asri adalah karakter dalam sebuah film, dan apa yang saya tulis sepanjang esai ini sesungguhnya adalah catatan apresiasi atas keberhasilan Wregas Bhanuteja menghadirkan tokoh perempuan yang berdaya tanpa harus membuatnya tersiksa.
Sinema Indonesia sebenarnya tidak kekurangan tokoh perempuan yang menjadi pusat moral cerita. Kita mengenal Yuni dalam film karya Kamila Andini, Marlina dalam karya Mouly Surya, atau Butet Manurung dalam Sokola Rimba. Namun yang membuat Guru Asri terlihat menarik adalah cara film ini menempatkannya.
Baca juga: Film Kill Bill: Perempuan Merebut Otonomi Tubuh, Tapi Male Gaze Membayangi
Ia bukan tokoh muda yang sedang mencari jati diri, bukan korban yang membalas dendam, dan bukan figur satir yang dijadikan cermin bagi ironi sosial. Asri adalah perempuan paruh baya yang barangkali sudah selesai dengan dirinya, dan dari titik itulah ia merawat orang lain. Ia tetap utuh sebagai manusia, dengan otoritasnya, dengan keterbatasannya, dan dengan pilihan-pilihannya yang terkadang tidak mudah. Justru di situlah saya melihat keberhasilan film ini. Ia tidak menjual seorang ikon, melainkan membuka kemungkinan bahwa agensi perempuan dapat ditampilkan dengan kedalaman dan kompleksitas yang setara dengan tokoh-tokoh lain di sinema kita.
Dalam dunia yang kian dikuasai logika ekstraksi, karakter seperti Guru Asri menghadirkan kemungkinan lain tentang cara menjalani hidup. Bahwa membela yang dianggap suci, mata air, leluhur, ingatan, dan harga diri sebuah komunitas, bukanlah tindakan naif yang ketinggalan zaman. Namun ia adalah bentuk keberanian yang paling mendasar. Keberanian untuk berkata tidak ketika semua orang sibuk berkata iya.
Keberanian untuk berdiri di atas tanah sendiri ketika tanah itu sedang direnggut. Sekaligus keberanian untuk mencintai apa yang oleh dunia modern dianggap remeh, dan dengan demikian menjaganya agar tetap hidup.
(Editor: Salsabila Putri Pertiwi)
Referensi
Abu-Lughod, Lila. 1990. “The Romance of Resistance: Tracing Transformations of Power Through Bedouin Women.” American Ethnologist 17(1): 41–55.
Bennholdt-Thomsen, Veronika, dan Maria Mies. 1999. The Subsistence Perspective: Beyond the Globalised Economy. London: Zed Books.
Giddens, Anthony. 1984. The Constitution of Society: Outline of the Theory of Structuration. Cambridge: Polity Press.
INFID. 2023. “Tokoh Perempuan Inspiratif Indonesia Pejuang Lingkungan.” Diakses 27 April 2026. https://infid.org/tokoh-perempuan-inspiratif-indonesia-pejuang-lingkungan/.
Luviana. 2017. “Mollo, Keteguhan Hati Perempuan Penyelamat Hutan.” Konde.co, diakses 27 April 2026. https://www.konde.co/2017/02/mollo-keteguhan-hati-perempuan/.
Mies, Maria, dan Vandana Shiva. 1993. Ecofeminism. London: Zed Books.
Sumber foto: imdb.com





Comments are closed.