Bincangperempuan.com- Putus cinta dengan kekasih sudah sering kita kenal sebagai penyebab utama rasa duka, galau, dan patah hati yang mendalam. Seseorang yang baru saja mengakhiri hubungan romantis biasanya akan merasa resah, menangis berhari-hari, hingga gundah gulana akibat perpisahan tersebut. Namun, pernahkah kamu mengalami atau mendengar tentang fenomena putus pertemanan, atau yang kerap disebut dengan friendship breakup?
Berbeda dengan putus cinta, kehilangan seorang sahabat dekat sering meninggalkan luka batin yang rasanya jauh lebih perih dan membekas dibandingkan putus dari pacar. Sayangnya, masyarakat kita jarang membicarakan hal ini secara terbuka. Kita tidak punya banyak lagu galau tentang sahabat yang pergi, atau panduan tentang cara move on dari sahabat karib. Akibatnya, sebagian orang yang mengalaminya harus menanggung rasa sakit itu sendirian dalam kebingungan. Lalu, apa sebenarnya yang membuat friendship breakup terasa begitu menyakitkan?
Mengapa Putus Pertemanan Terasa Lebih Nyesek?
Tidak seperti hubungan romantis, pertemanan sering dianggap sebagai sesuatu yang akan bertahan selamanya. Melansir dari Wondermind, Brina Patel membagikan pengalaman friendship breakup dan sesi konselingnya. Dalam tulisan tersebut, seorang psikolog klinis berlisensi, Bethany Cook, PsyD, menjelaskan bahwa budaya kita tidak memiliki ritual atau tonggak pencapaian (milestones) yang sama dengan putus cinta. Padahal berakhirnya sebuah persahabatan sama halnya dengan pasangan romantis. Jika putus cinta memiliki penanda akhir yang jelas seperti mengembalikan barang mantan, pindah rumah, atau proses perceraian, putus pertemanan tidak memiliki garis akhir yang sejelas itu.
Hal ini sebagian besar terjadi karena kita jarang berekspektasi bahwa persahabatan kita akan berakhir, apalagi memikirkan alasan-alasan mengapa hal itu bisa terjadi. Namun, faktanya persahabatan bisa dan sering kali berakhir. Ketika sebuah hubungan pertemanan mulai meredup dan menjauh, perasaan yang muncul bisa jauh lebih rumit daripada sekadar putus dengan mantan kekasih.
Psikolog klinis dan peneliti persahabatan, Miriam Kirmayer, PhD, menambahkan bahwa karena sebagian besar dari kita tidak pernah diajarkan bahwa putus pertemanan adalah sesuatu yang layak mendapat simpati, hal ini meninggalkan banyak keambiguan tentang bagaimana kita seharusnya merasa saat persahabatan itu berakhir. Sebagai akibatnya, seseorang jadi terus-menerus mempertanyakan apa yang salah dari persahabatan tersebut, dan merasa sangat khawatir tentang apa yang harus dilakukan selanjutnya.
Baca juga: Baby Face atau Childlike: Apakah Standar Kecantikan Kita Mengarah ke Pedofilia?
Terjebak dalam Duka yang Ambigu (Ambiguous Grief)
Melansir dari Verywell Mind, psikolog klinis Sabrina Romanoff, PsyD, menyatakan kehilangan teman dekat dapat memicu perasaan duka yang mendalam, sama seperti putus cinta.
Masih dalam artikel yang sama, Stevie Blum, LCSW, seorang psikoterapis yang berbasis di New York. Ia menyetujui pernyataan tersebut dengan menambahkan, “Kehilangan teman dekat bisa terasa sangat mirip dengan berduka atas sebuah kematian.” Fenomena ini sering kali menciptakan apa yang disebut sebagai ambiguous grief atau duka yang ambigu.
Duka yang ambigu adalah rasa sakit saat meratapi kehilangan seseorang yang masih hidup sehat, tetapi sudah tidak ada lagi di dalam hidupmu dengan cara yang sama seperti yang biasa kamu rasakan sebelumnya.
Menurut Blum, duka yang ambigu ini sulit diproses oleh pikiran. Sering kali tidak ada closure (penyelesaian atau titik terang), sehingga memunculkan kebingungan yang luar biasa tentang mengapa hubungan tersebut bisa berakhir.
Baca juga: Glass Cliff: Ketika Perempuan Diberi Takhta Saat Kapal Mulai Karam
Langkah Sehat untuk Pulih dari Friendship Breakup
Meskipun rasanya sangat berat dan membingungkan, para ahli merekomendasikan beberapa strategi yang bisa kamu terapkan untuk memulihkan diri dari friendship breakup:
1. Izinkan Dirimu untuk Berduka
Sama seperti meratapi akhir dari hubungan romantis, akhir dari persahabatan dekat pantas mendapatkan pengakuan yang sama, bahkan mungkin lebih. Perlakukan kehilangan ini seperti peristiwa emosional signifikan lainnya. Izinkan dirimu untuk berduka atas kenangan bersama, koneksi yang pernah ada, dan peran orang tersebut dalam hidupmu tanpa perlu merasa berlebihan.
2. Hindari Menyalahkan Diri atau Orang Lain
Setelah putus, sangat mudah untuk jatuh ke dalam siklus negatif, entah itu menyalahkan orang lain atau bahkan menyalahkan diri sendiri. Daripada memusatkan perhatian pada siapa yang salah, akuilah bahwa cara kalian berdua berinteraksi satu sama lain sudah tidak lagi sejalan, dan hubungan tersebut memang sudah mencapai batas akhirnya. Perubahan dalam pertemanan adalah bagian alami dari kehidupan, jadi lebih baik fokus pada penerimaan. Kamu tetap bisa menghargai kenangan positif sambil secara bersamaan mengakui alasan logis mengapa pertemanan itu usai.
3. Tumbuhkan Rasa Ingin Tahu yang Objektif
Setelah melewati proses berduka di awal, sangat bermanfaat untuk mulai menumbuhkan rasa ingin tahu tentang mengapa hubungan itu berakhir dari sudut pandang yang tidak menghakimi. Gunakan lensa pola relasional untuk mengidentifikasi apa yang selama ini berhasil dan apa yang tidak. Cobalah mencatat daftar hal-hal baik, hal-hal buruk, dan ruang mana saja yang masih bisa diperbaiki. Memahami dinamika ini bisa membantumu tumbuh dan menetapkan batasan (boundaries) yang lebih sehat di pertemanan selanjutnya.
4. Tetapkan Tujuan Spesifik untuk Pertemanan Baru
Setelah merenungkan apa penyebab persahabatanmu berakhir, luangkan waktu untuk mengklarifikasi apa yang sebenarnya kamu hargai dari sebuah persahabatan. Kenali batasan-batasan yang tidak bisa diganggu gugat dan ekspektasimu untuk interaksi yang bermakna. Biarkan tujuan-tujuan ini memandumu dalam membentuk hubungan yang lebih baik ke depannya.
5. Bangun Kembali Sistem Support System
Jangan biarkan kehilangan satu sahabat menghalangimu untuk menghargai persahabatan lain. Untuk mengurangi perasaan kesepian dan mendapatkan dukungan, fokuslah pada membangun koneksi sosial yang baru sekaligus memperkuat ikatan yang sudah ada.
Menghadapi friendship breakup memang tidak mudah. Oleh karena itu, mari kita normalisasi rasa duka akibat kehilangan seorang sahabat. Memberi ruang bagi diri sendiri atau orang lain untuk bersedih, kecewa, dan menangisi pertemanan yang usai adalah hal yang sangat wajar dan valid.
Referensi:
- Mejia, N. (2026, 30 Maret). What happens in your brain after a friendship breakup? Verywell Mind.https://www.verywellmind.com/what-happens-in-your-brain-after-a-friendship-breakup-11935755
- Patel, B. (2022, 28 Oktober). You’re not wrong: Friendship breakups suck more than romantic ones. Wondermind.https://www.wondermind.com/article/breaking-up-with-a-friend/





Comments are closed.