Wed,15 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Gagal Paham Subkultur, Siaran Trans7 Jadi Nglantur

Gagal Paham Subkultur, Siaran Trans7 Jadi Nglantur

gagal-paham-subkultur,-siaran-trans7-jadi-nglantur
Gagal Paham Subkultur, Siaran Trans7 Jadi Nglantur
service

Baru-baru ini, Trans7 kembali menjadi sorotan karena tayangan “Xpose Uncensored” yang menyoroti pondok pesantren dan kiai. Namun, tayangan tersebut mendapat kritik karena dianggap tidak memahami subkultur pesantren. Sebagai lembaga pendidikan yang memiliki tradisi dan budaya unik, pesantren tidak dapat dipandang sebelah mata.

Pada tahun 1974, K.H. Abdurrahman Wahid atau yang dikenal Gus Dur, pernah menulis bahwa pesantren adalah subkultur yang memiliki identitas dan tradisi sendiri. Dalam konteks ini, subkultur pesantren mencakup berbagai aspek, seperti sistem nilai, relasi murid dan guru, otoritas kiai, kurikulum (sistem pendidikan), tradisi, disiplin sosial, kemampuan adaptasi dan teknologi lokal yang khas.

Salah satu tradisi yang unik dalam pesantren adalah hubungan antara santri dan kiai. Santri memiliki tradisi bersedekah kepada kiai sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan atas ilmu yang diberikan. Sedekah ini tidak hanya berupa materi, tetapi juga dapat berupa pikiran, tenaga, dan partisipasi dalam kegiatan pondok, termasuk sambatan dalam pembangunan pondok (ngecor misalnya) bagi santri adalah sesuatu keberkahan.

Dalam kitab At-Tibyan fi Adabi Hamalatil Quran karya Imam An-Nawawi, dan juga dalam berbagai kitab salaf yang lain banyak menjelaskan bahwa sedekah murid (muta’állim) kepada kiai (mu’állim) adalah bagian dari memuliakan ilmu dan membuka pintu-pintu ilmu dan keberkahan lainnya. Tradisi ini juga tercermin dalam budaya pesantren yang menekankan pentingnya gotong royong dan solidaritas sosial dan semua itu adalah bagian dari manifestasi ilmu amaliyah dan amal ilmiah.

Namun, tayangan “Xpose Uncensored” di Trans7 tidak memahami subkultur pesantren ini. Mereka menyajikan gambaran yang tidak akurat dan cenderung sensasional tentang kehidupan di pesantren. Hal ini menunjukkan bahwa mereka tidak melakukan penelitian yang cukup mendalam tentang tradisi dan budaya pesantren.

Buku “Tradisi Pesantren” karya Zamakhsyari Dhofier (2011) juga menjadi referensi penting dalam memahami subkultur pesantren. Buku ini menjelaskan bahwa pesantren memiliki tradisi dan budaya yang unik, yang berbeda dengan lembaga pendidikan lainnya yang selaras dengan apa yang disampaikan Gus Dur jauh sebelum ini.

Dalam konteks ini, penting bagi media untuk memahami subkultur pesantren sebelum menyajikan informasi tentang lembaga pendidikan ini. Media harus melakukan penelitian yang cukup mendalam dan tidak menyajikan gambaran yang tidak akurat atau sensasional.

Kasus Trans7 ini menjadi pelajaran bagi kita semua. Penting bagi kita untuk memahami dan menghargai tradisi dan budaya yang unik dari setiap lembaga pendidikan, termasuk pesantren. Dengan demikian, kita dapat membangun kesadaran dan pemahaman yang lebih baik tentang lembaga pendidikan ini.

Dalam visualisasinya, tayangan “Xpose Uncensored” di Trans7 yang menyoroti pondok pesantren dan kiai menunjukkan kegagalan dalam memahami subkultur pesantren. Apalagi ini terkait narasi dalam siaran tersebut dengan bagian dari subkultur pesantren Lirboyo Kediri, Jawa Timur dan menyangkut kiai karismatik sebagai pengasuhnya.

Ribuan alumninya sudah tersebar sebagai pemangku moral dan Islam moderat di Indonesia. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memahami dan menghargai tradisi dan budaya yang unik dari setiap lembaga pendidikan, termasuk pesantren. Dengan memahami akan terbangun kesadaran dan pemahaman yang lebih baik tentang lembaga pendidikan khas pesantren ini sehingga melahirkan kesadaran budaya (cultural awareness) atas subkultur pesantren itu agar bisa kreatif melahirkan siaran produktif dengan kecerdasan budaya (cultural intelligence). Tanpa kecerdasan budaya jangan harap platform media apapun akan bisa bertahan lama.

Yang tak boleh dilupakan juga adalah pesantren adalah NU kecil, NU adalah pesantren besar. Maka siapapun yang mengusik tradisi dan kearifan pesantren yang secara historis menjadi penopang Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan UUD 1945 (PBNU), berarti berhadapan dengan NU dan sekaligus spirit kebangsaan Indonesia.

Maka bisa dipahami mengapa tidak hanya kalangan pesantren yang menggugat acara Trans7 tersebut, tetapi dari berbagai warga NU baik NU kultural maupun NU struktural bahkan juga dari Majlis Ulama Indonesia (MUI) dan sejumlah warga lain juga ramai-ramai memasang tagar #BoikotTrans7.

Semua media perlu memahami subkultur pesantren dengan segala keunikannya tersebut agar semua siaran didasari dengan riset mendalam terlebih dahulu, agar siaran tidak nglantur (disorientasi), namun tetap dengan spirit jurnalisme profetik: Shidiq (prinsip kebenaran dan obyektifitas), Amanah (prinsip kepercayaan), Tabligh (prinsip komunikasi etik), dan Fathonah (gunakan kesadaran dan kecerdasan budaya). Dengan demikian diharapkan media akan menjadi pilar demokrasi dan juga bagian dari jalan berbagai energi positif (epos).

Tags:

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.