Mubadalah.id – Sebagian besar budaya di Indonesia memiliki sifat kekeluargaan/kekerabatan yang sangat kuat. Tidak jarang, keluarga besar masih terlibat dalam urusan rumah tangga keluarga inti. Misalnya, kakek/nenek yang terlibat dalam pengasuhan anak. Pola asuh dari kakek/nenek bisa jadi tidak sama dengan pola asuh yang kita terapkan. Jika hal ini terjadi, sedikit banyak tetap berpengaruh pada perilaku anak.
Alternatif solusi:
Pertama, jika ada pihak lain yang menerapkan pola asuh yang tidak sesuai, kurangi jumlah waktu bersama mereka. Ingat, dengan siapa anak banyak menghabiskan waktunya, maka orang tersebut memiliki pengaruh yang kuat dalam membentuk pribadi anak.
Usahakan agar anak tetap lebih banyak bersama orang tua, sehingga orang tua tetap lebih dominan dalam membentuk karakter anak.
Kedua, bicarakan dengan pasangan solusi yang akan dipilih untuk memperbaiki pola asuh yang salah dari pihak lain.
Ketiga, sampaikan secara baik-baik harapan Anda kepada pihak keluarga/lain yang menerapkan pola asuh salah tersebut.
Memiliki Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)
Anak Berkebutuhan Khusus adalah anak yang mengalami hambatan perkembangan. Orang tua yang memiliki ABK akan menghadapi tantangan yang semakin berat. Diperlukan kerja keras dan kerja sama yang lebih kuat dari kedua orang tuanya.
Orang tua harus menerima kenyataan dengan ikhlas. Berbagai upaya tetap harus dilakukan agar anak berkembang dengan lebih baik.
Alternatif solusi:
Pertama, segera bawa anak ke petugas kesehatan. Anda dapat membawanya ke puskesmas, rumah sakit, maupun klinik tumbuh kembang anak yang ada di daerah Anda. Deteksi Dini Tumbuh Kembang Anak (DDTKA) sangat penting untuk segera dilakukan.
Penanganan sedini mungkin akan jauh lebih baik. Sebaliknya, jika terlambat mendapatkan penanganan yang tepat, maka bisa berdampak jangka panjang.
Kedua, melibatkan pihak lain dalam menangani anak. Pihak lain yang dapat dimintai bantuan misalnya dokter, psikolog, terapis, dan pendidik/guru. Kerja sama dari banyak pihak akan semakin baik.
Ketiga, kedua orang tua harus terlibat penuh dalam melatih, memberi rangsangan, serta memantau perkembangannya. Orang tua perlu bersikap positif dan aktif. Jika orang tuanya sendiri yang melatih (menangani), hasil kemajuan anak akan jauh lebih baik.
Keempat, menetapkan harapan yang masuk akal. Setiap ABK memiliki keunikannya sendiri-sendiri. Jangan pernah membandingkan dia dengan anak lain! Ia memiliki keterbatasannya sendiri. Dan yakinlah bahwa mereka pun memiliki keunggulannya sendiri. Setiap ABK juga merupakan anak yang istimewa yang memiliki potensinya masing-masing.
Kelima, ABK tetap memiliki hak untuk mendapatkan layanan pendidikan yang sama. Pemerintah menganjurkan agar ABK tetap masuk ke sekolah umum bahkan sejak di PAUD (Kelompok Bermain, TK/RA, TPA). []
*)Sumber Tulisan: Buku Fondasi Keluarga Sakinah hlm 110-111





Comments are closed.