Jakarta, Arina.id—Gunung Anak Krakatau (GAK) kembali menunjukkan aktivitas vulkanik yang beruntun pada Senin (17/8/2026). Setelah erupsi pada pagi hari, gunung api di perairan Selat Sunda itu kembali meletus tiga kali dalam rentang sekitar tiga jam.
Letusan terjadi pukul 15.15 WIB dengan kolom abu teramati mencapai sekitar 400 meter di atas puncak atau sekitar 557 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Letusan Gunung Anak Krakatau tersebut menghasilkan kolom abu berwarna kelabu hingga hitam. Kolom abu teramati cukup tebal dan bergerak ke arah timur.
“Terjadi erupsi Gunung Anak Krakatau pada hari Senin, 17 Agustus 2026, pukul 15:15 WIB. Tinggi kolom letusan teramati ± 400 meter di atas puncak,” tulis Badan Geologi, Senin (17/8/2026).
Berdasarkan laporan petugas pengamatan Gunung Api Deny Mardiono, erupsi terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 48 milimeter. Durasi letusan tercatat selama 132 detik.
PVMBG merekomendasikan masyarakat, pengunjung, wisatawan, dan pendaki tidak mendekati Gunung Anak Krakatau.
Aktivitas juga dilarang dilakukan dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif Gunung Anak Krakatau. Rekomendasi tersebut dikeluarkan untuk mengantisipasi bahaya dari aktivitas erupsi gunung api.
Kepala Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau di Desa Hargo Pancuran, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, Andi Suwardi, mengatakan rangkaian erupsi yang terjadi dalam waktu berdekatan masih terus dipantau.
“Memang ada beberapa kejadian erupsi yang waktunya berdekatan. Semua kejadian itu kami catat dan pantau melalui pengamatan visual maupun rekaman seismograf,” tandas Andi.
Sebelumnya, Gunung Anak Krakatau di Lampung Selatan, Lampung mengalami delapan kali letusan disertai semburan lava pijar dengan status aktivitas bertahan di Level III (Siaga) pada Minggu (16/8).
“Teramati delapan kali letusan dengan tinggi 200 hingga 300 meter di atas puncak kawah, dimana warna asap teramati kelabu dan hitam. Selain letusan, juga teramati adanya semburan lava pijar,” kata dia.




Comments are closed.