Mimika, NU Online
Nahdliyyn Mimika, Papua Tengah pada Sabtu (15/8/2026) malam menggelar doa bersama dipusatkan di Mushala Al-Ikhlas Swakarsa Kampung SP1 Kamoro Jaya. Lokasi mushala yang ada di tengah ladang yang jauh dari jalan raya serasa perjuangan gerilya para pejuang kemerdekaan dari kalangan santri dan kiai.
Para jamaah datang dari berbagai tempat. Acara diisi dengan maulid Barzanji, istighotsah, munajat muktamar Ke-35 NU, ahlil untuk pahlawan dan renungan kemerdekaan.
Acara yang sama seperti itu juga digelar di tiga masjid, yakni Darul Muttaqin TSM SP3, Baitul Muhajirin Trans Baru SP3, Al-Ikhlas Kadun Jaya bersama MT Darunnida’ dan Grup Sholawat Miftahul Jannah. Dengan selesainya di musholla Al Ikhlas Swakarsa ini, lengkaplah munajat dan riyadhoh untuk kesuksesan muktamar Ke-35 NU di sebelas titik selama 11 malam.
“Ada empat niat yang kami lakukan dalam satu acara, yakni rutinan istighotsah, munajat Muktamar, peringatan HUT Ke-81 RI serta maulid duabelasan. Niat-niat ini bisa ditambah lagi, yakni niat silaturahim, sedekah, kirim doa, iktikaf, memakmurkan masjid, menuntut ilmu, dan niat niat baik lainnya. Sesungguhnya amal itu bergantung niat,” urai Wakil Ketua PCNU Mimika, H. Sugiarso
Menurutnya, acara seperi ini tidak hanya dilihat sebagai amalan dan tradisi, tetapi dilihat sebagai harokah dan manhaj Annahdliyyah.
RiyadhAh dengan Silaturahim Malam
Perjalanan sebelas malam di sebelas lokasi tanpa putus tentu bukan perjalanan biasa, namun sebuah laku tirakat (riyadhooh) untuk kesuksesan muktamar dan NU. Kondisi keamanan di Mimika yang labil, lokasi yang jauh, dan cuaca yang tidak menentu menjadi tantangan tersendiri dan laku tirakat.
“Kita kalau tidak ada acara seperti ini, walaupun malam, jauh dan hujan, kita tidak bisa bertemu, satu sama lain tidak nyambung dan merasa cukup di tempat masing-masing. Tidak ada yang datang dan didatangi. Kita bukan mencari makanan, apalagi amplop, tetapi nilai silaturahim ini yang penting dan harus dijaga,” tegas H. Faisal, Ketua MWCNU Mimika Baru, sekaligus komandan tim jamaah istighatsah benar-benar menjalani riyadhoh safar berkeliking sebelas malam tanpa putus
Penyerahan Buku Aswaha NU: Mnal ‘BisyarAh ilal BasyirAh
Mustasyar PBNU KH Ma’ruf Amin menyatakan pemikirannya dengan ungkapan “Bangunlah NU ‘alal basyirah bukan ‘alal bisyarah.” Munajat dan riyadhah 11 malam di 11 titik ini menjadi wujud upaya gerakan basyirh. Tim istighotsah dan jamaah tidak ada yang memberi bisyarah (amplop) dan tidak ada yang diberi bisyarah.
“Semua sumberdaya acara dari sedekah jamaah. Tim istighotsah datang dan pulang bukan karena ada bisyarah, namun karena kesadaran dan pemahaman ber-NU,” kata H Sugiarso.
Perubahan landasan harakah acara ini diperkuat dengan penyerahan buku Aswaja An-Nahdliyya terbitan LTNU PWNU Jawa Timur dan Majalah Aula kepada tokoh pergerakan NU Mimika, yakni H Faisal, Ustadz Ngateno, Ustadz Sabariyanto, dan Ustadz Irin.
“Kami berharap penyerahan buku dan majalah ini menjadi penguat basyirah para penggerak ini guna kemajuan NU dan keselamatan dunia akhirat dan memberkahi anak keturunannya,” harap H Sugiarso.




Comments are closed.