Bincangperempuan.com- Kalian tahu pasangan Tom Holland dan Zendaya? Masa kecil mereka belakangan makin sering dimuat dan dipublikasikan secara publik di media. Salah satunya cuplikan video Zendaya kecil yang hobi main sepak bola, sementara Tom Holland semasa kecil justru tekun menari balet.
Kedengarannya seperti fun fact pop-kultur yang menggemaskan, kan? Tapi tunggu dulu. Kalau saat membaca fakta itu refleks di kepalamu berbunyi, “Wah, iya ya, kok kebalik?”—artinya cara berpikir kamu masih terjebak bias gender dan kerangka patriarki.
Sebab, sejak kapan balet punya jenis kelamin perempuan dan olahraga beregu beridentitas laki-laki? Ekspresi tubuh, seni, keluwesan, maupun kekuatan fisik itu sifatnya universal. Hobi sebenarnya tidak pernah dilahirkan dengan alat kelamin. Kita lah yang mengkondisikan suatu pekerjaan atau hobi dengan gender tertentu.
Baca juga: Leaky Pipeline: Ketika Sistem Mengeliminasi Karier Perempuan
Konstruksi Norma Gender Kaku lewat Doktrin Patriarki
Melansir dari United Way, norma gender adalah ekspektasi dan aturan tidak tertulis di masyarakat mengenai bagaimana laki-laki dan perempuan “seharusnya” bersikap, mengekspresikan diri, dan berinteraksi. Norma ini dibentuk, disebarkan, dan dilestarikan secara masif melalui media, budaya, serta pola pengasuhan.
Misalnya di media populer kerap melanggengkan stereotip kaku. Tayangan televisi dan film mayoritas menampilkan tokoh utama laki-laki yang dominan, kuat, dan agresif, sementara karakter perempuan kerap digambarkan emosional, dependen, atau sekadar diobjektifikasi secara seksual. Iklan pun sama tiga: laki-laki sering ditempelkan dengan olahraga dan aktivitas luar ruang, sedangkan perempuan dikotakkan dalam produk kecantikan dan urusan rumah.
Ditambah lagi sejak di rumah, pembagian tugas sudah terpolarisasi. Anak perempuan dibiasakan memegang urusan memasak dan membersihkan rumah, sedangkan anak laki-laki diserahi tugas perbaikan atau pekerjaan fisik di halaman.
Ketika Perangkap Stereotipe Membunuh Potensi dan Bakat Anak
Proses sosialisasi gender (gender socialization) berperan penting di sini. Anak-anak sejak kecil telah mempelajari ekspektasi masyarakat sesuai dengan gender yang disematkan padanya. Contohnya anak laki-laki didorong untuk mengadopsi peran tradisional yang menekankan sifat ketegasan, kompetisi, dan kemandirian. Di sisi lain, anak perempuan diarahkan untuk memiliki sifat mengasuh, emosional, dan penurut. Ketika sosialisasi ini berjalan secara ekstrem, lahirlah fenomena hypermasculinity (sifat maskulin berlebihan) atau hyperfemininity (sifat feminin berlebihan).
Dampak dari pengotak-ngotakan ini sangat merugikan tumbuh kembang anak. Anak laki-laki yang dituntut untuk selalu “maskulin” kerap kesulitan mengungkapkan emosi dan enggan mencari bantuan saat mengalami masalah mental. Sementara anak perempuan yang menginternalisasi peran feminin yang membatasi cenderung memiliki rasa percaya diri yang lebih rendah. Temuan meta-analisis yang melibatkan 78 sampel dan lebih dari 19.000 partisipan menunjukkan bahwa konformitas terhadap norma maskulin tradisional (terutama kontrol emosional, self-reliance, dan beberapa norma terkait) berhubungan secara tidak menguntungkan dengan kesehatan mental serta sikap yang lebih negatif terhadap pencarian bantuan psikologis.
Selain itu anak-anak yang bertindak di luar norma gender seperti anak laki-laki yang suka menari/bermain boneka atau anak perempuan yang gemar olahraga ekstrem—sering kali menjadi sasaran ejekan oleh sebaya maupun lingkungan terdekatnya. Studi longitudinal besar (N = 10.655) menemukan bahwa anak-anak dengan tingkat nonkonformitas gender tinggi di masa kanak-kanak berisiko lebih tinggi mengalami gejala depresi hingga dewasa muda; bullying dan kekerasan menjelaskan sebagian besar peningkatan risiko tersebut, dengan dampak yang lebih menonjol pada laki-laki.
Dampak terburuknya, anak-anak tidak bisa memaksimalkan potensi alami mereka. Berapa banyak anak laki-laki yang sebenarnya berbakat menjadi penari kelas dunia atau desainer, dan berapa banyak anak perempuan yang punya potensi besar di bidang teknik atau olahraga profesional, namun bakatnya terhenti karena rasa takut dihujat dan stigma “tidak sesuai gender”? Riset terhadap siswa kelas 3 di Australia (usia sekitar 7–8 tahun) menunjukkan betapa prematurnya stereotip ini bekerja: hanya sekitar 6% anak perempuan yang bercita-cita di bidang STEM, dibandingkan 22% anak laki-laki. Pilihan mereka sudah terperangkap dalam konstruksi tradisional—laki-laki ke olahraga profesional, STEM, dan kepolisian; sedangkan perempuan ke dunia mengajar, merawat hewan, atau seni.
Baca juga: Bling-Bling di Gigi Ala Naykilla: Tren Tooth Gem, Aman Nggak Sih?
Belajar dari Orang Tua “Tomdaya”: Bebaskan Anak dari Kotak Gender
Pada akhirnya, stereotip gender yang kaku sejak dini tidak sekadar membatasi ruang ekspresi dan merusak kesehatan mental, tetapi juga secara sistematis mengikis peluang anak untuk mengembangkan bakat autentik mereka.
Dari perjalanan masa kecil Tom Holland dan Zendaya, kita bisa belajar banyak tentang bagaimana orang tua yang memberi ruang bebas dan mendukung minat anak secara utuh—tanpa terikat norma gender—mampu mencetak individu yang berdaya, percaya diri, dan berprestasi. Sudah saatnya kita membongkar kotak-kotak kaku bentukan masyarakat dan berhenti menjejalkan label gender pada hobi, seni, maupun cita-cita. Membebaskan anak dari tekanan konformitas adalah satu-satunya cara agar potensi mereka tidak mati sebelum sempat berkembang.
Referensi:
- United Way NCA. (2025, March 25). Gender roles and norms: What are they & how do they affect children? https://unitedwaynca.org/blog/gender-norms/
- Roberts, A. L., Rosario, M., Slopen, N., Calzo, J. P., & Austin, S. B. (2013). Childhood gender nonconformity, bullying victimization, and depressive symptoms across adolescence and early adulthood: An 11-year longitudinal study. Journal of the American Academy of Child & Adolescent Psychiatry, 52(2), 143–152. https://doi.org/10.1016/j.jaac.2012.11.006
- Scholes, L., & McDonald, S. (2022). Year 3 student career choices: Exploring societal changes in constructions of masculinity and femininity in career choice justifications. British Educational Research Journal, 48(2), 376–394. https://doi.org/10.1002/berj.3767
- Wong, Y. J., Ho, M.-H. R., Wang, S.-Y., & Miller, I. S. K. (2017). Meta-analyses of the relationship between conformity to masculine norms and mental health-related outcomes. Journal of Counseling Psychology, 64(1), 80–93. https://doi.org/10.1037/cou0000176
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel





Comments are closed.