Sat,11 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Health
  3. Guru Besar UGM Kritik Pelaksanaan Makan Bergizi Gratis

Guru Besar UGM Kritik Pelaksanaan Makan Bergizi Gratis

guru-besar-ugm-kritik-pelaksanaan-makan-bergizi-gratis
Guru Besar UGM Kritik Pelaksanaan Makan Bergizi Gratis
service

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi perhatian publik setelah dugaan korupsi dalam tata kelola Badan Gizi Nasional (BGN) terungkap. Di tengah proses pembenahan tata kelola, pemerintah juga mulai melakukan refocusing program dengan memprioritaskan ibu hamil, ibu menyusui, anak balita, serta wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), menyusul berbagai kritik terhadap pelaksanaan MBG yang dinilai belum tepat sasaran.

Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Universitas Gadjah Mada, Sri Raharjo, mengatakan tujuan MBG seringkali dipersepsikan sama dengan program penurunan stunting. Padahal keduanya memiliki fokus yang berbeda. “MBG itu sebetulnya untuk meningkatkan status gizi. Sering dipersepsikan sama dengan mengatasi stunting, padahal mestinya urusannya beda,” ujarnya, Selasa, 30 Juni 2026.

Menurut Sri, pemerintahan yang lalu sebenarnya telah menjalankan program percepatan penurunan stunting selama sekitar sepuluh tahun terakhir. Karena itu, pengalaman tersebut seharusnya menjadi pembelajaran dalam merancang MBG.

Ia menilai salah satu kelemahan mendasar program ini adalah sasaran penerima manfaat yang belum diprioritaskan kepada kelompok yang benar-benar membutuhkan. “Kalau tujuannya meningkatkan status gizi, mestinya yang menerima MBG adalah mereka yang memang status gizinya kurang atau berada di marginal,” katanya.

Ia beranggapan, sejak awal pemerintah lebih berorientasi pada target menjangkau sekitar 82 juta penerima manfaat. Akibatnya, berbagai kesiapan pendukung, mulai dari infrastruktur, sumber daya manusia, hingga sistem keamanan pangan, belum sepenuhnya siap ketika program mulai dijalankan.

Kondisi ini, menurutnya, terlihat dari munculnya sejumlah kasus keracunan makanan yang baru diikuti dengan pembenahan standar sanitasi dan higiene.”Targetnya memang demikian ambisius, tidak memedulikan proses atau kesiapan untuk mendukung penyelenggaraan itu,” ujarnya.

Selain kesiapan pelaksanaan, Sri juga menyoroti besarnya anggaran yang dialokasikan untuk MBG melalui pembentukan Badan Gizi Nasional (BGN). Menurutnya, kebijakan tersebut berdampak pada berkurangnya alokasi anggaran di kementerian maupun pemerintah daerah.

Ia menilai pemerintah seharusnya belajar dari pengalaman program penurunan stunting yang telah berjalan selama bertahun-tahun, alih-alih membangun sistem baru tanpa menjadikan praktik baik sebelumnya sebagai acuan. “Saya katakan “too much too soon”. Lesson learned dari program penurunan stunting seharusnya dijadikan acuan dalam perancangan MBG,” katanya.

Sri menjelaskan jika program penurunan stunting sebelumnya melibatkan berbagai kementerian sesuai tugas dan fungsinya sehingga intervensi dilakukan secara terkoordinasi. Hal ini mulai dari penyediaan sanitasi, edukasi gizi, hingga bantuan sosial untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap pangan bergizi. “Pendekatan tersebut lebih sistematis dibanding membentuk lembaga baru dengan kebutuhan anggaran yang besar,” katanya.

Menanggapi dugaan korupsi dalam penyelenggaraan MBG, Sri menilai persoalan itu tidak hanya berkaitan dengan individu, tetapi juga desain program yang berpotensi membuka peluang terjadinya penyimpangan. “Korupsi itu dipengaruhi oleh pelakunya atau orangnya, tapi bisa juga peluang korupsi itu dibuat karena desain dari program ini,” ujarnya.

Ia menilai skema MBG yang melibatkan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), yayasan, dan mitra pelaksana menciptakan rantai pengelolaan yang panjang sehingga membuka lebih banyak titik yang perlu diawasi. Menurutnya, semakin banyak perantara yang terlibat, semakin besar peluang munculnya praktik rente maupun kickback apabila pengawasan tidak berjalan optimal.

Karena itu, ia mengusulkan agar pemerintah mempertimbangkan mekanisme yang lebih sederhana, misalnya melalui kantin atau dapur sekolah yang telah berjalan sehingga rantai birokrasi dapat dipersingkat dan pengelolaan anggaran menjadi lebih mudah diawasi.

Selain tata kelola, Sri juga menekankan pentingnya evaluasi berbasis data. Menurut Sri, apabila tujuan utama MBG adalah meningkatkan status gizi, pemerintah perlu memiliki data awal mengenai kondisi gizi penerima manfaat sebelum program dijalankan.

“Kalau tujuannya meningkatkan status gizi, kondisi penerima manfaat harus diukur lebih dulu sebagai baseline. Dengan begitu, keberhasilan program bisa dievaluasi setelah berjalan,” ujarnya.

Melalui evaluasi itu, kata dia, pemerintah dapat mengetahui daerah yang berhasil maupun yang masih memerlukan perbaikan sehingga penyempurnaan program dilakukan berdasarkan bukti. Sri berharap evaluasi MBG tidak hanya berfokus pada banyaknya makanan yang dibagikan. Tapi juga pada efektivitas program dalam meningkatkan status gizi masyarakat sesuai tujuan awal program.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.