Kalau diminta menebak di mana tempat terkering di Bumi, mungkin sebagian besar dari kita akan menjawab Gurun Sahara di Afrika Utara, atau mungkin Atacama, gurun gersang di pesisir barat Amerika Selatan yang sering disebut sebagai “tempat paling mirip Mars di Bumi”. Jawaban itu tentu masuk akal, tapi keliru. Keduanya memang kering, tapi tempat terkering yang sesungguhnya bukan ada di sabuk panas katulistiwa, bukan di hamparan pasir yang membakar telapak kaki, melainkan di ujung paling selatan planet ini, di benua yang justru dikenal sebagai lautan es: Antartika. Di sana, tersembunyi di balik barisan pegunungan yang menjulang, terdapat tiga lembah yang sudah tidak mengenal hujan selama hampir dua juta tahun. Bukan dua ratus tahun. Bukan dua puluh ribu tahun. Dua juta tahun. Ketika leluhur kita masih hidup berpindah-pindah di savana Afrika, lembah-lembah ini sudah kering. Dan sampai hari ini, kondisinya nyaris tidak berubah. Anomali di Tengah Benua Es Antartika adalah benua terbesar kelima di Bumi, menutupi sekitar 14 juta kilometer persegi, dan hampir seluruh permukaannya tertutup lapisan es yang di beberapa titik mencapai ketebalan 4.800 meter. Es itu bukan sekadar hamparan tipis, melainkan lapisan raksasa yang telah terakumulasi selama jutaan tahun. Maka wajar jika kita membayangkan Antartika sebagai tempat yang seragam: putih, beku, dan mati. Salah satu gletser yang mengapit McMurdo Dry Valleys — es ini berhenti tepat di tepi lembah, tidak pernah benar-benar masuk ke dalamnya. Di sinilah angin katabatik mengambil alih, menyublimasi setiap tetes kelembapan sebelum sempat menyentuh tanah. (Foto: U.S. Department of State/Public Domain) Kenyataannya tidak sesederhana itu. Di…This article was originally published on Mongabay
Gurun Terkering di Bumi Di Tengah Benua Es, Sudah Kering Selama 2 Juta Tahun
Gurun Terkering di Bumi Di Tengah Benua Es, Sudah Kering Selama 2 Juta Tahun





Comments are closed.