Deretan kain ecoprint motif dedaunan tergantung rapi di sebuah rumah kayu di Kampung Citalahab, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Di antara corak tersebut, tampak siluet owa jawa tercetak samar pada selembar kain putih. Ini penanda bahwa hutan tak hanya sekedar latar kehidupan warga, namun juga sumber inspirasi yang dijaga bersama. Pagi itu, rumah yang jadi basecamp Ambu Halimun, dipenuhi aktivitas. Ambu Halimun merupakan kelompok pemberdayaan perempuan yang membuat kain ramah lingkungan dalam upaya menjaga kelestarian hutan Halimun dan kehidupan Hylobates moloch. Mirna Maharani (30), anggota Ambu Halimun, mengatakan dedaunan yang dulu dianggap gulma kini memiliki nilai penting. Tak hanya untuk kerajinan, tetapi juga membuka cara pandang baru tentang hubungan manusia dengan alam. “Kalau ambil daun ya secukupnya saja. Seperlunya,” ujar ibu dua anak ini, Senin (11/5/2026). Kelompok ini terbentuk tahun 2020. Tujuannya sederhana, memberi ruang aktivitas bagi ibu rumah tangga di sekitar hutan Halimun. Warga menyadari lingkungan sekitar mereka kaya tumbuhan yang bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan motif alami pada kain. Hasilnya, mereka menemukan lebih dari 100 spesies tumbuhan yang bisa digunakan untuk ecoprint. Sebagian tanaman, kini sudah dibudidayakan sendiri oleh Ambu Halimun di kebun kecil mereka. Ambu Halimun merupakan kelompok pemberdayaan perempuan yang membuat kain ramah lingkungan/ecoprint di di Kampung Citalahab, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia Cara pandang terhadap alam Bagi Mirna dan perempuan lain di Citalahab, perubahan terbesar bukan hanya soal penghasilan tambahan. Ada perubahan cara pandang mereka terhadap alam. Tanaman yang dulunya dianggap liar dan mengganggu, kini dirawat dan ditanam kembali. “Sekarang kami pelihara.” Pengambilan daun…This article was originally published on Mongabay
Ambu Halimun, Menjaga Habitat Owa Jawa dengan Ecoprint
Ambu Halimun, Menjaga Habitat Owa Jawa dengan Ecoprint





Comments are closed.