Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf meluncurkan Saadatuna sebagai syarah atas Mabadi Khaira Ummah di Jakarta pada Rabu (5/8/2026).
Mabadi Khaira Ummah merupakan prinsip dasar pembentukan umat terbaik yang digagas oleh KH Mahfudz Shiddiq. Ada lima hal pokok yang menjadi prinsip Mabadi Khaira Ummah.
Pertama ash – shidqu atau kejujuran. Menurut Gus Yahya, prinsip ini tidak memutarbalikkan fakta. Rantai yang panjang bukan masalah, tetapi rantai yang gelap itulah masalahnya.
“Sebelum segala sesuatunya, nomor satu itu kejujuran. Makanya KH Mahfudz Shiddiq itu ditempatkan sebagai – Shidqu itu nomor satu paling dulu,” katanya.
Sebab, pergaulan tanpa kejujuran maka hubungan apapun akan rusak, apalagi kalau tidak jujur. Pasar kalau penuh ketidakjujuran pasti jadi sarang kejahatan. Teknologi tidak bisa memperbaiki pasar yang tidak jujur.
“Yang bisa kita cobakan adalah bagaimana supaya yang jujur beneran tetap bisa menang walaupun kejujurannya tidak terlihat. Karena kadang ya, tukang tipu itu kelihatannya jujur juga begitu. Jadi bagaimana supaya yang jujur beneran ini loh ini tetap bisa menang. Itu yang harus kita pikirkan caranya,” jelasnya.
Karenanya, ash – Shidqu itu jujur dan terbuka dalam bertindak agar yang benar tak lagi kalah karena tak terlihat.
Kedua, al – amanah wal wafa bil ahdi (kepercayaan dan memenuhi janji). Amanah, menurutnya, merupakan titipan, bukan untuk dimiliki, melainkan dijaga. Ia menegaskan bahwa amanah tidak dijual, tidak juga dipinjamkan.
“Data warga ini amanah, bukan milik pengurus. Jadi ndak bisa diperjualbelikan. Ndak bisa dipinjamkan untuk politik atau apa. Dan itu harus ada jaminan,” katanya.
Oleh karena itu, PBNU membangun teknologi yang menjamin keamanan data warganya, bahwa data warga ini hanya bisa dimanfaatkan untuk peruntukannya, yaitu untuk kemaslahatan mereka. Teknologi akan menyiapkan bahwa amanat atas data itu bisa ditagih.
“Artinya apa? Warga bisa mengecek bahwa datanya selamat. Dan saya pribadi siap mempertanggungjawabkan di hadapan warga, di hadapan pengurus, di hadapan Allah swt,” katanya.
Ketiga, al – adalah atau keadilan. Ia menyebut, kerap kali yang jauh selalu terlambat. Keadilan itu menempatkan sesuatu pada tempatnya sehingga semua pengurus dan warga di mana saja mendapatkan kesempatan dan fasilitas yang sama pada saat yang sama.
“Apa yang didapat dari cabang di Jakarta juga harus bisa didapat dari mengomel di NTT misalnya atau MWC di Papua,” katanya.
“Yang sering terjadi adalah bahwa daerah-daerah di pinggir ini, yang jauh dari ibukota itu, sering terlambat. Yang dekat dengan ibukota bisa dapat duluan atau yang di Jawa dapat duluan. Yang di Indonesia timur, di pulau-pulau yang jauh terlambat,” lanjutnya.
Oleh karena itu, Gus Yahya menegaskan perlunya membangun cara agar tercipta keadilan sehingga semua bisa mendapatkan kesempatan dan fasilitas pada saat yang sama.
Keempat, al – Istiqamah (konsisten). Ia menegaskan bahwa yang baik tidak harus diselesaikan di tangan satu orang, tidak boleh terputus pada satu periode.
Suatu periode, menurutnya, meletakkan fondasi. Periode berikutnya melanjutkan bangunan. Istiqamah berarti sambung-menyambung antar periode seperti satu bangunan.
“Yang diharapkan istiqamah itu bukan hanya kita sebagai pribadi, jamiyah ini juga harus istiqamah,” ujarnya.
Ia menyampaikan bahwa hal yang menjadi masalah adalah dalam periode lima tahun ini fondasi baru. Menurutnya, jika belum selesai dan ditinggal akan berbahaya, bisa manngkrak atau nanti bisa rusak. Sebab, selanjutnya tidak memahami desain secara keseluruhan sehingga bangunan yang dihasilkan menjadi rawan.
“Makanya kita harus berusaha untuk mendapat kesempatan melanjutkan pekerjaan ini sampai nanti jadi bangunan sehingga penerus kita nanti tinggal menggunakan bangunan itu untuk kemaslahatan jamiyah,” ujarnya.
Prinsip terakhir adalah taawun , yakni tolong-menolong dalam kebaikan. Menurutnya, sejak dulu, jika ada yang membutuhkan, tangan selalu ringan diulurkan sebagai watak, bukan hanya program.
“Sejak dulu kalau ada tetangga butuh kita datang. Itu bukan program, itu watak namanya,” katanya.
Hal yang bukan berubah niatnya, tetapi kecepatannya. Taawun itu bukan program organisasi, tetapi nilai dasar ajarannya Kanjeng Nabi yang dilakukan oleh organisasi.
“Yang perlu dilakukan oleh organisasi ini adalah mencari cara dan membangun satu alat agar membutuhkan bantuan dan yang bisa membantu tersambung satu sama lain sehingga mereka bisa bertemu hari itu juga, tidak menunggu bulan depan atau kapan. Itu yang kita coba,” katanya.
“ Taawun tolong-menolong dalam kebaikan untuk saling menjaga dan menguatkan,” tutupnya.



Comments are closed.