Banjarnegara, NU Online
Budayawan-sastrawan sekaligus penulis nasional Ahmad Tohari mengajak generasi muda untuk menjadikan menulis sebagai bagian dari proses mengembangkan diri dan membangun peradaban bangsa.
Pesan itu disampaikannya saat menghadiri acara Meet and Greet Budayawan Nasional Ahmad Tohari: Ngobrol Santai Menumbuhkan Minat Literasi Generasi Muda di SMAN 1 Sigaluh, Banjarnegara, Jawa Tengah, Kamis (16/7/2026).
Di hadapan ratusan siswa, penulis novel Ronggeng Dukuh Paruk itu menegaskan bahwa kemajuan suatu bangsa sangat ditentukan oleh tingkat literasi masyarakatnya.
“Menulis, merupakan aktivitas strategis sebagai sarana dalam rangka mengembangkan diri yang utama. Orang yang menulis, biasanya kepandaiannya di atas rata-rata. Karenanya, maju tidaknya suatu bangsa ditentukan oleh literasi masyarakatnya,” ujar Ahmad Tohari.
Tohari juga membagikan pengalaman pribadinya dalam menekuni dunia kepenulisan. Menurutnya, membaca karya penulis lain merupakan langkah penting sebelum mulai menghasilkan tulisan sendiri.
“Kalau saya, menulis saya anggap cara berzikir saya. Maka saya khusyuk setiap kali menulis,’ kata dia.
Tohari juga memberikan tips untuk memulai menulis. Pada mulanya seorang calon penulis dapat mencontoh dari penulis lain yang sudah jadi.
“Awal menulis, mencontek dahulu tidak apa-apa, karena pasti kita butuh inspirasi dari bahan bacaan penulis-penulis terdahulu. Teruslah kembangkan literasi dengan membaca dan menulis. Baca sebanyak-banyaknya karya orang lain terlebih dahulu. Saya juga begitu, termasuk membaca buku-buku terjemahan penulis asing. Baru pada tulisan kelima, tulisan saya dimuat Kompas,” kenangnya.
Dalam kesempatan tersebut, Ahmad Tohari turut mengutip ungkapan dalam bahasa Latin yang menyatakan bahwa seseorang akan dianggap “lahir” atau “ada” ketika mampu meninggalkan tulisan. Menurutnya, karya tulis juga dapat menjadi sarana memperkenalkan Indonesia kepada dunia.
Ia pun memberi motivasi kepada para siswa yang telah mulai berkarya sejak usia muda.
“Kalian lebih hebat dari saya karena sudah berkarya di usia semuda ini. Tapi jangan lupa teruslah untuk membaca tulisan penulis besar. Tri gatra bahasa harus dikuasiai. Wajib kuasai bahasa Indonesia, bahasa ibu dan bahasa Inggris sebagai bahasa internasional baik dalam lisan maupun tulisan,” pesan pria asal Desa Tinggar Jaya, Jatilawang, Banyumas ini di hadapan murid SMAN 1 Sigaluh.
Kehadiran Ahmad Tohari menjadi momen istimewa bagi keluarga besar SMAN 1 Sigaluh. Pasalnya, para siswa baru saja menerbitkan buku melalui program Satu Kelas Satu Buku (SKSB) yang menjadi salah satu program unggulan literasi sekolah.
Kepala SMAN 1 Sigaluh, Linovia Karmelita, S.Sos., M.Pd., menjelaskan bahwa gerakan literasi di sekolah tidak hanya melibatkan siswa, tetapi juga para guru dan tenaga kependidikan. Dari program tersebut, berhasil diterbitkan 24 buku karya siswa sesuai jumlah kelas, serta satu buku karya guru dan karyawan.
“Semoga ini langkah awal yang baik untuk menumbuhkan semangat literasi di kalangan murid dan guru. Ke depan akan kami terus kembangkan kegiatan literasi seperti ini,” ujar Linovia.
Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Disarpus) Kabupaten Banjarnegara, Arief Rahman mengapresiasi langkah SMAN 1 Sigaluh dalam membangun budaya literasi di lingkungan sekolah. Ia berharap karya-karya yang telah diterbitkan dapat menjadi bagian dari koleksi Perpustakaan Daerah Banjarnegara.
“Kami berharap 25 karya buku nantinya bisa juga dikirim ke Perpusda Banjarnegara, di sana akan kami pajang bersama buku-buku lain karya penulis Banjarnegara. Program Satu Kelas Satu buku ini sebuah program yang sangat baik dari SMAN 1 Sigaluh,” pungkas Arief pada kegiatan yang menjadi salah satu rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun ke-29 SMAN Sigaluh tersebut.




Comments are closed.