Mon,24 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. Menko PMK: Pesantren Punya Peran Strategis Wujudkan Ruang Aman bagi Anak

Menko PMK: Pesantren Punya Peran Strategis Wujudkan Ruang Aman bagi Anak

menko-pmk:-pesantren-punya-peran-strategis-wujudkan-ruang-aman-bagi-anak
Menko PMK: Pesantren Punya Peran Strategis Wujudkan Ruang Aman bagi Anak
service

Yogyakarta, NU Online

Upaya membangun lingkungan pesantren yang aman, nyaman, dan bebas dari segala bentuk kekerasan terus diperkuat melalui Gerakan Nasional Pesantrenku Aman yang diinisiasi Rabithah Ma’ahid Islamiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (RMI PBNU).

Gerakan tersebut bersinergi dengan Gerakan Nasional Ruang Aman dan Nyaman untuk Anak (Gernas RANA) yang baru diluncurkan pemerintah di bawah koordinasi Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK). Sinergi itu mengemuka dalam rangkaian kegiatan Training of Trainers (ToT) dan Training of Facilitators (ToF) Gerakan Nasional Pesantrenku Aman di Yogyakarta.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Pratikno, menegaskan bahwa pesantren memiliki modal sosial yang besar untuk menjadi garda terdepan dalam menciptakan lingkungan yang aman bagi anak.

Menurutnya, Nahdlatul Ulama merupakan organisasi yang mengakar hingga tingkat desa dan memiliki komitmen kuat terhadap pembangunan bangsa.

“NU terlalu penting untuk tidak diberdayakan dan terlalu penting untuk dibiarkan tertinggal,” tegasnya.

Pratikno mengisahkan kedekatannya dengan lingkungan NU sejak lama, termasuk keterlibatannya dalam mendampingi pengembangan sejumlah perguruan tinggi Nahdlatul Ulama, seperti Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Yogyakarta dan UNU Giri Bojonegoro.

Menurutnya, penguatan lembaga pendidikan NU bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan investasi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Upaya tersebut perlu ditopang dengan tata kelola yang baik, perencanaan yang matang, infrastruktur yang memadai, serta kolaborasi dengan pemerintah, lembaga internasional, dan sektor swasta.

Lebih lanjut, Pratikno mengatakan pembangunan manusia tidak cukup diukur dari capaian akademik. Pemerintah saat ini mengusung visi mewujudkan sumber daya manusia yang unggul dan tangguh, yakni manusia yang sehat secara fisik, mental, sosial, spiritual, serta memiliki ketahanan ekonomi.

“Tantangan terbesar kita hari ini bukan hanya kesehatan fisik, tetapi kesehatan mental,” ujarnya.

Ia menyoroti meningkatnya kasus depresi, gangguan kecemasan, hingga bunuh diri pada anak dan remaja. Menurutnya, kondisi tersebut turut dipengaruhi tingginya penggunaan gawai. Berdasarkan data nasional, rata-rata masyarakat Indonesia menghabiskan sekitar 7 jam 40 menit setiap hari di depan layar.

Dalam konteks tersebut, Pratikno menilai pesantren memiliki keunggulan melalui kehidupan komunal, kedekatan santri dengan pengasuh, budaya pendampingan yang intensif, serta pembatasan penggunaan gawai. Seluruhnya menjadi modal penting untuk membentuk generasi yang sehat, tangguh, dan berkarakter.

“Lingkungan pendidikan harus menjadi ruang yang aman dari kekerasan fisik, psikis, maupun seksual. Tindakan mempermalukan anak di depan umum, memberi cap negatif, mengejek, atau mengancam juga merupakan bentuk kekerasan psikis yang dapat meninggalkan trauma jangka panjang,” tegasnya.

Karena itu, pemerintah mengembangkan Gernas RANA sebagai gerakan nasional untuk menciptakan lingkungan yang aman bagi anak di keluarga, masyarakat, dan seluruh satuan pendidikan.

Pratikno menilai semangat tersebut sejalan dengan Gerakan Nasional Pesantrenku Aman yang dikembangkan RMI PBNU. Menurutnya, pesantren memiliki potensi besar menjadi contoh praktik baik dalam membangun sistem perlindungan anak berbasis nilai-nilai keislaman, kepesantrenan, dan pengasuhan yang humanis.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.