Ditulis oleh Desty Luthfiani •
KABARBURSA.COM – Kenaikan harga minyak dunia di tengah memanasnya tensi geopolitik global dinilai dapat membuka peluang baru bagi aktivitas sektor hulu migas di Indonesia. Emiten jasa energi PT Elnusa Tbk (ELSA) melihat kondisi tersebut berpotensi meningkatkan kegiatan eksplorasi dan produksi minyak dan gas.
Direktur Keuangan Elnusa Nelwin Aldriansyah mengatakan lonjakan harga minyak dapat membuat sejumlah lapangan migas yang sebelumnya dianggap kurang ekonomis menjadi lebih layak untuk dikembangkan.
Menurutnya, ketika harga minyak berada di bawah 60 dolar AS per barel, beberapa proyek eksplorasi belum cukup menarik untuk dijalankan. Namun dengan harga minyak yang lebih tinggi, proyek-proyek tersebut mulai menunjukkan potensi ekonomi yang lebih baik sehingga aktivitas lifting berpotensi meningkat.
“Harapan kami dengan meningkatnya kegiatan eksploitasi dan eksplorasi, aktivitas drilling bisa meningkat dan ini berimbas positif terhadap kegiatan usaha Elnusa,” ujarnya di Bimasena, Jakarta Selatan dikutip Jumat, 6 Maret 2026.
Nelwin menjelaskan biaya produksi atau lifting minyak di Indonesia relatif lebih tinggi dibandingkan dengan negara-negara di kawasan Timur Tengah. Meski demikian, apabila harga minyak tetap bertahan pada level tinggi dalam jangka waktu cukup lama, sejumlah lapangan marginal di dalam negeri berpeluang kembali dikembangkan.
Dari sisi operasional, Elnusa memiliki portofolio layanan hulu migas yang cukup lengkap, mulai dari geoscience dan reservoir services, drilling dan workover services, hingga well intervention services yang mendukung aktivitas eksplorasi hingga produksi migas.
Perusahaan juga didukung oleh berbagai fasilitas operasional seperti unit coiled tubing, cementing units, wireline logging, serta layanan well testing yang menjadi bagian penting dalam proses pengeboran dan produksi minyak dan gas.
Sepanjang 2025, Elnusa mencatat berbagai aktivitas operasional di sektor hulu migas, di antaranya 1.298 pekerjaan wireline logging, pengujian terhadap lebih dari 16.000 sumur, serta kegiatan pengeboran menggunakan sembilan sumur modular rig.
Dari sisi bisnis, perseroan juga memiliki portofolio kontrak yang cukup kuat. Hingga 2026, Elnusa mencatat carry forward kontrak pada segmen hulu migas terintegrasi sebesar Rp11,9 triliun yang mencerminkan masih kuatnya permintaan layanan jasa migas.
Nelwin juga menyoroti dinamika geopolitik global, termasuk potensi gangguan distribusi minyak di jalur strategis seperti Selat Hormuz yang sempat memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi dunia.
Menurutnya kondisi tersebut menjadi pengingat penting bagi Indonesia untuk memperkuat ketahanan energi nasional, terutama mengingat pemerintah sebelumnya menyatakan cadangan bahan bakar minyak (BBM) nasional diperkirakan hanya cukup untuk sekitar 20 hari.
“Ini tentu menjadi tantangan bagi ketahanan energi Indonesia. Harapan kami kondisi ini bisa mendorong adanya insentif yang lebih tinggi dari pemerintah untuk meningkatkan lifting minyak domestik,” tuturnya.
Ia menambahkan peningkatan produksi minyak nasional juga sejalan dengan target pemerintah untuk mencapai lifting sebesar 1 juta barel per hari dalam beberapa tahun mendatang. Dengan meningkatnya produksi domestik, ketergantungan Indonesia terhadap impor minyak mentah diharapkan dapat berkurang.
“Kegiatan tersebut tentunya juga berpotensi memberikan dampak positif bagi kegiatan usaha Elnusa,” ujarnya.(*)





Comments are closed.