Wed,9 September 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. #Aswaja
  3. Hari Aksara Internasional, Mendikdasmen: Literasi Tak Lagi Sekadar Bisa Baca dan Tulis

Hari Aksara Internasional, Mendikdasmen: Literasi Tak Lagi Sekadar Bisa Baca dan Tulis

hari-aksara-internasional,-mendikdasmen:-literasi-tak-lagi-sekadar-bisa-baca-dan-tulis
Hari Aksara Internasional, Mendikdasmen: Literasi Tak Lagi Sekadar Bisa Baca dan Tulis
service

Jakarta, NU Online

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu`ti mengungkapkan persoalan literasi masih menjadi tantangan besar dunia. Ia mengungkapkan data UNESCO yang menyebutkan empat dari 10 siswa di dunia belum mencapai tingkat kemahiran minimum dalam membaca pada akhir jenjang sekolah dasar (SD).

“Angka ini bukan statistik belaka, ini adalah pengingat bagi kita bahwa masih banyak saudara kita belum mendapatkan akses terhadap hak dasar mereka (hak memahami dan berkembang),” ujarnya dalam Peringatan Hari Aksara Internasional 2026 yang ditayangkan secara daring melalui YouTube Kemendikdasmen, Selasa (8/9/2026).

Mu’ti mengatakan, peringatan Hari Aksara Internasional pada masa kini tidak lagi hanya dimaknai sebagai kemampuan membaca dan menulis.

“Literasi hari ini memiliki makna makin luas, tidak lagi hanya kemampuan membaca dan menulis. Di tengah perubahan sosial, perkembangan teknologi digital dan AI, masyarakat dituntut mampu memahami informasi secara kritis,” kata Mendikdasmen.

Perkembangan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI), teknologi digital, krisis lingkungan, serta perubahan sosial kemampuan ini harus dimiliki masyarakat.

“Literasi hari ini adalah tentang kemampuan memahami dunia, realitas sosial, lingkungan dan ekonomi serta melakukan tindakan untuk dunia lebih baik lagi,” tuturnya.

Sementara itu, Dirjen Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Tatang Muttaqin mengatakan tantangan literasi saat ini semakin luas. Menurutnya, masyarakat harus mampu memilah informasi yang benar dan menghindari informasi yang menyesatkan.

“Literasi bukan sekadar kemampuan membaca huruf, tetapi kemampuan membaca kehidupan. Kita harus mampu membaca informasi, berpikir kritis, dan menggunakan teknologi secara bijak,” kata Tatang.

Ia menilai keberhasilan literasi tidak cukup dilihat dari kemampuan seseorang membaca dan menulis. Literasi harus memberikan dampak nyata terhadap kemandirian, kepercayaan diri, dan kualitas kehidupan masyarakat.

“Mari jadikan September 2026 sebagai momentum, dari membaca menjadi memahami, dari memahami menjadi peduli. Kemudian dari peduli menjadi bergerak, dan dari gerakan itulah lahir kesejahteraan,”ajaknya.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.