
Lukisan The Scream oleh Edvard Munch, 1893. Sumber: Wikimedia Commons CC-BY-2.0.
Hari ini, 27 Agustus, dunia mengenang salah satu bencana alam paling dahsyat dalam sejarah. Pada 1883, Gunung Krakatau di Selat Sunda mencapai puncak letusannya dan mengubah lanskap, iklim, serta kehidupan manusia di berbagai penjuru bumi.
Dentumannya terdengar ribuan kilometer jauhnya, sementara langit berubah warna selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.
Pagi yang Mengubah Sejarah
Pada 27 Agustus 1883, setelah aktivitas vulkanik yang telah meningkat sejak beberapa bulan sebelumnya, Krakatau memasuki fase paling katastrofik.
Serangkaian ledakan besar menghancurkan sebagian besar tubuh gunung dan menyebabkan bagian utara pulau runtuh ke laut. Material vulkanik terlontar sangat tinggi ke atmosfer, sementara tsunami besar menerjang pesisir Jawa dan Sumatra.
Bencana tersebut menewaskan sekitar 36.000 orang, sebagian besar akibat tsunami yang menyapu ratusan permukiman pesisir. Letusan juga menghancurkan sekitar 70 persen Pulau Krakatau beserta wilayah kepulauannya.
Namun, salah satu aspek paling luar biasa dari peristiwa ini bukan hanya kehancuran di sekitar Selat Sunda. Krakatau menghasilkan suara yang kemudian dikenang sebagai suara ledakan paling keras yang pernah tercatat dalam sejarah manusia.
Terdengar di Berbagai Belahan Dunia
Ledakan terbesar Krakatau menghasilkan gelombang tekanan atmosfer yang luar biasa. Catatan sejarah menunjukkan suara ledakan dapat terdengar hingga sekitar 4.600–5.000 kilometer dari pusat letusan.
Orang-orang di tempat yang sangat jauh melaporkan mendengar suara seperti tembakan meriam atau ledakan besar, meskipun mereka berada ribuan kilometer dari gunung.
Menurut Royal Society, ledakan kolosal tersebut menghasilkan gelombang tekanan dengan intensitas suara yang diperkirakan mencapai sekitar 180 desibel dan dapat terdengar hingga 5.000 kilometer.
Gelombang tekanannya bahkan para pelaut yang berada jauh dari Krakatau mengalami kerusakan pendengaran.
Karena skala dan jangkauannya yang luar biasa, letusan Krakatau sering disebut sebagai suara paling keras yang pernah terdengar atau tercatat dalam sejarah modern manusia. Menurut NOAA, letusan terakhir Krakatau terdengar di wilayah yang mencakup lebih dari 10 persen permukaan bumi.
Langit Merah Setelah Krakatau
Dampak Krakatau tidak berhenti ketika ledakan terakhir berakhir. Letusan menyemburkan sejumlah besar material dan sulfur dioksida ke lapisan atmosfer tinggi.
Senyawa sulfur tersebut kemudian membentuk aerosol yang dapat bertahan di stratosfer dan memengaruhi penyebaran cahaya matahari. Akibatnya, berbagai wilayah di dunia mengalami matahari terbenam dengan warna merah, jingga, dan ungu yang tidak biasa selama berbulan-bulan.
Fenomena tersebut kemudian dikenal luas sebagai “Krakatoa sunsets”. Seniman Inggris William Ascroft bahkan membuat serangkaian gambar langit berwarna dramatis setelah letusan yang kemudian menjadi bagian dari dokumentasi ilmiah Royal Society mengenai Krakatau.
Efek atmosfernya juga memiliki konsekuensi iklim. Abu dan aerosol vulkanik menyebar ke wilayah yang sangat luas, memengaruhi jumlah radiasi matahari yang mencapai permukaan bumi.
NOAA mencatat suhu global turun hingga sekitar 0,5 derajat Celsius pada tahun pertama setelah letusan dan baru kembali normal beberapa tahun kemudian.
Dipercaya Menginspirasi “The Scream”
Lebih dari satu abad kemudian, warna langit pasca-Krakatau dikaitkan dengan salah satu karya seni paling terkenal di dunia, “The Scream” karya seniman Norwegia Edvard Munch. Lukisan tersebut menampilkan langit merah-jingga bergelombang di atas lanskap yang terasa ganjil dan mencekam.
Teori yang menghubungkan Krakatau dengan “The Scream” pertama kali mendapat perhatian dari penelitian yang mengamati kemungkinan bahwa warna merah dramatis yang jadi latar belakang dalam karya Munch tersebut merupakan “Krakatoa sunsets”.
Penelitian tersebut berargumen bahwa efek letusan 1883 masih dapat menghasilkan langit spektakuler di berbagai belahan dunia ketika Munch masih muda.
Hubungan ini semakin menarik karena Munch sendiri pernah menulis tentang pengalamannya melihat langit berubah menjadi merah darah dan merasakan seolah-olah sebuah jeritan besar menembus alam.
Meski demikian, para ilmuwan dan sejarawan seni masih memperdebatkannya. Sebuah penelitian meteorologi bahkan menemukan bahwa pola warna dan bentuk langit dalam lukisan tersebut lebih mirip dengan fenomena awan nacreous, atau “mother-of-pearl clouds”, yang dapat terlihat di Norwegia.
Karena itu, hubungan Krakatau dan “The Scream” masih belum terbukti secara definitif, tapi sudah menjadi teori yang dipercaya secara cukup luas.
Warisan Sebuah Letusan Legendaris
Letusan Krakatau pada 27 Agustus 1883 memperlihatkan bagaimana satu letusan vulkanik dapat meninggalkan jejak jauh melampaui lokasi terjadinya bencana.
Letusan Krakatau menghancurkan pulau, memicu tsunami mematikan, menghasilkan suara yang terdengar hingga ribuan kilometer, mengubah warna langit dunia, dan mungkin meninggalkan jejak dalam salah satu karya seni paling ikonik dalam sejarah.
Krakatau adalah pengingat bahwa kekuatan alam yang luar biasa dapat menjangkau hampir setiap aspek kehidupan manusia.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News
Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Daniel Sumarno lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Daniel Sumarno.
Tim Editor





Comments are closed.