Tue,28 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Indonesiana
  3. I Made Andi Arsana Peringatkan Ancaman Bencana Demografi di Indonesia

I Made Andi Arsana Peringatkan Ancaman Bencana Demografi di Indonesia

i-made-andi-arsana-peringatkan-ancaman-bencana-demografi-di-indonesia
I Made Andi Arsana Peringatkan Ancaman Bencana Demografi di Indonesia
service

18 Januari 2026 21.00 WIB • 2 menit

I Made Andi Arsana Peringatkan Ancaman Bencana Demografi di Indonesia


I Made Andi Arsana adalah seorang akademisi, pakar hukum laut internasional, dan tokoh pendidikan asal Indonesia yang tengah dikenal terutama melalui platform media sosial. Sosoknya kerap muncul dalam sejumlah konten yang membahas isu pendidikan sampai politik luar negeri.

Pria bergelar doktor ini telah menempuh pendidikan tinggi prestisiusnya. Dimulai dari mengambil gelar sarjana Teknik Geodisi di Universitas Gadjah Mada (UGM), lalu dilanjutkannya di University of New South Wales dan University of Wollongong, Australia.

Sosok yang kerap disapa Bli Andi ini kini dikenal pula sebagai dosen di jurusan Teknik Geodisi UGM. Selaku dosen, ia tentu paham bagaimana mahasiswa mesti bersikap. Menurutnya mahasiswa adalah kelompok masyarakat merdeka yang harus berani menyuarakan kegelisahannya terhadap ketidakadilan.

Mahasiswa Itu Merdeka

“Mahasiswa adalah kelompok masyarakat yang paling merdeka. Intelektualitas dia cukup memadai, idealismenya harus utuh, tidak tergerus oleh segala macam. Kepentingannya enggak banyak. Maka menurut saya sangat baik kalau mahasiswa itu peduli pada sosial politik,” kata Bli Andi kepada Good News From Indonesia dalam segmen GoodTalk.

Dari kemerdekaan itu maka timbulah aksi turun ke jalan. Andi sendiri mewajarkan apa bila mahasiswa turun ke jalan untuk menggelar unjuk rasa kepada pihak yang ingin diprotes. Sebab ada masanya ia melakukan hal serupa semasa menjadi mahasiswa beberapa puluhan tahun lalu.

Akan tetapi, Andi tidak bisa setuju dengan anarkisme yang lahir dari aksi turun ke jalan tersebut. Ia merasa kebisingan dari unjuk rasa adalah keniscayaan yang harus ditonjolkan agar suara-suara aspirasi bisa terdengar kepada pihak yang diprotes.

“Gangguan itu memang harus ada di dalam sebuah aktivisme. Cuma gangguan-gangguan seperti apa itu kita bisa bicarakan seperti yang bilang tadi. Jangann merusak sesuatu yang memang berguna buat publik, tapi membuat bising, membuat orang menjadi tidak nyaman – dalam arti pemerintah atau siapapun yang kita lagi tuju. Itu bagian dari perjuangan. I say no to merusak public facilities. Tapi bahwa demo dan gerakan itu pasti menimbulkan kebisingan, itu keniscayaan,” ucapnya.

Hati-hati di Era Teknologi

Selain metode belajar, Bli Andi juga membahas pandangannya tentang masa depan dunia pendidikan Indonesia. Ia meyakini dukungan pemerintah melalui beasiswa pada saat ini akan memengaruhi pertukaran ilmu pengetahuan antarakademisi sehingga riset berkualitas bisa tercipta.

“Karena nanti dengan beasiswa itu tadi berarti dosen-dosen dan penggerak pendidikan harusnya adalah orang-orang yang tidak hanya pintar tapi well exposed oleh dunia luar, sehingga cara belajar, pendekatan riset segala macam semestinya jauh lebih baik,” ujar Andi.

Namun, beasiswa tidak cukup membuat dunia pendidikan Indonesia mumpuni. Pasalnya menurut Andi akses pendidikan belum merata belum lagi ditambah adanya pertambahan penduduk yang menghadirkan ketimpangan. Dari situ, bonus demografi yang diidamkan pemerintah Indonesia pada tahun 2030-an ditakutkan oleh Andi justru berubah menjadi bencana demografi.

“Kalau proporsi orang yang memiliki pendidikan cukup dengan yang mungkin kurang pendidikan itu akan makin lebar gapnya, atau makin buruk proporsinya. Kalau proporsi makin buruk apa yang terjadi? Yang terjadi bonus demografi yang kita idam-idamkan mungkin enggak tercapai. Jadi instead of bonus demography atau demographical bonus, kita mungkin akan menghadapi demographic disasters. Secara jumlah banyak memang (usia) muda, tapi muda dengan kapasitas yang tidak seperti seharusnya,” kata Andi yang berharap hal itu tidak terjadi.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dimas Wahyu Indrajaya lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dimas Wahyu Indrajaya.

Tim Editorarrow

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.