Mubadalah.id – Tegar merupakan film drama Indonesia tahun 2022 yang disutradarai Anggi Frisca dengan naskah yang juga ditulis oleh Anggi bersama Alim Sudio. Pemeran utama dalam film ini merupakan aktor cilik pendatang baru yang merupakan penyandang disabilitas, M. Aldifi Tegarajasa. Selain itu, terdapat aktor senior seperti Deddy Mizwar yang berperan sebagai kakeknya Tegar dan Sha Ine Febriyanti sebagai ibunya Tegar.
Film Tegar putar perdana di Festival Film Internasional BaliMakarya pada 17 Oktober 2022. Rencana tayang film ini di bioskop Indonesia pada 17 November 2022, tetapi mundur menjadi seminggu setelahnya, yakni pada tanggal 24 November. Aktor Tegar juga mendapatkan penghargaan sebagai aktor terbaik di BaliMakarya Film Festival 2022.
Selain aktor utamanya seorang disabilitas, terdapat beberapa aktor dan kru di balik layar film Tegar ini yang juga disabilitas. Om Anton, penyanyi yang ikut menjadi pemeran di film Tegar dan juga seorang disabilitas daksa. Kang Wawa, seorang mekanik yang memodifikasi motor untuk film Tegar dan beliau disabilitas daksa.
Lalu ada Kak Ibe Ramandhika, seorang photographer di belakang layar film Tegar yang merupakan seorang autis. Kang Asep Sumpena, juru parkir dan salah satu aktor di film ini yang merupakan disabilitas daksa juga. Bang Ach Zulkarnain, photographer di film ini yang merupakan disabilitas daksa dan sekarang sudah meninggal dunia.
Original soundtrack (OST) film Tegar yang berjudul “Berani Bermimpi” juga melibatkan seniman dari beragam disabilitas. Mereka semua memiliki peran yang sangat penting, terutama di film ini. Yang mana hal ini menunjukkan bahwa semua berhak berkarya dan keterbatasan bukan menjadi halangan.
Bukan Sekadar Film
Film Tegar bukanlah sekadar tontonan semata. Film ini merupakan cerminan realitas kehidupan penyandang disabilitas di Indonesia juga. Lewat sosok Tegar, seorang anak dengan kondisi disabilitas, penonton diajak masuk ke dunia yang sering kali luput dari perhatian. Dunia yang penuh keterbatasan akses, tetapi juga mempunyai kekuatan, harapan, dan keteguhan.
Dalam banyak adegan, kita bisa melihat bagaimana tantangan bukan hanya datang dari kondisi fisiknya, tetapi juga dari lingkungan sosial. Mulai dari stigma, perlakuan berbeda, hingga sistem yang belum sepenuhnya ramah bagi penyandang disabilitas.
Di sinilah film ini menyentuh isu yang lebih luas terkait inklusivitas. Dalam kehidupan nyata, persoalan disabilitas sering kali bukan terletak pada individu, melainkan pada lingkungan yang tidak menyediakan ruang yang adil.
Banyak penyandang disabilitas sebenarnya mampu berkontribusi secara aktif dalam masyarakat, termasuk dalam dunia pendidikan. Namun, akses yang terbatas, minimnya fasilitas yang ramah disabilitas, serta stigma sosial membuat peluang tersebut menjadi tidak merata. Banyak fasilitas publik yang belum aksesibel, hingga pandangan masyarakat yang masih memandang disabilitas dengan lensa belas kasihan, bukan kesetaraan.
Dalam konteks ini, film Tegar seolah menjadi pengingat bahwa perubahan tidak cukup hanya pada individu penyandang disabilitas, tetapi juga pada sistem dan cara pandang masyarakat. Tegar menunjukkan bahwa keterbatasan tidak menghalangi seseorang untuk bermimpi.
Teringat salah satu scene kakek Tegar yang mengatakan, “Ia berhak punya cita-cita, berhak punya impian, berhak untuk belajar mandiri. Berikan haknya sebagai manusia”.
Pada akhirnya, kisah ini adalah kisah banyak orang di dunia nyata. Mereka yang terus berjuang bukan hanya melawan keterbatasan fisik, tetapi juga menghadapi dunia yang belum sepenuhnya siap menerima mereka.
Disabilitas Mempunyai Impian
Film ini hadir bukan untuk mengasihani disabilitas. Tapi untuk mengedukasi bahwa yang dibutuhkan disabilitas adalah ruang, kesempatan, dan dukungan. Dan support system yang paling dekat adalah keluarga.
Sebagaimana sutradara dari Film ini yang mengatakan bahwa, “Pengen banget menyuarakan bukan imajinasiku saja untuk membuat film ini. Tapi apa sih sebetulnya yang ingin disuarakan dari teman-teman difabel. Kebutuhan dari difabel ini sebetulnya salah satunya lebih ke support system.
Bagaimana orang tua bisa hadir dan punya peran accept terhadap anak difabel. Besar harapan pula film ini bisa memberi pandangan baru tentang apa yang terjadi dari anak-anak disabilitas. Dan bisa untuk semangat orang tua berdiskusi, berdialog lebih dekat dengan anaknya. Jangan lagi kita mengecilkan difabel. Ataupun stigma-stigma negatif itu jangan lagi hadir”.
Film ini mengedukasi bahwa kita tidak boleh membedaka-bedakan antar sesama. Kekurangan bukan suatu batasan untuk melakukan sesuatu yang orang lain lakukan. Selain itu, supaya stigma pada disabilitas bisa terkikis dan terwujudnya inklusi sosial. Yang membuat film ini terasa dekat adalah bagaimana Tegar tampil sebagai individu yang memiliki keinginan, mimpi, dan daya juang.
Sebagaimana Tegar yang mengatakan di kanal YouTube, “Aku Tegar, anak yang dilahirkan tidak punya tangan dan hanya mempunyai satu kaki yang lengkap. Kalau kamu pikir Tegar nggak punya mimpi, kamu salah, Tegar percaya kalau mimpi itu nggak ada batas”.
Hal ini secara halus menegaskan bahwa inklusivitas bukan sekadar konsep, tetapi kebutuhan nyata. Ketika Tegar berusaha menjalani kehidupan sehari-hari, kita melihat bagaimana dukungan keluarga dan lingkungan menjadi faktor penting. Ini mencerminkan kondisi di dunia nyata. Ketika akses terbuka dan dukungan diberikan, penyandang disabilitas dapat berkembang dan menunjukkan potensinya. []





Comments are closed.