Mubadalah.id – Fisher dan Brown, baik secara terpisah maupun bersama-sama, menganalisis hasil pindai otak lebih dari 3000 mahasiswi yang sedang “dimabuk cinta”, yang diambil ketika mereka sedang melihat gambar kekasih masing-masing.
Mereka mendapati bahwa mahasiswi yang menjadi subjek penelitian menunjukkan aktivitas lebih banyak di wilayah nukleus caudata (sebuah wilayah di otak yang terkait dengan ingatan, emosi, dan perhatian).
Lalu wilayah septum (disebut juga sebagai “pusat kenikmatan”). Dan korteks parietal posterior (yang memiliki andil dalam produksi berbagai citra mental dan penggalian ingatan).
Para mahasiswa yang menjadi subjek penelitian menunjukkan aktivitas lebih banyak di wilayah korteks visual dan wilayah proses visual pada otak. Termasuk satu wilayah yang bertanggung jawab atas terciptany3 rangsangan seksual. Bartels dan Zeki memiliki kesimpulan yang sama atas penelitian mereka tersebut.
Hasil pemindaian selanjutnya menggambarkan penelitian yang dilakukan oleh Dr. Brown dan menunjukkan letak cinta di otak dan mengapa pemikiran laki-laki dan perempuan tentang cinta sangatlah berbeda.
Hasil
Di bawah ini adalah hasil pemindaian otak laki-laki dan perempuan yang sedang memandangi gambar orang yang membuat mereka amat jatuh cinta.
Seperti yang dapat Anda lihat, laki-laki memiliki lebih sedikit wilayah yang bersinar daripada perempuan. Namun ketika wilayah tersebut Anda lihat dalam gambar berwarna. Maka wilayah pada otak laki-laki jauh lebih aktif daripada wilayah otak perempuan yang lebih besar namun tidak begitu aktif.
Perempuan bukan saja memiliki lebih banyak wilayah pada otak yang aktif, letaknya pun berbeda dengan yang laki-laki miliki. Bukti ini menunjukkan mengapa laki-laki dan perempuan memiliki sudut pandang yang sangat berbeda tentang hubungan percintaan.
Penelitian lain menunjukkan foto erotis kepada sejumlah orang. Namun Brown dan Fisher mendapati bahwa tidak ada satu pun aktivitas “jatuh cinta” yang terlihat pada hasil pindai tersebut.
Seperti yang telah kita jelaskan sebelumnya, mereka mendapati adanya aktivitas di wilayah hipotalamus. Yaitu wilayah yang mengendalikan dorongan seperti lapar dan haus. Serta di wilayah amygdala yang memegang andil atas terciptanya perasaan terangsang.
Intinya, otak yang sedang jatuh cinta dan otak yang sedang dilanda nafsu seksual tidak terlihat sama karena masing-masing bekerja dengan mekanisme yang berbeda.
Singkatnya, ilmu pengetahuan berhasil menunjukkan bahwa proses penilaian lawan jenis pada tahap awal cinta romatis mereka lakukan dengan berbagai proses yang amat berbeda. Laki-laki menggunakan mata mereka sebagai alat utama untuk menilai perempuan yang memiliki potensi seksual.
Sementara perempuan menggunakan ingatannya untuk menilai karakteristik laki-laki yang ia anggap berpotensi sebagai pasangan jangka panjang. Sebab, nafsu seksual dan cinta terletak di lokasi yang berbeda pada otak, dan keduanya tidaklah sama. []
*)Sumber Tulisan: Buku why Men Want Sex And Women Need Love Karya Allan Pease dan Barbara Pease hlm 37-38





Comments are closed.