Sat,8 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Health
  3. Indonesia Wilayah Berisiko Virus Nipah, Begini Gambaran Situasinya

Indonesia Wilayah Berisiko Virus Nipah, Begini Gambaran Situasinya

indonesia-wilayah-berisiko-virus-nipah,-begini-gambaran-situasinya
Indonesia Wilayah Berisiko Virus Nipah, Begini Gambaran Situasinya
service

Kementerian Kesehatan telah mengeluarkan surat edaran (SE) tentang kewaspadaam terhadap penyakit virus Nipah. SE terbit sebagai upaya pemerintah mengantisipasi penularan virus yang telah menjangkiti sejumlah negara ini.

Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan, Murti Utami menyatakan penyakit virus Nipah merupakan penyakit zoonotik emerging yang disebabkan oleh virus Nipah, anggota genus Henipavirus dan famili Paramyxoviridae. Virus ini memiliki reservoir alami pada kelelawar buah yang dapat menularkan virus ke manusia secara langsung atau melalui perantara hewan lain seperti babi.

“Virus ini juga bisa menular melalui konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi virus, misalnya buah atau nira,” kata Murti dalam SE itu, ProHealth mendapatkannya, Kamis, 5 Februari 2026.

Murti menyatakan, penularan antar-manusia juga dilaporkan terjadi, terutama melalui kontak erat dengan penderita. Manifestasi klinisnya bervariasi, mulai infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) ringan hingga berat. Menurut dia, virus ini juga mengakibatkan ensefalitis yang dapat menyebabkan kematian.

Tingkat kematian, kata dia, dilaporkan mencapai 40–75%. Pada tahun 1998–1999, wabah pertama terjadi pada peternak babi di Desa Sungai Nipah, Malaysia yang menyebar ke Singapura. Kasus manusia juga tercatat di India, Bangladesh, dan Filipina. Sejak 2001 hingga 2026, kasus penyakit virus Nipah dilaporkan secara sporadis di Bangladesh dan India.

Di India, infeksi virus Nipah (NiV) telah terjadi beberapa kali sejak tahun 2001, dengan wabah di Negara Bagian West Bengal pada tahun 2001 dan 2007, serta secara berulang di Negara Bagian Kerala sejak tahun 2018. Di Negara Bagian West Bengal, wabah sebelumnya terjadi pada tahun 2001 di Distrik Siliguri dan tahun 2007 di Distrik Nadia.

Pada tanggal 14 Januari 2026, India kembali melaporkan kejadian kasus konfirmasi penyakit virus Nipah di Negara Bagian West Bengal. Per 26 Januari 2026, telah dilaporkan sebanyak 2 kasus konfirmasi tanpa kematian di Distrik North 24 Parganas, Negara Bagian West Bengal. Seluruh kasus konfirmasi merupakan tenaga kesehatan. Telah diidentifikasi lebih dari 120 kontak erat dan semuanya dilakukan karantina.

Investigasi lengkap masih terus dilakukan

Murti menyatakan, hingga saat ini belum ada kasus konfirmasi penyakit virus Nipah pada manusia di Indonesia. Namun kewaspadaan tetap perlu ditingkatkan mengingat Indonesia termasuk wilayah berisiko berdasarkan kedekatan geografis dan intensitas mobilitas dengan negara-negara yang pernah mengalami kejadian luar biasa.

Selain itu, hasil penelitian di Indonesia menunjukkan adanya bukti serologis dan deteksi virus pada reservoir alami kelelawar buah. “Ini yang menandakan potensi sumber penularan di Indonesia,” ucap Murti.

Ia meminta para Kepala Dinas Kesehatan Provinsi, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, Kepala UPT Bidang Kekarantinaan Kesehatan, Pimpinan Rumah Sakit, Kepala Puskesmas, dan Kepala Laboratorium Kesehatan Masyarakat di seluruh Indonesia untuk melaksanakan langkah-langkah antisipatif.

Di antaranya, ia meminta Dinas Kesehatan Provinsi/Kabupaten/Kota melaksanakan surveilans. Ini meliputi kegiatan pemantauan dan verifikasi tren kasus suspek meningitis/ensefalitis, Influenza Like Illness (ILI), Severe Acute Respiratory Infection (SARI), ISPA, dan pneumonia.

Ia juga meminta para Kepala Dinas Kesehatan melakukan pemantauan melalui pelaporan surveilans berbasis indikator (indicator based surveillance). Pemantauan ini memanfaatkan aplikasi Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) atau laporan rutin surveilans sentinel lainnya.

Murti juga mengharap Kepala Dinas Kesehatan di tingkat lokal melakukan penemuan kasus melalui sindrom pernapasan akut berat dan sindrom meningoensefalitis akut yang memiliki faktor risiko. “Ini sesuai definisi operasional kasus mengacu pada Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Virus Nipah,” katanya.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.