Jakarta –
Seiring perkembangan teknologi, kehamilan nantinya bisa dipantau hanya dari plester (patch) yang tertempel di tubuh ibu hamil. Nah, peneliti tengah kembangkan alat pemantau kehamilan berupa patch tersebut, Bun.
Teknologi memang diciptakan untuk memudahkan ya, Bunda. Di segala bidang, perkembangan teknologi terus memperbaharui sistemnya sehingga semakin memudahkan penggunanya di canggih seperti sekarang ini. Salah satunya yang tengah dikembangkan yakni alat pemantau kehamilan.
Biasanya, perawatan dan pemantauan kehamilan dilakukan melalui pemeriksaan manual dan juga bantuan alat pemindai USG. Sejak 1950-an, teknologi ini telah memberikan gambaran penting mengenai kondisi rahim ibu hamil.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nah, saat ini, para ilmuwan semakin meningkatkan kemampuannya dengan mencoba menyediakan pemindaian berkelanjutan. Kemungkinan, dalam beberapa tahun mendatang, penemuan baru ini memungkinkan calon orang tua dan dokter untuk memantau perkembangan janin selama berjam-jam, tanpa perlu alat USG tradisional atau bantuan ahli sonografi yang selalu siaga.
Penemuan alat pantau kehamilan berupa plester
Para ilmuwan di The University of California San Diego, Stanford dan Oxford kini telah menciptakan alat tempel USG yang dapat dikenakan berupa plaster, dan disebut Upatch.
Salah satu penulis studi dan dokter kandungan di University of Oxford, Mariana Tome berpendapat bahwa penemuan ini dapat mengubah perawatan kehamilan nantinya.
“Ini adalah jenis teknologi yang telah ditunggu-tunggu oleh bidang kebidanan,” katanya seperti dikutip dari laman Sciencealert.
Biasanya, USG digunakan untuk memantau pertumbuhan janin secara berkala selama kehamilan. Sementara itu, pada perangkat baru ini dapat memberikan pemantauan berkelanjutan dalam jangka waktu yang lebih lama.
Pada UPatch, alat ini akan mengirimkan gelombang suara frekuensi tinggi ke dalam tubuh untuk memantul dari struktur-struktrur di dalamnya. Gema yang dipantulkan kemudian dibaca oleh perangkat lunak khusus untuk menangkap gambaran waktu nyata tentang apa yang terjadi di dalam tubuh.
Pada praktiknya, UPatch akan menempel pada kulit perut lalu alat ini akan membaca gema sel darah merah jauh di dalam pembuluh darah janin yang sedang berkembang. Selain itu, fungsi dari alat ini juga dapat mengukur fitur anatomi janin secara akurat, seperti lingkar kepala, lingkar perut, atau panjang tulang paha, sehingga memberikan perkiraan berat badan.
Yang mengagumkan, UPatch melakukan semua tugas tersebut secara otomatis tanpa memerlukan ahli sonografi terlatih. Dalam pemakaiannya, plester perlu dihubungkan ke sistem daya backend yang besar, dan tidak berfungsi saat Bunda berjalan atau bergerak terlalu banyak, tetapi secara teknis bebas genggam.
Antoniya Georgieva, seorang peneliti kesehatan reproduksi di Oxford mengatakan teknologi UPatch membuka kemungkinan untuk memantau sinyal terpenting kesehatan janin dalam jangka waktu yang lebih lama. Dan, dari pemantauan tersebut dapat diperoleh pengetahuan baru yang penting tentang bagaimana pasokan oksigen dan kesehatan bayi beradaptasi di dalam rahim. Pada akhirnya, teknologi ini akan membantu dokter mengidentifikasi masalah lebih awal.
Uji coba Upatch
Dalam perjalanannya, para peneliti telah menguji patch tersebut pada 62 kehamilan dalam lingkungan klinis, dan ditemukan bahwa kinerjanya setara dengan perangkat ultrasonik yang ada saat ini. Untuk satu peserta, patch tersebut bahkan mendeteksi perubahan berbahaya dalam aliran darah ke janin, yang menandakan preeklamsia.
“Setelah terdeteksi adanya gangguan kesehatan janin menggunakan UPatch, peserta preeklamsia menjalani pemantauan intensif dan bayi dilahirkan melalui operasi caesar empat hari kemudian,” tulis para penulis studi.
Selama kehamilan, USG secara teratur direkomendasikan untuk memantau kesehatan ibu dan anak. Dan, pada kehamilan berisiko tinggi dengan pasien dirawat di klinik untuk jangka waktu yang lebih lama, USG dilakukan beberapa kali seminggu.
Namun, setiap pemindaian tersebut membutuhkan waktu dan mengharuskan ahli sonografi untuk menggunakan perangkat genggam untuk memfokuskan bagian-bagian rahim.
Kehadiran UPatch memungkinkan pasien untuk dipantau di tempat tidur selama berjam-jam, tanpa perlu dokter untuk menggerakkan fokus perangkat atau menafsirkan hasilnya secara real-time.
Jika UPatch digunakan secara bersamaan dengan teknik pencitraan klasik, kemungkinan hasil kehamilan mungkin dapat ditingkatkan secara signifikan, kata para peneliti.
“Teknologi ini dapat memperluas akses ke pencitraan prenatal di daerah yang kekurangan layanan kesehatan dan lingkungan dengan sumber daya terbatas, di mana kekurangan sonografer terlatih yang seringkali jadi menghambat dan menunda perawatan untuk kehamilan berisiko tinggi,” kata Tom Park, insinyur utama yang merancang dan membuat UPatch.
Setelah membandingkan patch tersebut dengan perangkat ultrasound yang ada saat ini, para peneliti kemudian menguji patch tersebut secara terus menerus selama 1 hingga 6 jam pada 52 ibu hamil, termasuk mereka yang terkena preeklamsia, diabetes gestasional, hipertensi, atau pertumbuhan janin yang buruk.
Dari temuannya tersebut, terungkap adanya perbedaan antara fluktuasi jangka pendek dalam pembacaan ultrasound dan perubahan jangka panjang yang memerlukan pemantauan lebih ketat.
Para peneliti berharap perangkat ini dapat membantu dokter mendeteksi tanda-tanda gawat janin yang berkelanjutan dengan lebih mudah, sehingga mereka dapat melakukan intervensi lebih cepat.
Wah, sungguh teknologi yang menakjubkan ya, Bunda. Semoga bisa segera direalisasi dan digunakan di semua pelayanan kesehatan untuk membantu memantau kesehatan ibu hamil dan janin di dalam rahim dengan lebih praktis dan mudah.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)




Comments are closed.