Teheran, Arina.id — Militer Iran membantah klaim Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyebut negaranya telah menguasai Selat Hormuz. Iran menegaskan jalur strategis yang menjadi salah satu pintu utama perdagangan energi dunia tersebut masih berada di bawah kendali penuh Republik Islam Iran.
Juru bicara Komando Pusat Militer Iran Khatam al-Anbiya, Ebrahim Zolfaghari, menyebut pernyataan Amerika Serikat mengenai kapal-kapal yang dapat melintas secara normal di Selat Hormuz sebagai kebohongan dan rekayasa.
“Klaim palsu Amerika Serikat bahwa kapal-kapal melintas secara normal melalui Selat Hormuz tidak lebih dari kebohongan dan rekayasa,” kata Zolfaghari dalam pernyataan yang disiarkan televisi pemerintah Iran, Kamis (13/8/2026).
Ia menegaskan Selat Hormuz masih berada di bawah pengelolaan dan kendali penuh Iran. Menurut dia, kapal komersial maupun kapal tanker tidak dapat melintas dengan aman tanpa izin dan pengawasan dari angkatan bersenjata Iran.
Iran disebut telah mempertahankan kendali atas Selat Hormuz sejak pecahnya perang di Timur Tengah pada 28 Februari. Kapal-kapal yang hendak menggunakan jalur tersebut diwajibkan memperoleh izin dan membayar biaya transit.
Sebelumnya, Trump melalui unggahan di Truth Social pada Rabu (12/8/2026) mengklaim Amerika Serikat telah menguasai sepenuhnya Selat Hormuz.
“Amerika Serikat memiliki kendali penuh atas Selat Hormuz. Saya pikir kami akan mempertahankannya,” tulis Trump.
Trump juga menyebut blokade laut yang dilakukan Amerika Serikat sebagai “tembok baja” dan menyatakan Iran tidak dapat berbuat apa-apa untuk menghentikannya.
Iran Tegaskan Kapal AS dan Israel Dilarang Melintas
Kepala pasukan paramiliter Basij di bawah Korps Garda Revolusi Islam Iran, Hossein Taeb, turut menegaskan bahwa Selat Hormuz berada di bawah kendali Iran.
“Hari ini Anda dapat melihat bahwa Selat Hormuz berada di bawah pengelolaan dan kendali Republik Islam, dan negara kami terus menjalankan jalannya dengan keamanan penuh,” kata Taeb, menurut televisi pemerintah Iran.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi juga menilai Amerika Serikat telah melakukan kesalahan perhitungan terkait Selat Hormuz. Ia menyebut kegagalan intelijen sebelumnya telah membuat Washington salah memperkirakan situasi.
“Amerika Serikat telah lama melakukan kesalahan perhitungan akibat kegagalan intelijen. Salah satu contohnya adalah perang terhadap Iran. Kini, terjadi kesalahan perhitungan yang lebih besar terkait Selat Hormuz,” ujar Araghchi melalui X.
Anggota parlemen Iran sekaligus anggota Komisi Keamanan Nasional, Behnam Saeedi, mengatakan kapal-kapal milik Israel dan Amerika Serikat tidak diperbolehkan melintasi Selat Hormuz.
“Kapal-kapal milik rezim Zionis tidak akan memiliki hak untuk melewati Selat Hormuz dalam keadaan apa pun, baik pada masa perang maupun damai,” kata Saeedi kepada televisi pemerintah Iran.
Ia menambahkan, kapal-kapal militer Amerika Serikat juga akan dilarang melintasi selat tersebut.
Sementara itu, Iran dan Oman tengah melakukan pembicaraan untuk membentuk jalur baru melalui Selat Hormuz. Namun, negosiasi tersebut hingga kini belum mencapai kesepakatan final.
Teheran menyatakan, meskipun pembicaraan menghasilkan jalur baru, hal itu tidak serta-merta membuka akses Selat Hormuz. Iran menegaskan Amerika Serikat tetap harus memenuhi tuntutan yang diajukan Teheran.





Comments are closed.