Jakarta, Arina.id—Presiden Prabowo Subianto meyakini pertumbuhan ekonomi Indonesia akan melebihi target 5,4% dan ini merupakan pertumbuhan tertinggi dalam 13 tahun terakhir.
“Ini adalah pertumbuhan ekonomi kuartal pertama dan pertumbuhan semester pertama tertinggi dalam 13 tahun terakhir ini,” tutur Prabowo dalam Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR dan DPD RI Tahun 2026, Jumat (14/8/2026).
Menurut Prabowo, dengan kebijakan-kebijakan yang tepat, yang rasional, yang menggunakan akal sehat, ia meyakini pertumbuhan ekonomi Indonesia di akhir tahun ini bisa mencapai angka 6%.
Keyakinan tersebut juga sejalan capaian realsiasi investasi, yang pada semester I 2026, mencapai Rp 1.010 triliun dan telah menciptakan 1,4 juta lapangan kerja.
“Tetapi, saya tegaskan, dihadapan majelis ini, bagi saya pertumbuhan dan investasi bukan tujuan akhir. Tujuan kita adala kesejahteraan rakyat kita,” jelasnya.
Meski demikian pertumbuhan tinggi, tidak bisa dinikmati oleh rakyat, kebanyakan tidak bermanfaat bagi masyarakat. Setiap rupiah, investasi harus menciptakan pekerjaan, harus menghasilkan perbaikan kualitas hidup rakyat kita, terutama rakyat yang paling bawah.
“Itulah orientasi pemerintah yang saya pimpin. Kita tidak boleh meninggalkan mereka yang tidak berdaya, kita tidak boleh meninggalkan kelaparan ada di bumi Indonesia, Republik Indonesia anggota G20, tidak pantas ada rakyat kita yang lapar. Bangsa yang kuat, adalah bangsa yang mampu memberikan makan rakyat sendiri,” tandasnya.
Badan Pusat Statistik (BPS) sendiri sudah melaporkan pertumbuhan ekonomi kuartal II-2026 sebesar 5,29 persen secara tahunan (year on year/yoy). Angka itu melambat bila dibandingkan pertumbuhan kuartal I-2026 yang mencapai 5,61 persen.
Konsumsi rumah tangga masih menjadi sumber pertumbuhan tertinggi ekonomi kuartal II-2026 sebesar 2,67 persen, yang diikuti oleh Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) sebesar 2,06 persen.
Di samping itu, persoalan ketenagakerjaan masih menjadi pekerjaan rumah. Jumlah Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) mencapai 7,22 juta orang per Mei 2026, meski turun jika dibandingkan Februari 2026 yang sebanyak 7,24 juta orang.
BPS mencatat, jumlah angkatan kerja sebesar 155,41 juta orang, dari jumlah tersebut sebanyak 148,19 orang telah bekerja. Bila dirinci, orang bekerja penuh mencapai 98,983 juta orang, paruh waktu 38,419 juta orang, dan setengah pengangguran sebanyak 10,787 juta orang.
Sementara itu, Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) melalui situs Satu Data mengungkapkan jumlah orang yang di PHK mencapai 43.805 tenaga kerja pada periode Januari-Juli 2026. Korban PHK naik 11.416 orang atau 35,25 persen bila dibandingkan periode Januari hingga Juni 2026 sebanyak 32.389 orang tenaga kerja.





Comments are closed.