Wed,12 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Environment
  3. Jaga Kedaulatan Pangan Kasepuhan Perlu Kepastian Wilayah Adat

Jaga Kedaulatan Pangan Kasepuhan Perlu Kepastian Wilayah Adat

jaga-kedaulatan-pangan-kasepuhan-perlu-kepastian-wilayah-adat
Jaga Kedaulatan Pangan Kasepuhan Perlu Kepastian Wilayah Adat
service

  Keberlangsungan pangan Kasepuhan Banten Kidul, bergantung perempuan adat. Sebelum mulai tanam,  perempuan lebih dulu menentukan benih yang akan mereka tanam. Perempuan tahu benih mana yang paling sesuai dengan musim, dan menjaga proses tanam. Mereka juga memastikan hasil tersimpan aman di leuit, lumbung pangan adat yang jadi simbol kedaulatan pangan masyarakat kasepuhan. Untuk memastikan lumbung pangan  terjaga, masyarakat kesepuhan perlu kepastian wilayah adat. Bagi Een Suryani, perempuan adat Kasepuhan Karang, seluruh proses itu tak hanya sebagai pekerjaan domestik ataupun aktivitas bertani semata. Proses itu merupakan warisan pengetahuan leluhur agar masyarakat tetap mampu memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri. “Perempuan adat memulai semua dari memilih benih. Kami ikut menanam, memanen, menyimpan padi di leuit, lalu mengolahnya menjadi beras yang dimakan setiap hari ataupun digunakan saat Seren Taun,” kata Een dalam Diskusi Publik dan Konsolidasi RUU Masyarakat Adat di Kasepuhan Citorek, Lebak, Banten. Perempuan, katanya,  menjadi penjaga pengetahuan yang paling dekat dengan keberlangsungan sistem pangan. Melalui praktik turun-temurun, mereka mempertahankan benih lokal, mengelola cadangan pangan, sekaligus memastikan tradisi pertanian tetap hidup dari satu generasi ke generasi berikutnya. Bagi masyarakat kasepuhan di Banten Kidul, pengetahuan berkembang bersamaan dengan cara mereka mengelola alam. Hutan mereka jaga sebagai kawasan penyangga kehidupan, mata air terlindungi agar sawah tetap produktif. Sedang, leuit memastikan hasil panen tak habis sekaligus agar menjadi cadangan ketika musim paceklik datang. Karena itu, kata Rosmawati, perwakilan Dewan Pemuda Adat Nusantara Region Jawa, bilang, pengetahuan adat tak mungkin terpisah dari wilayah adat sebagai ruang hidup dan ruang praktik. “Yang kami jaga bukan hanya sawah atau…This article was originally published on Mongabay

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.