Thu,23 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Jurnalistik
  3. Jangan Sampai Uang Kita Jadi Investasi Hitam Berkedok Hijau

Jangan Sampai Uang Kita Jadi Investasi Hitam Berkedok Hijau

jangan-sampai-uang-kita-jadi-investasi-hitam-berkedok-hijau
Jangan Sampai Uang Kita Jadi Investasi Hitam Berkedok Hijau
service

Uang yang kita simpan di bank bukanlah sesuatu yang netral. Uang kita menjadi bahan bakar bagi keputusan investasi dan pembiayaan. Kesadaran ini adalah langkah pertama. 

BETAPA beruntungnya kita hidup di era serba digital ini. Semua dibikin cepat dan mudah, termasuk urusan keuangan. Layanan perbankan hari ini bukan lagi sekadar tempat menyimpan uang, melainkan pintu masuk ke berbagai instrumen investasi. 

Namun, di balik kemudahan menabung dan bertransaksi, bank juga mengelola dana kita sebagai bagian dari ekosistem investasi sebagai modal bagi berbagai sektor usaha, termasuk industri yang berdampak buruk bagi lingkungan. 

Laporan dari Center for Energy, Ecology, and Development (CEED) mengungkap bahwa bank di Indonesia bertanggung jawab atas 12 persen dari total pembiayaan proyek batu bara di Asia Tenggara pada 2016-2024 atau setara Rp64,5 triliun. Puluhan triliun uang itu digunakan untuk proyek-proyek pembangkit listrik di Jakarta dan sekitarnya. Langkah ini bertentangan dengan tren bank-bank global yang mulai mengurangi pendanaan untuk energi fosil. 

Bank Mandiri, BRI, BNI, dan BCA tercatat sebagai bank yang memiliki nilai komitmen tertinggi, yakni hingga USD 11,6 miliar (sekitar Rp170 triliun), mengutip laporan dari Traction Energy Asia dan Trend Asia pada 2022. 

Bhima Yudhistira Adhinegara, Direktur eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) menyebut komitmen perbankan ini sama saja meremehkan dampak krisis iklim seturut dengan memperburuk kualitas hidup manusia, termasuk para nasabahnya.

Scorecard ini merupakan bentuk penilaian praktik buruk lembaga keuangan, kami akan terus memantau serta melaporkannya kepada publik. Mereka perlu berubah sebelum terlambat,” kata Bhima, dikutip laporan Southeast Asia Fossil Fuel Divestment Scorecard 2025 – CEED.

Bank-bank yang masih membanjiri industri batubara dengan pinjaman sebenarnya sedang memperpanjang nafas energi kotor. Bila komitmen Indonesia di forum-forum iklim internasional benar adanya, maka langkah ini berseberangan dengan komitmen negara untuk berpindah ke energi terbarukan dan meninggalkan batubara secara bertahap. 

Lalu, bagaimana kita bisa memenuhi janji global itu kalau bank-bank kita sendiri masih terus-terusan mengalirkan dana ke batu bara?

Di tengah HUT ke-79 BNI, Koalisi #BersihkanBankmu beraksi di depan Grha BNI, Jakarta, menyoroti BNI yang masih mendanai PLTU batu bara di Indonesia, negara penerima pembiayaan batu bara terbesar di Asia Tenggara, seraya mendesak penghentian pendanaan yang memperparah krisis iklim dan mengancam masa depan generasi muda.. (Enter Nusantara/ Alvin Arfiandi)

***

Industri batu bara menempatkan Indonesia pada posisi dilematis. Di satu sisi, menopang ekonomi dan menyalakan lampu di rumah-rumah kita. Di sisi lain, batubara menjadi sumber energi kritis yang tidak hanya eksistensinya membahayakan keseimbangan alam tetapi juga tidak dapat diperbarui. 

Menurut data International Energy Agency (IEA), sepertiga listrik di dunia pakai batubara, dan di Indonesia, angkanya lebih dari 60 persen. Kita adalah produsen batubara terbesar ketiga di dunia, dengan produksi lebih dari mencapai 563,73 juta ton per tahun. 

Kenaikan harga batubara yang sempat terjadi pada 2021, memang membawa dampak positif bagi pendapatan negara, terutama melalui sektor pertambangan dan batubara (MINERBA) yang menyumbang Rp124,4 triliun. Di samping itu, proyeksi kebutuhan batubara untuk pembangkit listrik diperkirakan akan terus meningkat dari 90 juta ton pada saat ini menjadi 150-160 juta ton pada tahun 2028-2030. 

Namun, apakah ini menjadi alasan satu-satunya kita terus bergantung pada batubara? 

Saat kita menikmati kemudahan dalam melakukan aktivitas yang didukung oleh kecanggihan teknologi dan listrik, di berbagai pelosok negeri, komunitas adat, petani, dan nelayan seringkali menjadi korban pertama dan paling parah dari ekspansi industri batubara. 

Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) pada Februari 2023, mendokumentasikan kasus dugaan penggusuran tanah adat di Kalimantan Timur tanpa kompensasi layak, memaksa Masyarakat Adat Sempeket Benuaq Dingin Tementekng di Kecamatan Muara Lawa Kabupaten Kutai Barat Kalimantan Timur kehilangan wilayah hidup mereka. 

Limbah dari pertambangan batubara terbukti mengandung logam berat dan bahan kimia berbahaya yang mencemari sungai, danau, dan sumber air tanah. Kondisi ini secara langsung mengancam pasokan air bersih bagi komunitas lokal dan merusak ekosistem perairan yang menjadi mata pencarian nelayan. 

Dampak kesehatan juga tak kalah serius, bahkan mematikan. Tingkat kasus ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) pada balita di pemukiman dekat jalur transportasi tongkang batu bara di Sungai Barito, Kalimantan Selatan, mencapai 65,29 persen.

Anak-anak menderita ISPA, orang dewasa terpapar risiko penyakit pernapasan kronis, dan mata pencaharian mereka hancur. Suara mereka tenggelam di tengah hiruk pikuk proyek-proyek “pembangunan” yang mengatasnamakan kemajuan dan pertumbuhan ekonomi. Mereka adalah wajah nyata dari ketidakadilan yang terjadi di balik setiap transaksi yang kita lakukan.

Anak Muda dan Kesadaran Keuangan Bersih

Kembali pada peran yang bisa kita lakukan untuk membuat perubahan. Mungkin saat ini, kita perlu menengok kembali bagaimana peran perbankan Indonesia dalam sektor energi kotor ini. 

Mereka mengelola uang kita, dan pada saat yang sama, mereka membiayai industri yang secara langsung bertabrakan dengan kepentingan kita sebagai makhluk bumi. Seluruh bank yang mendukung perusahaan batubara Indonesia yang sedang membangun infrastruktur batubara baru sama saja terlibat dalam menghambat transisi energi yang akan memperparah krisis iklim. 

Pendekatan semacam ini, ketika lembaga keuangan mengklaim mendukung lingkungan namun tetap menyalurkan modal ke sektor batubara, adalah greenwashing, alias citra hijau yang dipoles namun tidak dibuktikan melalui tindakan tegas. 

Narasi keberlanjutan tanpa kebijakan yang tegas menuju penghentian pendanaan industri batubara hanya akan mempertahankan status quo dan menunda transisi energi yang adil serta ramah lingkungan.

Para nasabah, terutama kita, anak-anak muda, sesungguhnya tidak berada di posisi yang sepenuhnya tak berdaya. Uang yang kita simpan di bank bukanlah sesuatu yang netral. Uang kita menjadi bahan bakar bagi keputusan investasi dan pembiayaan. Kesadaran ini adalah langkah pertama. 

Kita bisa mulai dengan mencari tahu ke mana bank menyalurkan pembiayaannya, membaca laporan keberlanjutan mereka secara kritis, dan tidak ragu mempertanyakan kontradiksi antara klaim “hijau” dan praktik pendanaan energi kotor. Transparansi lahir dari tekanan publik, dan tekanan publik lahir dari warga yang peduli.

Lebih jauh, anak muda memiliki kekuatan kolektif yang sering diremehkan. Akan tetapi, kampanye digital, petisi, diskusi publik, hingga gerakan “bersihkan bankmu” menunjukkan bahwa reputasi adalah aset penting bagi lembaga keuangan. 

Ketika generasi muda secara terbuka menyuarakan tuntutan agar bank menghentikan pembiayaan batubara dan mengalihkan dukungan ke energi terbarukan, itu menciptakan insentif ekonomi dan politik. Bank sangat peka terhadap persepsi pasar dan kepercayaan nasabah. Kedua poin ini bisa saja berubah ketika suara-suara kritis mendominasi dan menjadi arus utama. 

Pada dasarnya, transisi energi jauh lebih dari sekadar kebijakan atau teknologi baru. Transisi energi harus dilihat sebagai pergeseran fundamental dalam cara kita memandang dunia. Menghentikan pendanaan untuk proyek bahan bakar fosil dan mengalihkannya ke energi terbarukan bukan cuma pilihan moral, melainkan kebutuhan mendesak yang dituntut oleh krisis iklim saat ini. 

Jika tanggung jawab ini diabaikan, kita akan terus terperangkap dalam siklus bencana, janji-janji yang dilanggar, dan kerusakan yang tak bisa diperbaiki.

Pada akhirnya, refleksi ini kembali pada pilihan etis sehari-hari. Menjadi nasabah yang sadar berarti mempertimbangkan untuk memindahkan tabungan ke lembaga yang memiliki komitmen iklim lebih tegas, mendukung kebijakan transisi energi yang adil, dan mengaitkan keputusan finansial dengan nilai yang kita yakini. 

Perubahan sistemik memang tidak terjadi dalam semalam, tetapi sejarah menunjukkan bahwa perubahan sering dimulai dari generasi yang menolak menerima kontradiksi sebagai kewajaran. 

—-

Ramadhan adalah campaigner dan action strategist – Riyasti adalah digital strategist di Enter Nusantara, organisasi nirlaba dan gerakan kepemudaan berbasis akar rumput di Indonesia yang fokus pada advokasi, edukasi, dan implementasi energi terbarukan serta penanganan krisis iklim.

Esai ini merupakan bagian dari serial opini #TransisiEnergi yang menghadirkan perspektif peneliti, penggiat, dan praktisi dari organisasi masyarakat sipil dengan fokus pada kesehatan publik, keadilan lingkungan, dan kebijakan energi bersih.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.