Catatan editor: Manifesto ini disusun bersama-sama oleh Anotasi, Pamflet Generasi, Project Multatuli, dan We Speak Up dari hasil menghimpun pesan-pesan dari narasumber di setiap Bincang Pinggiran serta suara pengunjung dari Surat untuk Masa Depan selama dua hari Pesta Pinggiran. Matahari sudah terbenam ketika sembilan orang, kebetulan semua perempuan, dan hampir semua anak muda di bawah 40, berdiskusi hangat, penuh ilham, dan bersemangat, menyusun manifesto sambil duduk di lantai.
Kami memutuskan membuat manifesto yang nadanya berbeda dari bayangan manifesto pada umumnya. Ia tidak mengepalkan tinju, tak pula berteriak lantang, melainkan mengajak untuk melamun bersama. Ia membuka ruang imajinasi yang justru terasa mahal di tengah sistem kapitalistik yang serba menghimpit dan menuntut kecepatan. Dalam kelembutannya, manifesto ini berusaha merawat: memberi jeda, mengundang napas, sekaligus mengingatkan bahwa membayangkan dunia yang lebih adil juga merupakan kerja politik yang penting.
Kami ingin mengajakmu melamun hari ini, karena kami tahu, tidak mudah bagi semua orang untuk memberi sedikit jeda dari segala himpitan yang menguasai.
Mari berhenti sejenak, menerima segala rasa yang timbul; sedih, sakit, marah, kecewa, bingung, senang, dan mungkin bangga. Biarkan satu persatu rasa itu muncul dan saling membangun simpul. Kami berharap, kamu punya waktu untuk melakukannya berulang; esok hari, lusa, dan sampai nanti.
Mari melamun bersama, meski beberapa di antara kita tidak bisa melakukannya. Barangkali lamunan kita juga berbeda, rasa sakit yang sedang mempermainkan kita tidak satu wujudnya.
Mungkin sakitmu sedikit banyak karena apa yang menyenangkan buatku. Maaf ya, kalau sakitmu membuatku tidak nyaman. Mungkin di dunia lamunanku, tidak ada kamu di situ.
Dunia di masa depan, sepertinya akan lebih baik jika kita berbagi bersama; kamu hadir dalam dunia lamunanku, juga kamu memperkenankan sebaliknya.
Tak apa kalau saat ini kita masih melamun dengan rasa takut. Semoga ketakutan itu tidak membuat kita berhenti melamun, karena kita hadir satu sama lain.
Bisakah kita hidup di dunia di mana berbagai macam kehidupan diperbolehkan hidup? Kalau iya, hidup yang seperti apa?
Dalam lamunanku, hidup di mana kita saling menjaga, mengambil secukupnya, dan memeluknya kembali. Semua makhluk hidup bahagia.
Di tengah ekskavator yang terus menerobos masuk hutan-hutan kita, dan kawan-kawan, mama mama, yang mempertahankannya tidak perlu merasa sendiri. Karena itu hutannya, dan itu hidupnya.
Lebih jauh lagi, itu tentang hidup kita semua. Karena kita semua terhubung, lebih dari apa yang kita kira.
Dalam lamunanku, tak ada lagi si rakus dan serakah.
Bersama, kita rebut apa yang milik kita. Kemudian, semua kaya raya dan sejahtera bersama.
Kita bisa hidup dengan nyaman, semua mahluk hidup bahagia.
Dunia yang lebih baik itu, sepertinya akan lebih menyenangkan kalau kita saling bercerita.
Lamunanku, akan lebih indah kalau lamunanmu bisa masuk ke situ. Supaya aku tidak bersenang-senang, di atas perampasan lamunanmu.
Mari melamun, dan terus mengikat diri ke lamunan-lamunan lain. Menjadi tali simpul-simpul baru, dan menjadi jaring yang terus mengikat diri walau tidak nyaman.
Pelan, walau takut. Menjalar, walau terus ditekan.
Supaya ketika satu terdampak, semua bergerak. Sampai lamunanku, kamu, kita, jadi nyata. Sampai semua makhluk hidup bahagia.
Disusun bersama oleh Eni Puji Utami, Fahra Affifa, Isyatami Aulia, Sarah F. Hana, Teliana Juwita, Wilsa Naomi untuk dibacakan sebagai penutupan Pesta Pinggiran, 24-25 Januari 2026, di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.





Comments are closed.