Di halaman rumahnya di Kampung Imbari, Distrik Warsa, Kabupaten Biak Numfor, John Wompere (67) berdiri di samping sebuah bedeng persemaian berukuran sekitar empat kali empat meter. Deretan bibit kecil berjajar rapi di dalam polybag hitam. Dengan tangan yang sigap, ia menunjuk satu per satu tanaman muda itu. “Ini bibit gaharu yang saya kembangkan dari biji,” katanya sambil tersenyum. “Gaharu ini menarik sekali.” Di samping persemaian itu, beberapa peralatan penyulingan sederhana tersusun rapi. Dari tempat yang tampak sederhana inilah, selama lebih dari dua dekade, John menanam harapan—ribuan pohon gaharu yang perlahan mengubah hidupnya, juga wajah kampungnya. Semua bermula dari rasa penasaran. John pertama kali mengenal gaharu saat merantau ke Papua Nugini pada awal 2000-an. Saat itu, ia melihat banyak orang keluar-masuk hutan mencari gaharu—komoditas yang disebut-sebut bernilai tinggi. “Saya dengar kalau dijual harganya mahal. Itu yang bikin saya penasaran,” ujarnya. Awalnya, motivasinya sederhana: memperoleh uang cepat. Namun saat itu, ia belum benar-benar memahami seperti apa pohon gaharu, bagaimana menanamnya, atau bagaimana memperoleh manfaat dari tanaman itu. Rasa ingin tahu itulah yang kemudian mendorongnya belajar sendiri. Secara autodidak, John mulai memahami pembibitan, penanaman, perawatan, hingga pengolahan hasil tanaman gaharu. Satu pelajaran penting yang dia pahami kemudian: gaharu bukan tanaman untuk mereka yang ingin hasil cepat. “Tidak ada yang instan. Gaharu itu mengajarkan kesabaran,” katanya. Bibit gaharu. Gaharu adalah tanaman hutan berpotensi nilai tambah tinggi, selain gubal, maka daun, batang, hingga kulitnya dapat dimanfaatkan. Foto: Donny Iqbal/Mongabay Indonesia Budidaya yang Bertumbuh Bersama Waktu Dari awalnya hanya mencoba-coba, gaharu perlahan berubah menjadi jalan hidup…This article was originally published on Mongabay
John Wompere, Penjaga Pohon Gaharu dari Kampung Imbari
John Wompere, Penjaga Pohon Gaharu dari Kampung Imbari





Comments are closed.