Proyek reklamasi untuk bangun Surabaya Waterfront Land (SWL) di Surabaya, Jawa Timur, masih belum jelas berhenti seterusnya atau lanjut. Para nelayan dan warga pesisir Surabaya masih khawatir proyek bakal lanjut suatu hari. Mereka pun mendesak, pemerintah tegas menghentikan proyek ini. Hingga kini, masih tidak ada keputusan sah dan meyakinkan bahwa proyek ini akan setop sejak warga tolak dua tahun lalu. Hamuka, Ketua Jamaah Nelayan Muhammadiyah (Jalamu) Surabaya, berharap, rencana reklamasi itu setop sepenuhnya. Ada pernyataan resmi dari pengembang maupun pemerintah. Dia bilang, ada 44 paguyuban dan organisasi sipil yang serempak bersatu menolak rencana itu. Hamuka sudah menemui pengembang, DPRD Surabaya, pemerintah provinsi, Kementerian Kelautan dan Perikanan sebelumnya untuk mengutarakan keresahan dan penolakan warga. “Ke Jakarta dua kali kami, yang terakhir ke KKP,” katanya baru-baru ini. Dia bilang, laut dan pesisir adalah ruang hidup para nelayan, tempat mereka mencari rezeki. Bila rencana ini lanjut, mereka akan tersingkir dari ruang hidup, dan memutus mata pencaharian mereka. “Soalnya lahan yang akan dibangun kan 1084 hektar, itu tempat pencarian sehari-hari,” kata Hamuka. Belum lagi dampak lain rentan terjadi bila reklamasi itu berjalan, seperti erupsi dan banjir. Warga, katanya, pasti akan alami dampak. Ada sekitar 8.000 keluarga di lima kecamatan di Surabaya yang rentan terdampak proyek ini. Dia ingin pemerintah tegas menghentikan proyek itu. “Soalnya dasarnya di KPRL (kesesuaian kegiatan pemanfaatan ruang laut) itu, loh, (pemerintah) menyetujui, sehingga dia (perusahaan) bersikeras untuk, apa, lanjut berhasil untuk reklamasi itu,” kata Hamuka. Miftahul Huda, Sekretaris Direktorat Jenderal Pengelolaan Kelautan dan Ruang Laut, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP),…This article was originally published on Mongabay
Nelayan Desak Kejelasan Penghentian Proyek Reklamasi Surabaya
Nelayan Desak Kejelasan Penghentian Proyek Reklamasi Surabaya





Comments are closed.