Perburuan dan perdagangan ilegal satwa liar dilindungi di Sumatera Utara (Sumut) makin mengkhawatirkan. Catatan for Madina, selama Januari-Mei 2026, terdapat enam kasus terbongkar. Tahun lalu, terbongkar tujuh kasus selama 12 bulan. Arbi Sani, tim Identifier Wildlife Crime for Madina, menyebut kondisi ini peringatan keras. Karena, Sumut merupakan wilayah dengan keanekaragaman hayati yang kaya. “Jika dibiarkan, ancaman kepunahan berbagai jenis satwa langka akan semakin nyata di depan mata,” katanya, Senin (4/5/26). Secara matematis, katanya, angka kejahatan perburuan dan perdagangan satwa liar itu mengindikasikan intensitas kejahatan saat ini mengalami lonjakan lebih 120% ketimbang rata-rata per bulan tahun sebelumnya. Apabila, berlanjut hingga akhir tahun, potensi kasus 2026 mencapai 14-15 kasus. “Kondisi demikian menjadi alarm bahaya keras, menunjukkan jaringan perdagangan ilegal semakin berani dan gencar beroperasi, membawa ancaman nyata sangat serius bagi kelestarian satwa liar di wilayah ini.” Sejak 2025, trenggiling menjadi spesies yang paling banyak menjadi korban perburuan. Total tujuh kali kejadian, dengan berat sisik sitaan mencapai 107,6 kilogram. Satwa ini, katanya, menjadi incaran utama karena tingginya permintaan pasar gelap yang mengincar sisiknya untuk pengobatan tradisional dan dagingnya sebagai makanan eksklusif. Sedang status konservasinya kategori sangat terancam punah. Penelitian tim ahli dari IPB University, menyebut, untuk mendapatkan satu kilogram sisik, perlu sekitar 4-5 trenggiling. Artinya, dari sitaan 107,6 kilogram itu, setidaknya ada 430-538 trenggiling yang menjadi korban pembantaian. Arbi bilang, urutan kedua hewan yang banyak jadi korban buruan adalah burung eksotis, seperti kakatua dan nuri. Hewan ini jadi incaran karena keindahannya jadi hewan peliharaan dengan harga fantastis. Sementara urutan ketiga ialah mamalia besar…This article was originally published on Mongabay
Perburuan Satwa Liar Bakal Makin Menggila di Sumatera Utara?
Perburuan Satwa Liar Bakal Makin Menggila di Sumatera Utara?





Comments are closed.