Sat,29 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Indonesiana
  3. Kampus di Banyumas Tutup, STAB Syailendra Lahir di Semarang: Kisah Berdirinya Kampus Buddhis Jateng

Kampus di Banyumas Tutup, STAB Syailendra Lahir di Semarang: Kisah Berdirinya Kampus Buddhis Jateng

kampus-di-banyumas-tutup,-stab-syailendra-lahir-di-semarang:-kisah-berdirinya-kampus-buddhis-jateng
Kampus di Banyumas Tutup, STAB Syailendra Lahir di Semarang: Kisah Berdirinya Kampus Buddhis Jateng
service

Kampus di Banyumas Tutup, STAB Syailendra Lahir di Semarang: Kisah Berdirinya Kampus Buddhis Jateng


Tahun 1998 menjadi masa yang tidak mudah bagi sebagian umat Buddha di wilayah Banyumas dan sekitarnya. Saat itu, Sekolah Tinggi Agama Buddha Mpu Tantular di Buntu, Banyumas, berhenti beroperasi.

Padahal sebelumnya kampus itu cukup dikenal. Mahasiswanya pun datang dari berbagai daerah sekitarnya seperti Banyumas, Banjarnegara, Kebumen, hingga Cilacap untuk belajar agama Buddha secara lebih mendalam.

Usai tutup, saat itulah mulai ada gagasan untuk membangun kampus baru di Semarang. Maka lahirlah STAB Syailendra.

Pengalaman Mengajar yang Melahirkan Gagasan

Salah satu sosok yang terlibat sekaligus jadi pelaku dalam perjalanan itu adalah Bhikkhu Jotidhammo Thera. Ia pernah mengajar di STAB Mpu Tantular selama bertahun-tahun.

Di kampus tersebut, ia mengampu berbagai mata kuliah penting dalam studi Buddhis. Bhikkhu Jotidhammo mengajar Bahasa Pali, Riwayat Hidup Buddha Gotama, hingga kajian kitab suci seperti Vinaya, Sutta, dan Abhidhamma.

Bagi yang belum familiar, bahasa Pali adalah bahasa kuno yang digunakan dalam banyak kitab suci Buddha. Banyak ajaran Buddha Theravada ditulis dalam bahasa ini. Sementara itu, Vinaya adalah aturan disiplin bagi para bhikkhu dan bhikkhuni.

Lalu, Sutta berisi khotbah Buddha yang menjadi dasar ajaran moral dan spiritual. Sedangkan Abhidhamma membahas analisis mendalam tentang pikiran dan fenomena kehidupan menurut ajaran Buddha.

Selain mengajar, Bhikkhu Jotidhammo juga terlibat dalam penyusunan kurikulum dan kalender akademik sejak 1990 hingga kampus itu berhenti beroperasi pada 1998. Setelah kampus tersebut berhenti, Bhikkhu Jotidhammo lah yang meneruskan cita-cita pendirian kampus baru di kawasan Jawa Tengah.

Melihat Potensi Generasi Muda Buddhis

Di berbagai daerah di Jawa Tengah, banyak pemuda Buddhis sebenarnya memiliki minat untuk melanjutkan pendidikan. Mereka ingin belajar lebih dalam tentang ajaran Buddha, sekaligus memperoleh pendidikan formal.

Pendidikan tinggi agama Buddha dipandang penting karena memiliki beberapa peran. Pertama, meningkatkan pengetahuan dan keterampilan generasi muda Buddhis. Kedua, membentuk karakter dan budi pekerti. Ketiga, menyiapkan tenaga pengajar agama Buddha.

Selain itu, kampus juga diharapkan melahirkan dhammaduta.

Dhammaduta berarti orang yang menyebarkan ajaran Buddha kepada masyarakat. Mereka biasanya memberikan pembinaan umat, ceramah keagamaan, serta membantu kegiatan sosial keagamaan.

Dari kebutuhan inilah muncul gagasan untuk mendirikan perguruan tinggi agama Buddha yang baru di Jawa Tengah.

Mengambil Nama dari Dinasti Bersejarah

Ketika kampus tersebut direncanakan, para penggagasnya memilih nama yang memiliki makna sejarah.

Nama Syailendra diambil dari Wangsa Syailendra, dinasti yang pernah berkembang di Jawa Tengah pada masa lampau.

Dinasti ini dikenal luas karena membangun Candi Borobudur, monumen Buddha terbesar di dunia yang hingga kini masih berdiri megah.

Pemilihan nama tersebut bukan tanpa alasan. Para pendiri berharap pendidikan Buddha di Indonesia dapat berkembang kuat dan bertahan lama, sebagaimana warisan sejarah yang ditinggalkan oleh Wangsa Syailendra.

Gagasan pendirian kampus pun mulai dipersiapkan pada 1999.

Proses pengurusan izin dilakukan pada tahun 2000. Upaya ini melibatkan kerja sama antara Sangha Theravada Indonesia Provinsi Jawa Tengah dan Majelis Agama Buddha Theravada Indonesia (Magabudhi) Provinsi Jawa Tengah.

Setelah berbagai proses administrasi dilalui, kegiatan perkuliahan akhirnya dapat dimulai pada 2001.

Tanggal 10 September 2001, surat pengesahan dari Departemen Agama Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu dan Buddha dibacakan.

Peristiwa tersebut berlangsung di Dhammasala Wihara Maha Dhamma Loka, yang kini lebih dikenal sebagai Wihara Tanah Putih Semarang.

Di hadapan mahasiswa angkatan pertama, kampus baru itu resmi berdiri dengan nama Sekolah Tinggi Agama Buddha Syailendra.

Kuliah Pertama di Ruang Wihara

Kuliah pertama dilaksanakan menggunakan ruang serbaguna di bawah kuti Wihara Tanah Putih. Tempat itu menjadi ruang belajar bagi mahasiswa angkatan awal.

Dua tahun kemudian, pada 20 April 2003, kegiatan perkuliahan dipindahkan ke Gedung Dasa Paramitta di Dusun Deplongan, Desa Wates, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang.

Gedung tersebut diresmikan oleh Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu dan Buddha Departemen Agama Republik Indonesia. Peresmian dihadiri para bhikkhu, tokoh lintas agama, donatur, dan umat Buddha.

Lokasi kampus di Kabupaten Semarang dipilih karena Jawa Tengah termasuk provinsi dengan jumlah umat Buddha yang cukup besar di Indonesia.

Yayasan dan Penguatan Legalitas

Secara kelembagaan, kampus ini berada di bawah Yayasan Pendidikan Dharma Syailendra.

Awalnya yayasan tersebut bernama Yayasan Sammasambodhi yang didirikan di Semarang pada 31 Oktober 2000.

STAB Syailendra kemudian memperoleh pengesahan melalui Keputusan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha Nomor DJ.VI/51/SK/2002 pada 30 Juli 2002.

Pada 10 Juli 2007, nama yayasan tersebut berubah menjadi Yayasan Pendidikan Dharma Syailendra.

Legalitas ini memperkuat posisi STAB Syailendra sebagai perguruan tinggi agama Buddha yang diakui pemerintah.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.