Sun,16 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. Karbala dalam Perang Iran Melawan Israel-AS

Karbala dalam Perang Iran Melawan Israel-AS

karbala-dalam-perang-iran-melawan-israel-as
Karbala dalam Perang Iran Melawan Israel-AS
service

Pada Maret 2026, dunia menyaksikan rudal jelajah Tomahawk menghantam kompleks militer di pinggiran Teheran, dan juga deru jet tempur F-35 meluluhlantakkan markas Hizbullah di Dahieh, Beirut. Memang, peristiwa tersebut adalah pertempuran konvensional. Namun, di Tanah Syiah, ribuan kilometer dari lokasi ledakan, pertempuran itu dimaknai sebagai perang kosmik yang sudah dimulai 14 abad silam. 

Dalam opini ini, perang kosmik secara konsep adalah pertempuran imajiner atau metafisik antara kekuatan kebaikan dan kejahatan, keteraturan dan kekacauan, atau kebenaran dan kepalsuan. Konsep ini acap digunakan untuk mengangkat konflik duniawi biasa menjadi perjuangan suci. Tulisan ini menyajikan aspek sakral dari perang Israel-AS vs Iran, yang membuat perang tersebut sebagai perang kosmik.  

Laporan intelijen yang bocor ke publik telah mengonfirmasi apa yang selama ini hanya menjadi bisik-bisik di kalangan akademisi, yaitu sebagian elite militer dan politisi AS memandang perang melawan Iran melalui lensa eskatologi Kristen. Seorang jenderal Angkatan Udara AS mengatakan kepada anak buahnya bahwa serangan ke Iran adalah “bagian dari rencana Ilahi” untuk memicu armageddon, yaitu pertempuran akhir zaman yang akan menandai kembalinya Yesus Kristus.

Fenomena ini bukan sekadar anomali. Lebih jauh, ia adalah puncak gunung es dari tradisi panjang dalam evangelikalisme Amerika yang memandang Timur Tengah sebagai panggung teater ilahi. Bagi mereka, Iran bukanlah negara dengan sejarah dan kepentingan nasional. Malahan, ia adalah “Raja Utara” dalam Kitab Yehezkiel, musuh bebuyutan Israel yang harus dihancurkan sebelum kedatangan Mesias kedua kalinya.

Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang berlatar belakang sekuler, namun, piawai memanfaatkan sentimen religius. Dia tak ragu mengutip kisah Perjanjian Lama tentang “Amalek”, yaitu sebuah mandat teologis untuk memusnahkan musuh secara total. Dalam kerangka berpikir ini, tidak ada ruang untuk negosiasi atau kompromi. Yang tersisa hanyalah pertempuran antara cahaya dan kegelapan, antara umat pilihan dan kekuatan setan.

Jika eskatologi Kristen menjadi bahan bakar bagi agresi AS-Israel, maka di pihak Iran dan sekutunya, Karbala adalah nyala api yang tak pernah surut dan padam. Karbala adalah simbol perlawanan melawan ketidakadilan.

Jauh sebelum revolusi Iran 1979, peristiwa terbunuhnya Imam Husain, cucu Nabi Muhammad, di padang Karbala pada 680 M telah menjadi narasi fundamental dalam pembentukan jiwa Syiah. Husain, bersama 72 pengikutnya, memilih mati di tangan pasukan Yazid bin Muawiyah daripada berbaiat kepada penguasa yang mereka anggap tirani. Ia memilih “kematian yang mulia” di atas “kehidupan yang hina”.

Dalam tradisi ini, mati di jalan kebenaran (syahadah) bukanlah kekalahan. Namun, ia adalah kemenangan tertinggi. Air mata yang tumpah di majelis duka setiap bulan Muharram bukan sekadar ekspresi kesedihan. Lebih dari itu, ia adalah bahan bakar bagi perlawanan abadi terhadap kezaliman, kapan pun dan di mana pun.

Ketika Ayatollah Ali Khamenei gugur dalam serangan gabungan AS-Israel pada pungkasan Februari 2026, sahutan yang terbit bukanlah ketakutan atau kepanikan. Di jalan-jalan Teheran, Baghdad, dan Beirut, bendera merah, simbol darah Husain yang tertumpah, dikibarkan di setiap sudut. Para pemimpin milisi seperti Abu Husain Al-Hamidawi dari Hizbullah Irak justru mengucapkan selamat atas “cara kematian yang mulia” sang Rahbar (pemimpin tertinggi).

Untuk kita yang tidak paham tradisi Syiah, ini adalah bahasa yang mengerikan. Namun, bagi mereka yang tumbuh dalam tradisi Karbala, ini adalah puncak pencapaian spiritual. Khamenei tidak mati di ranjang karena sakit, ia dimaknai mati di medan perang melawan Yazid (Trump-Netanyahu) zaman ini. Darahnya, seperti darah Husain, akan menjadi benih yang menumbuhkan ribuan pejuang baru. Dia menjelma sebagai situs perlawanan, di mana serangan dan penghancuran atas musuh Iran adalah bagian dari warisannya.

Para analis Barat, dengan segala kecanggihan metodologinya, gagal memahami ini karena mereka masih terperangkap dalam asumsi bahwa semua aktor rasional ingin mempertahankan hidup. Mereka tidak memahami bahwa dalam “game theory” versi Karbala, kematian bisa menjadi kemenangan yang mulia, dan pengorbanan adalah investasi tertinggi.

Karbala bukanlah milik Syiah semata. Ia adalah milik semua orang yang percaya bahwa keadilan lebih berharga daripada kekuasaan, bahwa kebenaran lebih mahal daripada nyawa. Namun Karbala juga mengajarkan bahwa perlawanan harus memiliki batas moral. Husain melarang pengikutnya memulai serangan lebih dulu. Ia memberi kesempatan pada musuh untuk berpikir ulang. Ia memastikan bahwa air tidak diputus dari pihak lawan sebelum perang dimulai. Ia bahkan melarang pengikutnya membunuh tentara Yazid yang melarikan diri. Iran dalam hal ini diserang dan sudah sepantasnya membela diri dan melawan balik.

Di sinilah letak pelajaran terpenting Karbala untuk dunia yang sedang terbakar api perang hari ini bahwa tujuan tidak menghalalkan segala cara seperti ajaran Machiavelli. Bahwa membela yang benar tidak berarti menggunakan cara-cara yang salah. Bahwa darah yang tumpah di medan perang adalah darah yang harus dipertanggungjawabkan, baik di hadapan sejarah maupun di hadapan Tuhan.

Semoga langit Timur Tengah segera kembali biru dan teduh. Dan, semoga Karbala tidak lagi menjadi saksi bisu pembantaian, namun menjelma sebagai inspirasi bagi perdamaian yang berkeadilan dan berkelanjutan.

Ridwan al-Makassary, Dosen Jurusan Ilmu Politik Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) dan Direktur Center of Muslim Politics and World Society (COMPOSE) UIII

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.