Fri,15 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Kasus FHUI: Mengapa Alasan “Cuma Bercanda” Adalah Benih Nyata Kekerasan Seksual?

Kasus FHUI: Mengapa Alasan “Cuma Bercanda” Adalah Benih Nyata Kekerasan Seksual?

kasus-fhui:-mengapa-alasan-“cuma-bercanda”-adalah-benih-nyata-kekerasan-seksual?
Kasus FHUI: Mengapa Alasan “Cuma Bercanda” Adalah Benih Nyata Kekerasan Seksual?
service

Bincangperempuan.com- Baru-baru ini, sebuah tangkapan layar percakapan grup mahasiswa tersebar luas di media sosial. Isinya penuh ungkapan seksual vulgar, fantasi tindakan seksual terhadap perempuan yang dikenal, serta komentar yang menjadikan tubuh perempuan sekadar objek. Anggota grup itu bukan sembarang mahasiswa. Mereka adalah mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FHUI), dan sebagian besar menduduki jabatan strategis seperti ketua pelaksana, ketua divisi, ketua angkatan, hingga ketua organisasi mahasiswa

Tak lama setelah tangkapan layar itu beredar, Badan Eksekutif Mahasiswa FHUI mengeluarkan pernyataan sikap yang mengecam keras. Situasi semakin memanas ketika mahasiswa lain menuntut agar 16 anggota grup tersebut disidang etik. Netizen pun terbelah: sebagian besar mengutuk, tetapi tak sedikit yang berkomentar ringan, “Oh, lagi apes aja.”

Padahal, dari kasus ini kita harus melihat lebih dalam. Akar kekerasan seksual sering bermula dari “candaan tongkrongan cowok” yang kita anggap biasa saja.

Kasus FHUI bukan satu-satunya. Belakangan, netizen juga mengungkap lagu yang dibuat angkatan Himpunan Mahasiswa Teknik (HMT) ITB 2020 berjudul “Erika”. Penggalan liriknya membuat banyak orang geram:

Oh… goyang Erika luar biasa

Oh… lebar pinggulnya hampir sedepa

Bila disenggolnya celana pasti terbuka

Walau sudah janda sempitnya masih terasa

Lirik semacam ini tidak pantas dianggap jadi sekadar kreativitas mahasiswa. Ini sudah objektifikasi vulgar yang menertawakan tubuh perempuan.

Baca juga: Humor Seksis Bukan Lelucon, Itu Bentuk Kekerasan Verbal

Mengapa Kasus Ini Jadi Masalah?

Kedua kasus ini lahir dari akar yang sama yaitu budaya tongkrongan yang menganggap candaan mesum tentang tubuh perempuan itu lucu dan tidak berbahaya. Keduanya sama-sama menganggap lucu atau biasa saja objektifikasi terhadap tubuh perempuan. 

Dalam obrolan semacam itu, tubuh perempuan dijadikan semacam “barang review”: pinggul, dada, atau bagian intim lainnya dibahas seolah-olah sedang menilai barang. Dampaknya secara tak langsung yaitu muncul pemikiran kalau perempuan bukan lagi manusia utuh dengan pikiran, perasaan, dan martabat, melainkan sekadar objek seksual atau seonggok tubuh saja.

Bahayanya, ketika kekerasan seksual dikemas dalam bentuk rape joke—seperti kata “mainin”, “gasak”, atau fantasi liar lainnya—otak kita pelan-pelan terbiasa. Batas antara candaan dan tindakan nyata pun mengabur, semua itu selalu berhasil disembunyikan di balik dalih “cuma bercanda.”

Pola ini terkonfirmasi langsung dari mulut pelaku. Mengutip Jawa Pos, salah satu terduga dalam kasus FHUI, Valen, dalam sidang terbuka pada 13 April 2026 mengaku terang-terangan: “Tujuan dari ucapan yang saya sampaikan adalah hanya sekadar menimbulkan diskusi di grup… Saya mengaku bahwa saya tidak berpikir panjang… cuma bercanda.” Ia berdalih niatnya hanya “mancing obrolan” agar grup lebih ramai.

Pernyataan tersebut adalah cermin sempurna dari pembenaran kolektif seperti “ah namanya juga bercandaan cowok” atau “tongkrongan cowok memang begitu.” Akibatnya ada tekanan sosial terhadap sesama laki-laki, yang tidak ikut tertawa akan dicap “nggak asyik” atau “kaku”. Akibatnya, grup chat hingga lagu-lagu seperti “Erika” berubah menjadi ruang aman untuk melampiaskan agresi tanpa takut konsekuensi.

Bagaimana Candaan Bisa Berujung Kepada Kekerasan

Korelasi antara candaan dan kekerasan punya fakta ilmiah. Ryan dan Kanjorski (1998) dalam studinya terhadap 399 mahasiswa menemukan bahwa kenikmatan terhadap lelucon seksis berkorelasi positif dengan sikap mendukung pemerkosaan dan agresi seksual. Laki-laki yang menikmati joke semacam itu cenderung lebih agresif terhadap perempuan.

Sejalan dengan itu, penelitian Yasmine dan Gusnita (2024) di Indonesia menunjukkan bagaimana mahasiswa menggunakan teknik netralisasi untuk membenarkan perilaku mereka. Dengan dalih “cuma ikut teman” atau “ini tanda keakraban”, pelecehan verbal yang dibungkus candaan akhirnya tampak normal.

Normalisasi inilah yang memperkuat lingkaran setan. Pembelaan seperti “jangan lebay” membuat pelaku merasa aman, sementara korban dipaksa merasa “terlalu sensitif”. Dampaknya bagi perempuan, bisa menciptakan rasa tidak aman yang konstan di mana pun mereka berada. Bahkan, banyak perempuan mulai terjebak dalam self-objectification—memandang dirinya sendiri sebagai objek karena terbiasa diposisikan demikian.

Baca juga: Meme Cangkul dan Kapak: Kekerasan terhadap Perempuan Bukan Bahan Candaan

Ironisnya, budaya toxic ini justru lahir di lingkungan calon penegak hukum yang seharusnya paham etika dan keadilan. Kita tidak bisa lagi pura-pura ini hal sepele. Jika kita masih tertawa saat tubuh perempuan dijadikan bahan lelucon, kita sedang menyiram benih kekerasan. Setiap kali kita diam saat teman bercanda mesum, kita sedang ikut merawat akar masalahnya.

Sudah saatnya kita berhenti. Berhenti menormalisasi rape jokes dan objektifikasi. Berani tegur kalau sebuah joke membuat perempuan merasa terancam, itu sudah bentuk dari pelecehan. Mulai dari tongkrongan kecil, dari grup chat, hingga lagu-lagu kampus, katakan langsung “Bro, ini nggak lucu.” Karena perubahan besar dimulai dari satu teguran yang kita berani suarakan.

Referensi:

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.