Wed,22 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lifestyle
  3. Kebiasaan Sederhana Sebelum Tidur Ini Bisa Bantu Melatih Emosi dan Bahasa Anak

Kebiasaan Sederhana Sebelum Tidur Ini Bisa Bantu Melatih Emosi dan Bahasa Anak

kebiasaan-sederhana-sebelum-tidur-ini-bisa-bantu-melatih-emosi-dan-bahasa-anak
Kebiasaan Sederhana Sebelum Tidur Ini Bisa Bantu Melatih Emosi dan Bahasa Anak
service

Tumbuh kembang anak dipengaruhi oleh banyak hal, termasuk rutinitas yang dilakukan setiap hari. Di tengah kesibukan Bunda, momen-momen singkat yang dilakukan secara konsisten sering kali memberikan dampak yang lebih besar daripada yang dibayangkan.

Salah satu waktu yang memiliki potensi besar untuk mendukung perkembangan anak adalah menjelang tidur. Pada waktu ini, suasana di rumah biasanya menjadi lebih tenang sehingga Si Kecil lebih mudah merasa nyaman dan fokus. Momen tersebut dapat Bunda lakukan aktivitas sederhana yang bermanfaat untuk tumbuh kembangnya.

Salah satu aktivitas yang bisa dilakukan adalah membacakan buku sebelum tidur. Dikutip dari Child Mind Institute, kebiasaan ini dapat menumbuhkan rasa penasaran dan imajinasi Si Kecil. Selain itu, membacakan buku secara rutin juga dapat mendorong minat anak untuk belajar membaca secara mandiri.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tak hanya menumbuhkan minat membaca, membacakan buku sebelum tidur juga dapat membantu meningkatkan kemampuan bahasa dan pengelolaan emosi Si Kecil, Bunda. Melalui komunikasi yang terjalin setiap hari, anak belajar mengenali perasaan, memahami cara mengekspresikannya, sekaligus memperkaya kosakata.

Selain meningkatkan kemampuan berbahasa, kebiasaan sederhana ini juga memberikan berbagai manfaat untuk anak, Bunda. Lantas, apa saja manfaat yang bisa anak dapatkan dari kebiasaan sederhana sebelum tidur ini?

Dilansir dari Child Mind Institute, membacakan buku sebagai pengantar tidur ternyata dapat memberikan berbagai manfaat bagi anak. Simak selengkapnya, Bunda.

1. Meningkatkan kemampuan berbahasa

Seorang ahli neuropsikologi, Laura Philips, PsyD, mengatakan bahwa setiap kalimat yang disampaikan Bunda dan Ayah berperan penting dalam membangun jalur bahasa Si Kecil.

Ia juga menambahkan, “Setiap kali Bunda membacakan buku dan mengucapkan setiap kalimatnya, hal tersebut dapat membantu meningkatkan kemampuan bahasa dan kognitif anak,” ujarnya seperti dikutip dari Child Mind Institute.

Data dari sebuah penelitian menunjukkan bahwa anak yang dibacakan buku setiap hari oleh orang tuanya terpapar setidaknya 290.000 kata lebih banyak saat memasuki taman kanak-kanak dibandingkan dengan anak yang tidak dibacakan buku secara rutin.

Namun, jumlah paparan kata tersebut bergantung pada durasi membaca yang dilakukan setiap hari, Bunda. Semakin sering anak dibacakan buku, semakin besar pula kesempatan mereka untuk memperkaya kosakata, dan meningkatkan kemampuan memahami bacaan, serta mengembangkan keterampilan literasi yang akan bermanfaat baik di sekolah maupun dalam kehidupan sehari-hari.

Dr. Philips juga menegaskan, “Setiap buku yang dibacakan tentu dapat mengenalkan kosakata baru dan menarik rasa penasaran anak untuk menggabungkan kata-kata, sehingga memperluas kemampuan mereka dalam memahami dan menggunakan bahasa,” katanya, seperti dikutip dari Child Mind Institute.

2. Empati dan kesadaran emosional

Saat Bunda membacakan buku untuk anak juga dapat menumbuhkan rasa empati sejak dini. Misalnya Bunda menceritakan kisah orang-orang yang kehidupannya berbeda dari kehidupan Si Kecil, terutama cerita yang disampaikan dari sudut pandang orang tersebut. Hal itu tentu akan mendapatkan apresiasi terhadap perasaan orang lain, budaya, gaya hidup, dan perspektif lain.

Melalui buku, anak-anak juga dapat belajar cara mengelola perasaan dengan sehat. Ketika melihat karakter dalam buku mengalami emosi yang kuat, seperti marah atau sedih, Bunda dapat menyampaikan bahwa perasaan tersebut merupakan hal yang normal. Selain itu, Bunda juga dapat memberikan kesempatan kepada anak untuk membicarakan perasaan yang mungkin sulit mereka ungkapkan.

Hal ini dapat menjadi momen untuk menumbuhkan kesadaran emosional anak sekaligus membangun kemampuannya dalam menangani berbagai perasaan. Dalam proses tersebut, Bunda dapat mengajukan pertanyaan seperti, “Pernahkah kamu merasa marah seperti gadis dalam buku ini? Lalu, apa yang akan kamu lakukan jika merasakan hal tersebut?”

3. Meningkatkan kualitas ikatan orang tua dan anak

Selain meningkatkan kemampuan berbahasa dan membantu anak mengelola emosi, membacakan kisah sebelum tidur juga dapat memperkuat ikatan antara Bunda dan Si Kecil. Bahkan, beberapa menit membaca bersama dapat menjadi kesempatan bagi Bunda dan anak untuk bersantai, terhubung satu sama lain, serta menikmati aktivitas yang menyenangkan.

Terlebih, momen kebersamaan yang nyaman tersebut bermanfaat bagi perkembangan kognitif anak, terutama pada usia dini. Pengalaman sensorik saat duduk bersama Bunda, mendengarkan suara yang familiar, serta merasakan buku di tangan ternyata memiliki peran penting dalam perkembangan otak anak.

Dr. Philips juga membenarkan hal tersebut dan mengatakan, “Mendengarkan cerita melalui buku yang dibacakan oleh teknologi Alexa tentu berbeda dan tidak memberikan manfaat holistik yang sama bagi anak-anak,” ucapnya, seperti dikutip dari Child Mind Institute.

Ketika kemampuan berbahasa anak sedang berkembang, setiap kalimat yang mereka dengar dan bahasa yang disampaikan bersamaan dengan pengalaman sensorik akan membuat paparan tersebut menjadi lebih bermakna.

Dr. Philips menyampaikan, “Kontak fisik yang anak dapatkan ketika Bunda menggendong dan membacakan buku sebetulnya membantu mengaktifkan neuron di otak. Hal ini membuat anak-anak lebih reseptif terhadap bahasa dan stimulasi kognitif yang mereka peroleh dari pengalaman tersebut,” ujar Dr. Philips, seperti dikutip dari Child Mind Institute.

Tahap perkembangan otak anak

Dikutip dari Raising Children Network, Bunda dapat memantau fase perkembangan otak anak pada setiap tahap usia untuk mendukung perkembangan kemampuan berbahasa dan pengelolaan emosi. Simak selengkapnya.

1. Usia 3-12 bulan

Sejak usia 3 bulan, umumnya bayi mulai menunjukkan perkembangan kemampuan berbahasa dengan mengeluarkan suara-suara kecil, tersenyum, dan tertawa sebagai bentuk respons terhadap orang di sekitarnya. Seiring bertambahnya usia, mereka juga mulai bereksplorasi dengan berbagai suara serta berkomunikasi melalui gerakan sederhana, seperti melambaikan tangan atau menunjuk.

Memasuki usia 4–6 bulan, biasanya bayi akan mulai memasuki fase mengoceh atau babbling. Pada tahap ini, mereka akan mengucapkan bunyi satu suku kata, seperti “ba” yang kemudian diulang menjadi “ba-ba-ba”. Meski belum memiliki makna, ocehan ini merupakan bagian penting dari proses belajar berbicara.

Setelah fase mengoceh, bayi akan memasuki fase jargon. Pada tahap ini, mereka sering kali terdengar seperti sedang berbicara dalam kalimat dengan intonasi yang menyerupai percakapan. Namun, ucapan tersebut masih berupa rangkaian bunyi yang belum membentuk kata-kata yang dapat dikenali.

Saat memasuki usia sekitar 10–11 bulan, sebagian bayi mulai mengucapkan kata pertamanya secara bermakna. Mereka tidak hanya mampu mengucapkannya, tetapi juga mulai memahami arti dari kata tersebut.

Bunda juga perlu memperhatikan, jika bayi belum mulai mengoceh saat berusia enam bulan atau belum bisa menggunakan isyarat komunikasi, seperti menunjuk atau melambaikan tangan saat memasuki usia 12 bulan, disarankan Bunda untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan anak untuk mendapatkan evaluasi lebih lanjut. 

2. Usia 1-2 tahun

Memasuki usia 12–18 bulan, biasanya kemampuan berbahasa anak berkembang semakin pesat. Pada tahap ini, mereka umumnya sudah dapat mengucapkan beberapa kata sederhana sekaligus memahami maknanya. Misalnya, saat Si Kecil mengucapkan kata “papa”, ia mungkin sedang memanggil ayahnya.

Seiring bertambahnya usia, penambahan jumlah kosakata anak akan terus meningkat. Meski jumlah kata yang dapat diucapkan masih terbatas, kemampuan mereka dalam memahami ucapan orang lain biasanya jauh lebih baik. Anak juga mulai mampu mengikuti instruksi sederhana, seperti “Duduk” atau “Ambil bola”.

Saat menginjak usia 18 bulan hingga 2 tahun, sebagian besar balita mulai mampu merangkai dua kata menjadi kalimat pendek, misalnya “mau susu” atau “bola jatuh”. Pada masa ini, mereka juga semakin memahami percakapan sehari-hari. Pada umumnya, Bunda dan Ayah dapat mengerti sebagian besar ucapan anak, sementara orang lain mungkin sudah dapat memahami sekitar setengah dari apa yang disampaikan balita.

Meski setiap anak memiliki kecepatan perkembangan yang berbeda, Bunda perlu mewaspadai apabila Si Kecil belum bisa mengucapkan satu kata pun saat berusia 18 bulan, atau belum mampu menggabungkan dua kata ketika menginjak usia dua tahun. Jika hal tersebut terjadi, sebaiknya konsultasikan dengan tenaga kesehatan anak untuk mendapatkan penilaian dan penanganan yang tepat.

3. Usia 2-3 tahun

Saat memasuki usia tiga tahun, kemampuan berbicara Si Kecil biasanya berkembang semakin pesat. Ia mulai mampu mengucapkan kata-kata dengan lebih jelas serta menyusun kalimat sederhana yang terdiri dari tiga kata atau lebih.

Pada tahap ini, Si Kecil juga kerap berbicara sambil bermain sebagai bagian dari proses belajar dan mengeksplorasi lingkungan sekitarnya. Ucapannya pun semakin mudah dipahami, sehingga orang yang tidak terbiasa berinteraksi dengannya umumnya sudah dapat mengerti sekitar tiga perempat dari apa yang disampaikannya. 

4. Usia 3-5 tahun

Pada tahap ini, Bunda dapat mulai menikmati percakapan yang lebih panjang dan kompleks dengan Si Kecil. Ia sudah mampu mengungkapkan pikiran, perasaan, serta rasa penasarannya melalui berbagai pertanyaan, termasuk tentang orang, tempat, atau peristiwa yang tidak sedang berada di hadapannya. Misalnya, Si Kecil mungkin bertanya, “Apakah di rumah Nenek juga sedang hujan?”

Kosakata Si Kecil akan terus bertambah sehingga ia semakin leluasa membahas beragam topik. Kemampuan berbahasanya pun semakin matang. Hal ini terlihat dari kemampuannya menggunakan tata bahasa sederhana serta kata penghubung seperti “karena”, “jika”, “jadi”, atau “ketika” untuk menyusun kalimat yang lebih utuh.

Tak jarang, Si Kecil juga mulai aktif bercerita dengan kisah-kisah imajinatif yang menggemaskan, sehingga menggambarkan pesatnya perkembangan kemampuan komunikasinya.

5. Usia 5-8 tahun

Selama masa awal sekolah, kemampuan bahasa anak akan terus berkembang dengan pesat. Ia akan memperluas kosakata dan mulai memahami bagaimana bunyi-bunyi dalam bahasa saling berkaitan untuk membentuk kata serta kalimat.

Kemudian, anak juga akan semakin terampil bercerita karena mulai mampu menyusun kata dengan lebih beragam dan membuat kalimat yang lebih kompleks. Perkembangan kemampuan bahasa ini membantu anak menyampaikan ide, perasaan, serta pendapatnya dengan lebih jelas.

Ketika memasuki usia sekitar 8 tahun, umumnya anak sudah mampu melakukan percakapan dengan struktur dan cara berkomunikasi yang semakin menyerupai orang dewasa.

Itulah kebiasaan sederhana sebelum tidur yang dapat melatih emosi dan meningkatkan kemampuan bahasa anak. Semoga bermanfaat untuk perkembangan Si Kecil, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(rap/rap)

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.