Wed,5 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Environment
  3. Kekejaman Satwa di Dunia Maya Kian Mengkhawatirkan

Kekejaman Satwa di Dunia Maya Kian Mengkhawatirkan

kekejaman-satwa-di-dunia-maya-kian-mengkhawatirkan
Kekejaman Satwa di Dunia Maya Kian Mengkhawatirkan
service

Kekejaman satwa di media sosial (medsos) telah mencapai pada tahap mengkhawatirkan. Di banyak negara, pelaku sengaja mempertontonkan adegan kekerasan satwa menjadi konten demi meraup cuan hingga miliaran juta dolar, termasuk Indonesia. Berangkat dari situasi itu, untuk kali pertama, puluhan organisasi perlindungan satwa yang tergabung dalam Asia for Animals Coalition (AfA) menggelar pertemuan bertajuk Social Media Animal Cruelty Coalition (SMACC) 11-12 Juni di Bali. Pertemuan yang menghadirkan para pakar, praktisi, Non Government Organization (NGO) dan berbagai pihak berkepentingan, termasuk penyedia platform, ini mencari kerangka yang tepat memerangi kekejaman satwa di dunia maya. Nicola O’Brien, Lead Coordinator AfA mengatakan, praktik kekejaman satwa  menyebar dalam skala yang lebih besar. Praktik itu tentu tidak bisa diselesaikan hanya oleh satu organisasi, platform atau pemerintah. “Ini bukan hanya soal krisis kesejahteraan hewan saja, tetapi juga persoalan keamanan digital, tata kelola, dan kepercayaan publik,” katanya dalam pertemuan bertema ‘Building Cross-Sector Collaboration to End Online Animal Cruelty’ itu. AfA, kata Nicola, merancang kegiatan itu sebagai ruang konstruktif bagi para pemangku kepentingan untuk memperdalam pemahaman mengenai ancaman daring yang terus berkembang. Selain itu, para peserta juga dapat berbagi pengalaman lapangan, saling mengeksplorasi langkah-langkah praktis guna memperkuat tata kelola digital, hingga penegakan hukum. Karena itu, forum ini tidak hanya menghadirkan para ahli, NGO dan praktisi, tetapi juga perwakilan platform untuk bersama-sama mewujudkan tindakan nyata memerangi praktik tersebut. “Kita membutuhkan dialog yang jujur, sistem yang lebih kuat dan respons yang terkoordinasi dan memahami penderitaan nyata di balik konten-konten tersebut.” AfA merupakan jaringan internasional dengan lebih dari 400 organisasi perlindungan satwa di…This article was originally published on Mongabay

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.