Kekejaman satwa di media sosial (medsos) telah mencapai pada tahap mengkhawatirkan. Di banyak negara, pelaku sengaja mempertontonkan adegan kekerasan satwa menjadi konten demi meraup cuan hingga miliaran juta dolar, termasuk Indonesia. Berangkat dari situasi itu, untuk kali pertama, puluhan organisasi perlindungan satwa yang tergabung dalam Asia for Animals Coalition (AfA) menggelar pertemuan bertajuk Social Media Animal Cruelty Coalition (SMACC) 11-12 Juni di Bali. Pertemuan yang menghadirkan para pakar, praktisi, Non Government Organization (NGO) dan berbagai pihak berkepentingan, termasuk penyedia platform, ini mencari kerangka yang tepat memerangi kekejaman satwa di dunia maya. Nicola O’Brien, Lead Coordinator AfA mengatakan, praktik kekejaman satwa menyebar dalam skala yang lebih besar. Praktik itu tentu tidak bisa diselesaikan hanya oleh satu organisasi, platform atau pemerintah. “Ini bukan hanya soal krisis kesejahteraan hewan saja, tetapi juga persoalan keamanan digital, tata kelola, dan kepercayaan publik,” katanya dalam pertemuan bertema ‘Building Cross-Sector Collaboration to End Online Animal Cruelty’ itu. AfA, kata Nicola, merancang kegiatan itu sebagai ruang konstruktif bagi para pemangku kepentingan untuk memperdalam pemahaman mengenai ancaman daring yang terus berkembang. Selain itu, para peserta juga dapat berbagi pengalaman lapangan, saling mengeksplorasi langkah-langkah praktis guna memperkuat tata kelola digital, hingga penegakan hukum. Karena itu, forum ini tidak hanya menghadirkan para ahli, NGO dan praktisi, tetapi juga perwakilan platform untuk bersama-sama mewujudkan tindakan nyata memerangi praktik tersebut. “Kita membutuhkan dialog yang jujur, sistem yang lebih kuat dan respons yang terkoordinasi dan memahami penderitaan nyata di balik konten-konten tersebut.” AfA merupakan jaringan internasional dengan lebih dari 400 organisasi perlindungan satwa di…This article was originally published on Mongabay
Kekejaman Satwa di Dunia Maya Kian Mengkhawatirkan
Kekejaman Satwa di Dunia Maya Kian Mengkhawatirkan





Comments are closed.