Tue,21 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Kemaslahatan (Maslahah) dalam Paradigma Mubadalah

Kemaslahatan (Maslahah) dalam Paradigma Mubadalah

kemaslahatan-(maslahah)-dalam-paradigma-mubadalah
Kemaslahatan (Maslahah) dalam Paradigma Mubadalah
service

Mubadalah.id Maslahah berarti kebaikan, manfaat, atau segala sesuatu yang membawa keberlangsungan dan kesejahteraan hidup manusia. Dalam tradisi ushul fiqh, maslahah dipahami sebagai orientasi utama syariah: menjaga agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Dengan kata lain, hukum Islam tidak berhenti pada teks normatif, tetapi diarahkan untuk menghadirkan manfaat nyata dan mencegah kerusakan. Syariah hadir untuk kehidupan, bukan kehidupan dipaksa tunduk pada bentuk-bentuk yang justru merusaknya.

Dalam paradigma Mubadalah, kemaslahatan tidak dipahami secara individual dan sepihak, melainkan relasional. Kebaikan yang dicari bukan keuntungan satu pihak dengan mengorbankan yang lain, tetapi kebaikan bersama yang menghormati martabat dan ditegakkan melalui keadilan. Maslahah yang lahir dari dominasi, manipulasi, atau pengorbanan sepihak bukanlah maslahah yang sah, karena ia bertentangan dengan prinsip martabat (martabah–karamah) dan keadilan (‘adalah). Dalam kerangka ini, maslahah selalu berdiri di atas dua fondasi: pengakuan bahwa setiap manusia bermartabat dan komitmen bahwa relasi harus adil.

Kemaslahatan juga bersifat dinamis. Ia mempertimbangkan konteks sosial, pengalaman hidup, kebutuhan riil, serta perubahan zaman. Karena itu, maslahah tidak boleh kita bekukan dalam satu bentuk historis tertentu. Dalam relasi laki-laki dan perempuan, misalnya, kemaslahatan menuntut kerja sama yang relevan dengan realitas sosial yang mereka hadapi. Jika kondisi ekonomi menuntut kontribusi kedua pihak, maka kerja sama itu menjadi bagian dari maslahah. Jika perlindungan terhadap yang rentan menjadi kebutuhan mendesak, maka kebijakan dan praktik harus kita arahkan ke sana. Tanpa keadilan, maslahah mudah orang-orang salahgunakan untuk membenarkan kepentingan yang kuat. Tanpa pengakuan atas martabat, ia bisa tergelincir menjadi pragmatis dan utilitarian.

Martabat dan Keadilan

Dalam tiga prinsip dasar relasi Mubadalah, maslahah adalah tujuan akhir yang hendak ia capai melalui penghormatan pada martabat dan penegakan keadilan. Relasi dapat kita mulai dengan cara pandang bahwa kedua pihak sama-sama manusia yang mulia, lalu bergerak melalui tindakan yang adil, dan bermuara pada terwujudnya kemaslahatan bersama. Dengan demikian, kesalingan bukan sekadar wacana moral, tetapi mekanisme konkret untuk menghasilkan kehidupan yang lebih aman, setara, dan bermakna.

Sekalipun maslahah menjadi tujuan, dalam relasi Mubadalah kedua pihak harus memiliki keyakinan bahwa ia dan pasangannya sama-sama memiliki kapasitas untuk mewujudkan kebaikan dan sama-sama berhak atasnya. Tidak ada satu pihak yang sekadar penerima manfaat, sementara yang lain produsen tunggal kebaikan. Setiap orang membawa potensi, meski dalam kadar dan bentuk yang berbeda. Keyakinan ini melahirkan relasi yang saling percaya dan saling menguatkan.

Urutannya jelas: pertama, cara pandang yang memuliakan (martabah–karamah); kedua, tindakan yang adil (‘adalah); ketiga, terwujudnya kemaslahatan (maslahah). Dalam praktiknya, jika satu pihak memiliki kapasitas lebih—secara ekonomi, pendidikan, fisik, atau sosial—maka ia bergerak menguatkan yang kurang, bukan menekan. Namun pada aspek lain, bisa saja peran itu bergantian. Dengan kerja sama semacam ini, potensi masing-masing termaksimalkan dan kemaslahatan tidak hanya kita wujudkan, tetapi juga nikmati bersama.

Manusia Bermartabat

Jika kita terapkan dalam relasi gender, laki-laki dan perempuan harus memandang diri dan pasangannya sebagai manusia bermartabat, meyakini kapasitas masing-masing, serta mengakui hak keduanya atas kebaikan hidup. Dari sini lahir kerja sama yang tidak dominatif. Ketika perbedaan kapasitas muncul, kelebihan menjadi alat pemberdayaan, bukan instrumen kontrol. Keduanya bisa saling menopang dan bergantian peran. Sehingga kehidupan keluarga, masyarakat, bahkan relasi dengan alam bergerak menuju kemaslahatan yang lebih luas.

Demikianlah tiga prinsip relasi Mubadalah bekerja secara integral: martabat sebagai fondasi, keadilan sebagai jalan, dan kemaslahatan sebagai tujuan. Ketika ketiganya ia jalankan secara konsisten, relasi manusia tidak lagi menjadi arena perebutan kuasa. Tetapi ruang kolaborasi untuk menghadirkan kebaikan bersama—bagi diri, keluarga, masyarakat, dan semesta. []

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.