Sat,8 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Indonesiana
  3. Kepala BRIN Arif Satria Sebut Dua Negara Maju yang Wajib Dicontoh Indonesia

Kepala BRIN Arif Satria Sebut Dua Negara Maju yang Wajib Dicontoh Indonesia

kepala-brin-arif-satria-sebut-dua-negara-maju-yang-wajib-dicontoh-indonesia
Kepala BRIN Arif Satria Sebut Dua Negara Maju yang Wajib Dicontoh Indonesia
service

8 Agustus 2026 21.00 WIB • 2 menit

Arif Satria. (Foto: YouTube/Good News From Indonesia)


Arif Satria adalah akademikus Indonesia yang dikenal atas kontribusinya dalam bidang pendidikan tinggi, kebijakan kelautan, pembangunan pedesaan, dan inovasi. Namanya semakin dikenal luas setelah memimpinInstitut Pertanian Bogor (IPB) sebagai rektor pada 2017 hingga 2025.

Selama masa kepemimpinan Arif, IPB mampu mempertahankan reputasi internasional, termasuk berada di jajaran universitas terbaik dunia pada bidang Agriculture and Forestry menurut pemeringkatan QS World University Rankings. Di samping memimpin perguruan tinggi, ia turut aktif menyuarakan pentingnya penguatan ekosistem riset dan inovasi di Indonesia.

Kiprahnya di dunia pendidikan dan penelitian membuat karier Arif menanjak. Ia kemudian dipercaya memimpin Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada 10 November 2025 lalu.

Perkembangan BRIN Hari Ini

BRIN menjadi lembaga riset dari pemerintah yang terus bekerja dalam keheningan. Diam-diam berbagai pembangunan dan pengembangan institusi terus dilakukan sejak 2001. Dari situ, BRIN berharap perangkat regulasi hingga organisasi bisa tesusun dengan kuat sehingga hasil penelitian bisa membawa dampak bagi masyarakat.

“Jadi karena perangkat regulasi, perangkat aturan, perangkat organisasi sudah relatif establish meskipun kita akan tersempurnakan. Akan tetapi, kita sekarang fokus bagaimana program-program BRIN bisa membawa impact besar karena BRIN harus memberi harapan baru,” ucap Arif kepada Good News From Indonesia dalam segmen GoodTalk.

Arif meyakini bangsa yang maju di segala sektor ditopang berdasarkan research and development (R&D) yang kuat. Ia pun merasa BRIN dalam hal ini bisa diandalkan sebagai sumber inspirasi walaupun tidak menutup kemungkinan butuh banyak dukungan termasuk dari pihak swasta.

“BRIN harus menjadi inspirasi baru bagi bangsa ini. Karena kita tahu bahwa negara maju manapun kemajuan itu selalu ditopang R&D yang kita. Bisa oleh negara, bisa oleh swasta. Swasta sekarang sudah punya investasi sangat besar di berbagai negara maju untuk memperkuat R&D-nya,” kata Arif.

Dua Negara Contoh

Menjelang usia ke-81 tahun, Indonesia masih berada di dalam kategori negara berkembang. Pengamat meyakini salah satu penyebab Indonesia belum beranjak dari kategori itu karena tingkat pertumbuhan penduduk yang tinggi tidak sebanding dengan berkurangnya angka pengangguran.

Namun, untuk meraih kategori negara maju mungkin bukanlah sekadar impian belaka. Pemerintah memproyeksi pada 2036 Indonesia sanggup menduduki tempat ke-8 sebagai negara dengan ekonomi terbesar sehingga dapat menyandang status sebagai negara maju.

Untuk mencapai cita-cita itu tentu sedari dini seluruh elemen termasuk pemerintah harus bekerja keras dan belajar dari sejumlah negara maju. Ada dua negara maju yang menurut Arif bisa menjadi kiblat Indonesia, yaitu Tiongkok dan Korea Selatan.

“Satu Korea, dua Tiongkok. Itu dua negara yang relatif sama dengan kita,” ungkap Arif.

Bagi Arif, baik Tiongkok dan Korea mengalami lompatan yang luar biasa dalam tiga dekade terakhir. Khususnya Korea yang menurutnya andal dengan bisnis teknologinya, baik di industri otomotif maupun gawai karena didukung lembaga riset mumpuni.

“Saat Park Chung-hee menjadi presiden Korea, Pak Harto presiden Indonesia, PDB per kapita sama antara Korea dan Indonesia. Tapi Korea sekarang bisa luar biasa perkembangan teknologinya karena ekosistem risetnya kuat. Ada lembaga seperti KAIST (Korea Advanced Institute of Science and Tech) kemudian beberapa sains teknopark di sana juga berkembang,” ucap Arif lagi.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dimas Wahyu Indrajaya lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dimas Wahyu Indrajaya.

Tim Editorarrow

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.