Mubadalah.id – Dua diantara tiga perempuan di dunia hidup dalam kemiskinan. Dibanding lakilaki, bukan saja perempuan lebih berpeluang terjerat kemiskinan tetapi juga sering menjadi anggota termiskin dalam kelompok masyarakat miskin.
Jutaan perempuan terperangkap dalam lingkaran kemiskinan yang jauh sebelum mereka lahir. Bayi yang dilahirkan oleh ibu yang tidak dapat cukup makanan semasa hamil kemungkinan besar akan kurang berat badannya dan terhambat pertumbuhannya.
Dalam keluarga miskin, anak-anak perempuan lebih sulit memperoleh makanan yang cukup ketimbang anak laki-laki, sehingga pertumbuhan mereka jauh lebih terhambat. Anak-anak perempuan juga lebih sering tidak mendapatkan kesempatan memperoleh pendidikan, atau hanya sempat memperoleh pendidikan yang sangat rendah.
Karena itu mereka harus puas bekerja di sektor-sektor yang tidak memerlukan keterampilan serta menghasilkan upah yang lebih kecil daripada pekerjaan laki-laki (upah perempuan tetap lebih rendah meski jenis pekerjaannya sama dengan laki-laki).
Di dalam rumah, perempuan bekerja tanpa upah. Kelelahan yang parah, gizi kurang, dan sewaktu hamil tidak memperoleh perawatan yang memadai, menyebabkan perempuan. Serta anak-anaknya mendapat resiko kesehatan yang buruk.
Enam Dampak Kemiskinan
Lantaran miskin, perempuan akan mendapat berbagai kondisi yang mengancam kesehatan raga maupun mentalnya. Umpamanya, perempuan miskin sering:
Pertama, tinggal di rumah yang tidak sehat, tanpa fasilitas MCK yang memadai dan tanpa atau kurang pasokan air bersih.
Kedua, tidak mendapat cukup makanan yang baik, dan harus menghabiskan waktu serta energi untuk mencari bahan pangan yang terjangkau olehnya. Ketiga, terpaksa menerima pekerjaan yang membahayakan dengan jam kerja sangat panjang.
Keempat, tidak bisa memakai jasa layanan kesehatan, biarpun gratis, karena tidak bisa menyisihkan waktu dari jam kerja atau dari belitan tugas rumah tangga.
Kelima, terlalu sibuk berjuang mempertahankan hidup sehingga tidak ada atau hanya sedikit tersisa energi dan waktu untuk mengurus kebutuhannya sendiri, merencanakan masa depan yang lebih baik, atau belajar keterampilan-keterampilan baru.
Keenam, dipersalahkan atas kemiskinannya, dan dibuat merasa kurang penting jika dibanding dengan orang lain yang punya lebih banyak uang.
Kemiskinan kerap memaksa perempuan memasuki hubungan atau ikatan di mana hidupnya harus menggantungkan diri pada lelaki agar bisa bertahan hidup.
Jika seorang perempuan bergantung kepada seorang lelaki demi kehidupannya atau kehidupan anak-anaknya. Bahkan, ia akan selalu menjaga agar lelaki itu tetap senang, dengan melakukan hal-hal yang dapat membahayakan kesehatannya.
Misalnya, perempuan itu terpaksa membiarkan lelaki melakukan tindak kekerasan terhadap hidupnya, atau melakukan hubungan seksual yang tidak aman, gara-gara perempuan itu takut kehilangan pengayoman ekonomis dari laki-laki itu. []
*)Sumber Tulisan: Buku Bila Perempuan Tidak Ada Dokter





Comments are closed.