Salah satu pesan penting dan hikmah besar dalam pelaksanaan ibadah haji adalah kesetaraan di hadapan Allah swt. Pada momen ini, semua orang memiliki status yang sama, yaitu sebagai hamba yang sedang melaksanakan ibadah di Baitullah. Tidak ada perbedaan antara orang kaya, miskin, pejabat, kiai, tokoh agama, dan lain sebagainya.
Naskah khutbah Jumat berikut ini dengan judul, “Khutbah Jumat: Haji dan Pesan Kesetaraan Manusia di Hadapan Allah”. Untuk mencetak naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau bawah artikel ini (pada tampilan desktop). Semoga bermanfaat!
Khutbah I
الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَنْزَلَ الْأَحْكَامَ لِإِمْضَاءِ عِلْمِهِ الْقَدِيمِ، وَأَجْزَلَ الْإِنْعَامَ لِشَاكِرِ فَضْلِهِ الْعَمِيمِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ الْبَرُّ الرَّحِيمُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الْمَبْعُوثُ بِالدِّينِ الْقَوِيمِ، صَلَّى اللّٰهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ أَفْضَلَ الصَّلَاةِ وَالتَّسْلِيمِ، أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللَّهِ الْكَرِيمِ، فَإِنِّي أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ الْحَكِيمِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ: وَأَذِّن فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِن كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ.
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Puji syukur alhamdulillahi rabbil alamin, atas segala nikmat dan karunia yang Allah swt berikan kepada kita semua, sehingga kita bisa menunaikan ibadah shalat Jumat dalam keadaan sehat wal afiat. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita, Nabi Agung Muhammad saw, beserta para sahabat dan keluarganya.
Selanjutnya, sudah menjadi kewajiban bagi kami selaku khatib pada pelaksanaan shalat Jumat ini, untuk senantiasa mengajak jamaah sekalian untuk terus berusaha dan berupaya meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah swt. Karenanya, mari kita gunakan sisa umur kita di dunia ini untuk terus berusaha meningkatkan iman dan takwa, dengan mengerjakan segala yang diperintahkan dan menjauhi larangan-Nya.
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Dua hari yang lalu, seluruh umat Islam di penjuru dunia merayakan Hari Raya Idul Adha 1446 H. Pada momen tersebut, seruan takbir, tahmid, dan tahlil terdengar di mana-mana untuk mengingatkan kita akan kebesaran Allah swt. Pada momen itu juga, hewan-hewan kurban disembelih sebagai bentuk kepatuhan kita kepada-Nya.
Selain itu, momen luar biasa yang tidak kalah penting untuk kita renungi bersama yang bertepatan dengan Idul Adha adalah pelaksanaan ibadah haji di Baitullah. Umat Islam dari seluruh penjuru dunia datang berbondong-bondong untuk melaksanakan rukun Islam kelima tersebut. Mereka datang dari berbagai negara dengan tujuan yang sama, yaitu untuk menunaikan seruan haji dari Allah swt.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
وَأَذِّن فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالا وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِن كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ
Artinya, “(Wahai Ibrahim), serulah manusia untuk (mengerjakan) haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh.” (QS. Al-Hajj: 27).
Membaca ayat tersebut semakin menguatkan keyakinan kita akan kebenaran Al-Qur’an. Sebab, ayat ini Allah turunkan kepada Nabi Muhammad saat jumlah umat Islam masih sangat sedikit, dan belum tersebar ke mana-mana. Akan tetapi Allah sudah memastikan bahwa panggilan dan seruan haji akan dijawab oleh jutaan manusia dari segenap penjuru dunia.
Dan saat ini, kita sama-sama menyaksikan jutaan umat Islam dari penjuru dunia datang untuk memenuhi seruan itu, mulai dari Indonesia hingga Maroko, dari Nigeria hingga Kazakhstan, dan dari Amerika hingga Eropa, semua datang untuk memenuhi seruan tersebut.
Berkaitan dengan hal ini, Syekh Muhammad Ali as-Shabuni dalam kitab Tafsir Rawai’ul Bayan fi Tafsiri Ayatil Ahkam, jilid I, halaman 406, mengatakan:
تَوَجَّهَ النَّاسُ مِنْ مَشَارِقِ الْأَرْضِ وَمَغَارِبِهَا إِلىَ هَذِهِ الْبِلاَدِ الْمُقَدَّسَةِ، يَأْتُوْنَ إِلَيْهَا مِن كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ لِأَدَاءِ الْمَنَاسِكِ مِنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ
Artinya, “Manusia datang dari timur dan barat bumi menuju negeri yang suci ini, mereka mendatanginya dari segenap penjuru yang jauh untuk melaksanakan ibadah haji dan umrah.”
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Pada momen inilah terdapat hikmah luar biasa dari ibadah haji dan umrah yang penting kita ketahui bersama, yaitu pesan kesetaraan di hadapan Allah swt. Bayangkan, raja dan rakyat jelata menggunakan pakaian yang sama, presiden dan petani berdiri berdampingan dalam barisan yang sama dan pakaian yang sama pula.
Tidak hanya itu, orang-orang yang berkulit putih, hitam, kuning, dan yang lain berbaur menjadi satu dengan pakaian yang sama juga, sembari menyerukan kalimat talbiyah:
لَبَّيْكَ اَللّٰهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ، لَا شَرِيْكَ لَكَ
Artinya, “Aku penuhi panggilan-Mu, ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu. Aku penuhi panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, aku penuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat, dan kerajaan hanya milik-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu.”
Inilah salah satu hikmah terbesar yang ada dalam ibadah haji, yaitu kesetaraan manusia. Pada momen ini, tidak ada perbedaan warna kulit, tidak ada batas negara, dan tidak ada sekat antara ras, suku, budaya, mazhab, aliran, maupun jabatan. Semua lebur menjadi satu sebagai hamba Allah.
Penjelasan ini sebagaimana disampaikan oleh Syekh Muhammad Mutawalli asy-Syarawi dalam kitab Fatawa Kullu ma Yahummul Muslim fi Hayatih wa Yaumih, halaman 553:
وَفِي جَلَالِ هَذِهِ الْوَحْدَةِ تَنْصَهِرُ الْأَجْنَاسُ وَالْأَلْوَانُ وَاللُّغَاتُ، وَتَذُوبُ الْعَصَبِيَّاتُ وَالْبِيئَاتُ وَالطَّبَقَاتُ، فَلَا نَسَبَ إِلَّا إِلَى الْإِسْلَامِ، وَلَا حَسَبَ إِلَّا فِي الْإِيمَانِ
Artinya, “Dan dalam keagungan persatuan ini, meleburlah ras-ras, warna kulit, dan bahasa-bahasa, serta hancurlah fanatisme kesukuan, lingkungan, dan tingkatan-tingkatan. Maka tidak ada nasab kecuali kepada Islam, dan tidak ada kedudukan kecuali dalam keimanan.”
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Oleh sebab itu, mari kita jadikan momentum Idul Adha dan musim haji ini sebagai momen untuk memperbaiki cara pandang dan cara penilaian kita terhadap sesama. Mari kita hapus sikap diskriminatif dalam hati dan perilaku kita, kemudian kita tanamkan persaudaraan yang tulus antar sesama yang tidak didasarkan pada ras, status sosial, mazhab, jabatan, dan lainnya, melainkan pada iman dan ketakwaan.
Demikian adanya khutbah Jumat tentang ibadah haji dan pesan kesetaraan di hadapan Allah. Semoga menjadi khutbah yang bermanfaat dan membawa berkah bagi kita semua, serta saudara-saudara kita yang sedang menunaikan ibadah haji diterima oleh-Nya dan tergolong dalam haji yang mabrur. Amin ya rabbal alamin.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ، وَنَفَعَنِيْ وَاِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ جَمِيْعَ أَعْمَالِنَا إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، اِلَهٌ لَمْ يَزَلْ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيْلًا. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَحَبِيْبُهُ وَخَلِيْلُهُ، أَكْرَمُ الْأَوَّلِيْنَ وَالْأَخِرِيْنَ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ كَانَ لَهُمْ مِنَ التَّابِعِيْنَ، صَلَاةً دَائِمَةً بِدَوَامِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِيْنَ
أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ وَالصَّوْمِ وَجَمِيْعِ الْمَأْمُوْرَاتِ وَالْوَاجِبَاتِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ بِنَفْسِهِ. وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِيْ العَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وِالْأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَةً، اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرُكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
——-
Sunnatullah, Pengajar di Pondok Pesantren Al-Hikmah Darussalam Durjan Kokop Bangkalan Jawa Timur.





Comments are closed.