Khutbah I
الْحَمْدُ لله فَاطِرِ الْأَرْضِ وَالسَّمَوَاتِ، وَبَاعِثِ الْخَلْقِ بَعْدَ الْبِلَى وَالْمَمَاتِ؛ لِيَجْزِيَ الَّذِينَ أَحْسَنُوا بِالْحُسْنَى وَالَّذِينَ أَسَاءُوا بِالسَّيِّئَاتِ، أَشْهَدُ أَن لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ يُبَاهِي أَهْلَ السَّمَاءِ بِأَهْلِ عَرَفَاتٍ، وَيَهَبُ مُسِيئَهُمْ لِمُحْسِنِهِمْ وَيَغْفِرُ لَهُمُ التَّبِعَاتِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، الْعَلِيُّ شَأْنُهُ بَيْنَ الْكَائِنَاتِ
اللهم صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الدَّاعِيْ إِلَى الْخَيْرَاتِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أُولِي الْفَضَائِلِ وَأَرْبَابِ الْمَكْرَمَاتِ، وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِيْهِمْ بِالْحَسَنَاتِ مَا دَامَتِ الشَّمْسُ وَأَشْرَقَتِ الْكَوَاكِبُ النَّيِّرَاتُ أَمَّا بَعْدُ
فَيَا أيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ الله ، اِتَّقُوا اللهَ تَعَالَى حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ ، فَإِنَّ بِتَقْوَاهُ تَحْصُلُ السَّعَادَةُ وَالنَّجَاة. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطنِ الرَّجِيْمِ . بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ. إِنَّ الَّذِي فَرَضَ عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لَرَادُّكَ إِلَى مَعَادٍ قُلْ رَبِّي أَعْلَمُ مَنْ جَاءَ بِالْهُدَى وَمَنْ هُوَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
Maasyiral Musimin jamaah Jumat rahimakumullah,
Terdapat sebuah firman Allah yang jelas-jelas memberikan perintah sekaligus peringatan kepada seluruh hamba-Nya agar selalu bersyukur dan tak kufur. Firman Allah SWT :
وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ
Artinya: “(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.” (QS. Ibrahim: 7)
Syukur bukan hanya terucap dalam lisan saja, namun juga dimantapkan dalam hati serta diaktulisasikan dalam derap langkah kita setiap hari. Begitu juga, setiap apa-apa yang disyukuri oleh kita semua akan diberikan kenikmatan yang berlipat-lipat oleh Allah SWT.
Jangan sampai hidup kita kufur pada nikmat, karena kufur nikmat akan menyebabkan kenikmatan berikutnya sulit akan terealisasi. Termasuk kufur secara kolektif yakni bersyukur karena negara kita Indonesia kaya keberagaman juga potensial dalam pengembangan pertanian untuk mencukupi pangan.
Maasyiral Musimin jamaah Jumat rahimakumullah,
Tidak ada bangsa yang kuat kecuali memiliki kemandirian pangannya. Indonesia memiliki kekayaan kearifan pangan lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun. Dari Sabang sampai Merauke, setiap daerah menyimpan potensi pertanian yang menghasilkan pangan unik dan bernilai tinggi, baik sebagai sumber karbohidrat maupun protein.
Menurut Al-Syaibani, pertanian adalah sektor ekonomi prioritas karena menghasilkan kebutuhan dasar manusia yakni pangan dan bahan baku yang memberikan manfaat sosial besar. Ia mengklasifikasikan pertanian sebagai al a’mal al zira’ah yang lebih diutamakan. Ia juga menegaskan bahwa mencari nafkah melalui pertanian adalah kewajiban fardu ‘ain dan fardu kifayah yang sesuai dengan prinsip kemaslahatan dan keberkahan.
Tentu saja dalam sektor pertanian, kita menemukan nilai tolong menolong yang begitu baik tanpa mengenal kasta. Tidak mungkin seorang petani menanam padi, namun tidak boleh dimakan oleh orang yang beda ras dan agama. Petani menanam untuk kemashlatan tanpa memandang perbedaan.
Maasyiral Musimin jamaah Jumat rahimakumullah,
Tidak akan bisa seorang Muslim akan keluar dari kejumudan atau sulit menerima hal baru, jikalau tidak memahami bahwa agama juga harus memikirkan masalah pangan dan gizi rakyat. Apabila rakyatnya tercukupi gizinya, maka akan kuat dalam membangun jiwa dan raga demi kemajuan negara.
Begitu juga khusus Muslim, cukupnya gizi yang seimbang akan membuat kuatnya jiwa dan raga untuk beribadah kepada Allah SWT. Hal ini tidak akan terealisasi jika petani dan stakeholders pertanian Muslim tidak memiliki sikap moderat dan kaku dengan hanya memperuntukkan hasil pertaniannya kepada mereka yang sama agama, keyakinan, suku, atau bahasanya.
Majelis Ulama Indonesia telah merumuskan konsep Islam Wasathiyah yakni konsep beragama di tengah-tengah yakni tidak ekstrem kanan dan kiri. Konsep Islam Wasathiyah merupakan salah satu keputusan Musyawarah Nasional IX Majelis Ulama Indonesia (Munas MUI) yang berlangsung di Surabaya (24-27 Agustus 2015).
Maasyiral Musimin jamaah Jumat rahimakumullah,
Sudah saatnya bangsa kita berhenti memikirkan perbedaan dalam etnis, budaya, dan agama. Kita harus menyadari bahwa kita dalam satu kapal besar bernama Indonesia yang memiliki tujuan sama yaitu mencapai daratan dengan selamat. Untuk itu, menggalakkan kemandirian pangan tanpa membeda-bedakan agama adalah kewajiban kita sebagai satu nadi dan nafas tumpah darah.
Saking mulianya seorang petani, Nabi bersabda :
فلا يَغْرِسُ المُسْلِمُ غَرْسًا، فَيَأْكُلَ منه إنْسَانٌ، وَلَا دَابَّةٌ، وَلَا طَيْرٌ، إلَّا كانَ له صَدَقَةً إلى يَومِ القِيَامَةِ
Artinya: “Tidaklah seorang Muslim menanam tanaman, kemudian manusia, hewan melata begitu pun burung memakan [hasil]nya, melainkan baginya sedekah hingga hari kiamat nanti.” (HR.Muslim).
Sungguh mulianya seorang petani sehingga apa yang dihasilkan bermakna sedekah. Gegap-gempita pesta di kota tidak akan terwujud jikalau tidak ada petani yang menanam padi, sayuran, dan juga buah-buahan. Begitu pula, hewan lain yang ikut memakan tanaman tersebut juga ikut andil dalam menerima hasil jerih payah petani.
Maasyiral Musimin jamaah Jumat rahimakumullah,
Akhirnya, kita semua tahu dan menyadari bahwa masyarakat Indonesia harus sejahtera dan damai antar sesama. Oleh karenanya, umat Islam perlu dan wajib memegang teguh prinsip moderasi beragama atau Islam wasathiyah meneguhkan keseimbangan antara spiritualitas (ruhiyah) dengan material (madiyah).
Kita perlu menggalakkan kembali kemandirian pangan di tengah isu krisis pangan dunia dan potensi diskresi jumlah petani dengan kebutuhan pangan nasional yang nyaris tak seimbang. Sesungguhnya di dalam agama Islam tersimpan khazanah himbauan agar memperhatikan aqidah dan konteks sosial. Salah satunya adalah perwujudan swasembada pangan tanpa memandang perbedaan.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرآنِ العَظِيمِ، وَنَفَعَنَا وَإِيَّاكُمْ بِالْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، إِنَّهُ تَعَالَى جَوَادٌ كَرِيمُ، مَلِكُ بَرُّ رَؤُوفٌ رَحِيمٌ وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينَ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللّٰهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلَى رِضْوَانِهِ. اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا، أَمَّا بَعْدُ. فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ، إِتَّقُوااللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللّٰهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ. فقَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللّٰهَ وَمَلَآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِى، يَآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلٰيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِيْ هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِيْ فِيْهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِيْ إِلَيْهَا مَعَادُنَا، وَاجْعَلِ الحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِيْ كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ المَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرّٰحِمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ
عِبَادَاللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشَآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. وَاذْكُرُوا اللّٰهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ
Dr. Ahmad Afif, Direktur LAZIA
Ahmad Afif
Direktur Lembaga Amil Zakat Investa Amanah (LAZIA)





Comments are closed.