Setiap kali mendengar suara burung kacamata atau pleci di hutan Muria, Setyawan Rahayu (38) merasakan dua hal sekaligus, bahagia dan bersalah. Bahagia karena Zosterops masih ada. Bersalah karena pria berkacamata ini pernah jadi bagian pemburu yang membuat suara-suara itu nyaris lenyap. Dari lereng gunung di utara Jawa Tengah ini, kisah tentang pleci bukan hanya tentang burung, tetapi juga tentang manusia, keserakahan, dan penebusan. Suatu pagi di kawasan Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, suara itu kembali terdengar. Tak lama, hanya beberapa kali kicauan. Namun, bagi staf Bidang Konservasi Alam Peka Muria ini, kicau tersebut sangat berharga. Mengingat, sebelumnya pleci bukanlah burung yang sulit dijumpai. “Dulu tak perlu masuk hutan. Dari rumah saja sudah bisa mendengar suaranya setiap hari,” ujarnya, akhir Mei 2026. Di tengah maraknya tren burung kicau awal 2010, jenis yang masuk famili Zosteropidae mendadak jadi primadona. Di kalangan penghobi, pleci asal Muria punya tempat sendiri. “Dikenal sebagai dada kuning mata putih atau dakun maput, burung ini dianggap punya kualitas berbeda.” Burung pleci atau kacamata yang tidak lepas dari perburuan karena kicau yang merdu. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia. Diburu Pleci hidup berkelompok. Saat menemukan pohon berbunga, ratusan individu bisa berkumpul dalam satu lokasi. Biasanya, pemburu mengoleskan pulut pada ranting-ranting tempat mereka hinggap. “Dalam sehari bisa ratusan individu terjerat,” jelas Setyawan. Harga pleci yang terus naik ketika itu membuat banyak warga jadi pemburu dadakan, tak terkecuali Setyawan. Seiring waktu, dia sadar ada sesuatu yang hilang dari hutan. Kicau burung yang biasanya terdengar, perlahan berkurang. “Hutan sepi, sedih sekali. Ini yang menjadi…This article was originally published on Mongabay
Kicau Burung Pleci yang Perlahan Lenyap di Hutan Muria
Kicau Burung Pleci yang Perlahan Lenyap di Hutan Muria





Comments are closed.