Sat,8 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Environment
  3. Kicau Burung Pleci yang Perlahan Lenyap di Hutan Muria

Kicau Burung Pleci yang Perlahan Lenyap di Hutan Muria

kicau-burung-pleci-yang-perlahan-lenyap-di-hutan-muria
Kicau Burung Pleci yang Perlahan Lenyap di Hutan Muria
service

Setiap kali mendengar suara burung kacamata atau pleci di hutan Muria, Setyawan Rahayu (38) merasakan dua hal sekaligus, bahagia dan bersalah. Bahagia karena Zosterops masih ada. Bersalah karena pria berkacamata ini pernah jadi bagian pemburu yang membuat suara-suara itu nyaris lenyap. Dari lereng gunung di utara Jawa Tengah ini, kisah tentang pleci bukan hanya tentang burung, tetapi juga tentang manusia, keserakahan, dan penebusan. Suatu pagi di kawasan Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, suara itu kembali terdengar. Tak lama, hanya beberapa kali kicauan. Namun, bagi  staf Bidang Konservasi Alam Peka Muria ini, kicau tersebut sangat berharga. Mengingat, sebelumnya pleci bukanlah burung yang sulit dijumpai. “Dulu tak perlu masuk hutan. Dari rumah saja sudah bisa mendengar suaranya setiap hari,” ujarnya, akhir Mei 2026. Di tengah maraknya tren burung kicau awal 2010, jenis yang masuk famili Zosteropidae mendadak jadi primadona. Di kalangan penghobi, pleci asal Muria punya tempat sendiri. “Dikenal sebagai dada kuning mata putih atau dakun maput, burung ini dianggap punya kualitas berbeda.” Burung pleci atau kacamata yang tidak lepas dari perburuan karena kicau yang merdu. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia. Diburu Pleci hidup berkelompok. Saat menemukan pohon berbunga, ratusan individu bisa berkumpul dalam satu lokasi. Biasanya, pemburu mengoleskan pulut pada ranting-ranting tempat mereka hinggap. “Dalam sehari bisa ratusan individu terjerat,” jelas Setyawan. Harga pleci yang terus naik ketika itu membuat banyak warga jadi pemburu dadakan, tak terkecuali Setyawan. Seiring waktu, dia sadar ada sesuatu yang hilang dari hutan. Kicau burung yang biasanya terdengar, perlahan berkurang. “Hutan sepi, sedih sekali. Ini yang menjadi…This article was originally published on Mongabay

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.