Thu,13 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Indonesiana
  3. Kisah Kucing yang Mencari Keadilan, Cerita Rakyat dari Sulawesi Selatan

Kisah Kucing yang Mencari Keadilan, Cerita Rakyat dari Sulawesi Selatan

kisah-kucing-yang-mencari-keadilan,-cerita-rakyat-dari-sulawesi-selatan
Kisah Kucing yang Mencari Keadilan, Cerita Rakyat dari Sulawesi Selatan
service

13 Agustus 2026 16.00 WIB • 2 menit

Kisah Kucing yang Mencari Keadilan, Cerita Rakyat dari Sulawesi Selatan | Unplash/Syita Shafa


Sebuah cerita rakyat dari Sulawesi Selatan menceritakan tentang kisah seekor kucing yang mencari keadilan di hadapan sang raja. Namun bukannya mendapatkan apa yang dia bayangkan, kucing tersebut justru mendapatkan hukuman atas perlakuan yang sudah dia lakukan.

Mengapa hal tersebut bisa terjadi dan menimpa kucing tersebut? Simak kisah lengkap dari cerita rakyat Sulawesi Selatan yang satu ini dalam artikel berikut.

Kisah Kucing yang Mencari Keadilan, Cerita Rakyat dari Sulawesi Selatan

Dilihat GNFI dari buku Jemmain yang berjudul Cerita Rakyat Bugis, pada zaman dahulu para hewan dan manusia hidup berdampingan. Mereka semua dipimpin oleh seorang raja yang dikenal arif dan bijaksana.

Pada suatu hari, datang seekor kucing ke hadapan sang raja. Kucing ini datang dengan paras menyedihkan.

Kucing tersebut ternyata datang meminta keadilan pada sang raja. Dia berkata jika anaknya sudah mati terinjak rusa.

Sang raja tidak mengambil keputusan saat itu juga. Dia memutuskan untuk memanggil rusa ke hadapannya.

Rusa pun datang ke istana raja. Begitu mendengarkan penjelasan sang raja, rusa pun menyampaikan sudut pandangnya atas kejadian itu.

Dia tidak menyangkal sudah menginjak anak kucing tersebut. Namun rusa berkata jika itu terjadi secara tidak sengaja.

Rusa berkata jika dia lari ketakutan karena melihat burung tampao terbang di angkasa. Dia mengira ada marabahaya yang datang dan mengancamnya.

Sang raja pun memanggil burung tampao ke hadapannya. Dirinya menanyakan mengapa burung tampao terbang di angkasa waktu itu.

Burung tampao menjawab jika dia melihat si gelatuk memukul gendang si mata satu dengan lantang. Burung tampao terbang ke angkasa karena menduga benar akan terjadi bahaya ke kampung mereka dan berniat memberi tahu semua penghuni yang ada di sana.

Sang raja kembali mendengarkan dengan seksama. Dia pun memutuskan untuk memanggil si gelatuk ke istana.

Begitu tiba di istana, gelatuk pun langsung mendapatkan pertanyaan yang sama dari sang raja. Si gelatuk berkata memang jika dia berbuat demikian.

Namun si gelatuk berkata jika dia melihat learung sudah menyusun pasukan di pematang sawah. Dia pun menduga memang ada bahaya yang akan mengancam kampung mereka.

Sang raja kemudian memanggil learung ke istana. Dia bertanya mengapa learung menyusun pasukannya di pematang sawah beberapa hari silam.

Ternyata pemimpin learung mendengar tikus mencicit ketakutan pada tengah malam. Dia menduga bahaya tengah mengancam tikus dan kampung tempat mereka.

Lagi-lagi sang raja mendengarkan penjelasan tersebut dengan seksama. Dirinya kemudian memanggil tikus ke istana dan menanyakan mengapa dia berbuat demikian.

Tikus menjawab jika dia ketakutan karena tiba-tiba kucing memasuki rumahnya. Dia takut kucing akan memakan mereka saat itu juga.

Usut punya usut, ternyata kucing pun tengah melarikan diri dari kejaran petani. Dirinya ternyata ketahuan ketika hendak mencuri ayam milik petani.

Akhirnya sang raja memahami duduk perkara dari permasalahan tersebut. Semua hewan yang terlibat akhirnya dipersilahkan kembali ke tempat mereka masing-masing.

Semua hewan tersebut dibebaskan dan dinyatakan tidak bersalah. Semua hewan pun melakukan perintah sang raja dengan perasaan gembira.

Sebaliknya, sang raja justru menjatuhkan hukuman pada kucing tersebut. Sebab karena kelakuannya lah, kampung tersebut sempat mengalami kegaduhan sebelumnya yang berujung pada matinya anak kucing tersebut.

Sang kucing akhirnya hanya bisa menerima keputusan tersebut. Sudahlah kehilangan anak yang dia sayangi, kucing tersebut juga mesti menerima hukuman atas perbuatan yang sudah dia lakukan sebelumnya.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Irfan Jumadil Aslam lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Irfan Jumadil Aslam.

Tim Editorarrow

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.