Kecipir mungkin lebih sering dikenal sebagai sayuran yang dimasak di rumah atau tanaman yang tumbuh di pekarangan. Namun, tanaman tropis ini ternyata memiliki potensi lain.
Biji kecipir sedang dikembangkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sebagai bahan baku pakan ikan karena memiliki kandungan protein yang cukup tinggi.
Peneliti Kelompok Riset Nutrisi Hewan, Pusat Riset Zoologi Terapan BRIN, Deisi Heptarina, memaparkan pengembangan tersebut dalam forum Zoopedia #21 di Cibinong, Bogor, pada 6 Agustus 2026. Riset ini dilakukan untuk mencari sumber protein lokal yang dapat mengurangi ketergantungan industri akuakultur terhadap bahan baku impor.
Kecipir, Tanaman Tropis yang Tumbuh di Banyak Daerah
Kecipir merupakan tanaman polong-polongan yang dikenal dengan nama ilmiah Psophocarpus tetragonolobus. Tanaman ini mudah dikenali dari bentuk polongnya yang memiliki empat sisi atau sayap memanjang. Kecipir tumbuh baik di wilayah tropis dan selama ini banyak dimanfaatkan sebagai bahan pangan.
Tanaman ini dapat tumbuh di lingkungan dengan kondisi relatif beragam dan disebut BRIN memiliki toleransi terhadap lahan kering. Karakter tersebut membuat kecipir berpotensi dikembangkan sebagai sumber bahan baku lokal, terutama karena tidak bergantung pada kondisi budidaya yang sangat spesifik.
Bagian tanaman kecipir dapat dimanfaatkan untuk pangan. Namun, perhatian peneliti BRIN kali ini tertuju pada bijinya. Biji tersebut memiliki kandungan protein sekitar 34-40 persen.
Kandungan tersebut membuat biji kecipir menarik untuk diteliti sebagai sumber protein nabati dalam pakan ikan. Selain protein, biji kecipir mengandung sejumlah asam amino, termasuk lisin, leusin, aspartat, dan glutamat.
Menurut Deisi, kandungan lisin pada biji kecipir bahkan disebut lebih tinggi dibandingkan bungkil kedelai. Padahal, bungkil kedelai selama ini menjadi salah satu bahan utama sumber protein nabati untuk pakan.
Mengapa Kecipir Dipilih untuk Pakan Ikan?
Pakan merupakan salah satu komponen biaya terbesar dalam budidaya ikan. Menurut Deisi, biaya pakan dapat mencapai 60-91 persen dari total biaya produksi.
Persoalannya, industri pakan nasional masih memiliki ketergantungan terhadap bahan baku impor, termasuk bungkil kedelai. Kondisi tersebut membuat harga pakan dapat terpengaruh perubahan nilai tukar, gangguan rantai pasok, pandemi, maupun konflik geopolitik.
“Ketergantungan impor bungkil kedelai kita hari ini adalah ancaman akuakultur di masa depan,” kata Deisi.
Karena itu, pencarian sumber protein lokal menjadi bagian penting dalam pengembangan pakan. Kecipir memiliki beberapa karakter yang mendukung tujuan tersebut, mulai dari kandungan protein yang tinggi, produktivitas tanaman, hingga kemampuannya beradaptasi pada lahan kering.
Namun, penggunaan biji kecipir sebagai bahan pakan tidak dapat dilakukan begitu saja. Biji tanaman ini mengandung senyawa antinutrien seperti HCN, asam fitat, tanin, dan serat kasar. Senyawa tersebut dapat menghambat pemanfaatan nutrisi oleh ikan.
Diolah dengan Teknologi Enzim
Untuk mengatasi persoalan tersebut, peneliti BRIN mengembangkan proses pengolahan biji kecipir sebelum digunakan sebagai bahan pakan. Tahapannya meliputi penggilingan, perendaman, pengurangan kadar minyak, serta penggunaan enzim.
Enzim yang digunakan merupakan kombinasi beberapa jenis, yakni endo-1,4-beta-xylanase, endo-1,4-beta-glucanase, fitase, dan protease. Penggunaan enzim tersebut bertujuan memecah senyawa antinutrien dan membantu melepaskan nutrisi yang sebelumnya sulit dimanfaatkan ikan.
“Enzim berfungsi sebagai kunci biokimiawi untuk memecah senyawa antinutrisi, sehingga nutrisi yang terperangkap dapat dilepaskan dan lebih mudah dimanfaatkan ikan,” jelas Deisi.
Setelah melalui proses tersebut, pakan berbasis biji kecipir diuji pada benih ikan gurami selama 60 hari. Peneliti mengamati pertumbuhan, kecernaan nutrien, aktivitas enzim pencernaan, kondisi organ pencernaan, efisiensi pakan, hingga tingkat kelangsungan hidup ikan.
Pertumbuhan Gurami Hampir Dua Kali Lipat
Hasil pengujian menunjukkan seluruh perlakuan mampu mempertahankan tingkat kelangsungan hidup ikan hingga 100 persen. Formulasi pakan yang menggunakan biji kecipir dengan teknologi enzim menghasilkan pertumbuhan terbaik.
Bobot akhir ikan gurami pada perlakuan tersebut meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan kelompok kontrol. Laju pertumbuhan spesifik juga meningkat, sementara rasio konversi pakan atau Feed Conversion Ratio (FCR) membaik secara signifikan.
Retensi protein juga meningkat. Artinya, protein dari pakan dapat dimanfaatkan lebih optimal untuk pembentukan jaringan tubuh ikan.
Meski hasil awal tersebut menjanjikan, pengembangan kecipir sebagai bahan pakan masih membutuhkan riset dan penerapan lebih lanjut. BRIN menilai kolaborasi antara peneliti, akademisi, pemerintah, industri, penyuluh, dan pembudidaya diperlukan agar teknologi tersebut dapat diterapkan secara luas.
“Kemandirian pakan dimulai dari riset, tetapi hanya dapat diwujudkan melalui kolaborasi,” ujar Deisi.
Pengembangan biji kecipir menunjukkan bahwa tanaman pangan lokal dapat memiliki fungsi lain ketika diteliti lebih lanjut. Dari tanaman yang selama ini dikenal sebagai sayuran dan tumbuh di wilayah tropis, bijinya kini diuji sebagai sumber protein untuk mendukung kebutuhan industri budidaya ikan Indonesia.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News





Comments are closed.