
Kisah Semut Geramang dan Udang, Cerita Rakyat dari Sulawesi Selatan | Magnific AI
Ada sebuah cerita rakyat dari Sulawesi Selatan yang berkisah tentang semut geramang dan udang. Konon dulunya kedua hewan ini hidup bersama.
Dari kisah ini pula diyakini asal usul bentuk tubuh semut geramang dan udang yang bertahan hingga saat sekarang. Bentuk tubuh ini dipengaruhi oleh aktivitas dan kejadian yang pernah menimpa kedua hewan tersebut dulunya.
Lantas bagaimana kisah dari semut geramang dan udang tersebut? Simak cerita rakyat dari Sulawesi Selatan yang satu ini dalam artikel berikut.
Kisah Semut Geramang dan Udang, Cerita Rakyat dari Sulawesi Selatan
Dinukil GNFI dari buku Kumpulan Cerita Legenda dari Tanah Duri, alkisah pada zaman dahulu para hewan hidup layaknya manusia. Mereka pun memiliki pekerjaannya masing-masing layaknya manusia saat ini.
Di sebuah tempat, hiduplah seekor semut geramang dan udang. Mereka tinggal bersama sejak lama.
Semut geramang bekerja sebagai petani. Dia setiap hari mengolah lahan yang ada di sekitar rumah mereka.
Di sisi lain, udang selalu memasak untuk memenuhi kebutuhan mereka berdua. Tidak jarang udang juga sering mengirimkan makanan ke ladang untuk makan siang semut.
Jarak antara rumah mereka dengan lahan perkebunan tersebut tidak terlalu jauh. Namun ada sebuah sungai kecil yang memisahkan antara keduanya.
Untuk sampai ke seberang, mereka mesti melompati batu-batu yang ada di sungai tersebut. Jika tidak hati-hati, bisa saja mereka terjatuh ke dalam sungai itu.
Pada suatu hari, semut geramang bersiap untuk pergi ke lahan. Udang pun ikut bersama untuk membantu pekerjaan.
Kali ini pekerjaan yang dilakukan oleh semut geramang cukup banyak. Dia pun mempersiapkan alat-alat banyak yang digunakan untuk pekerjaannya nanti.
Sementara itu, udang memasak sup untuk makan mereka nanti. Semua persiapan dilakukan dengan matang pagi tersebut.
Setelah semua persiapan tersedia, semut geramang dan udang pun pergi ke lahan kebun mereka. Udang pergi di depan sambil mengikat semua alat yang sudah dia persiapan.
Udang pun mengikuti semut geramang dari belakang. Dia menjunjung periuk berisi sup sambil berjalan mengikutinya.
Di tengah perjalanan, udang pun menyusul semut geramang. Dia pun berjalan lebih duluan karena semut geramang sering berhenti untuk beristirahat.
Alat-alat yang dibawa semut geramang cukup banyak. Hal ini membuat dirinya cukup kesusahan untuk membawa beban berat tersebut.
Setelah berjalan cukup jauh, sampailah mereka di sungai yang memisahkan rumah mereka dengan lahan perkebunan. Udang pun mulai mencoba melompati batu yang ada di sungai satu per satu.
Dia melompati batu-batu tersebut sambil menjunjung periuk berisi sup. Namun malang, di tengah sungai udang tidak bisa menjaga keseimbangannya.
Alhasil dia pun terjatuh akibat hal tersebut. Semua sup yang masih panas tumpah mengenai tubuh udang.
Seketika semua badan udang berubah menjadi warna merah. Konon sejak saat itulah tubuh udang pun berubah menjadi merah.
Di sisi lain, semut geramang tetap berusaha pergi ke ladang. Walau pelan, akhirnya dia sampai ke kebunnya.
Semut geramang kemudian melepaskan ikatan untuk membawa alat-alatnya. Karena beban yang dia bawa cukup berat dan dibawa terus menerus, perut semut geramang pun berubah menjadi kecil sekali.
Alhasil sejak saat itu, tubuh semut geramang pun berubah menjadi sangat kecil hingga saat sekarang. Begitulah kisah di balik asal usul bentuk tubuh kedua hewan tersebut, semut geramang yang memiliki perut kecil dan udang dengan badannya yang berwarna merah.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News
Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Irfan Jumadil Aslam lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Irfan Jumadil Aslam.
Tim Editor





Comments are closed.