Fri,11 September 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Indonesiana
  3. Kentongan Tong-Tong Madura Melawan Subwoofer Horeg

Kentongan Tong-Tong Madura Melawan Subwoofer Horeg

kentongan-tong-tong-madura-melawan-subwoofer-horeg
Kentongan Tong-Tong Madura Melawan Subwoofer Horeg
service

Gambar ilustrasi | Dibuat dengan bantuan AI dan Canva


Kalau mau dengar sound horeg yang sebenarnya, yang bikin kaca jendela bergetar dan telinga berdenging sampai keesokan harinya, datanglah ke daratan Jawa Timur.

Beberapa tahun terakhir, sound horeg viral berkali-kali di media sosial, dan bagi banyak orang, ia sudah jadi semacam momok. Salah satu contohnya ada di Mojokerto.

Di sana, ada karnaval yang truk soundnya bergemuruh dari sore sampai subuh, 32 unit sekaligus. Sejumlah plafon rumah di sekitar rute dilaporkan rontok kena getaran, meski kepala desa setempat membantah itu kerusakan serius dan menyebut warga sudah menandatangani persetujuan sebelum acara digelar. Ada juga video viral warung yang barang dagangannya berantakan kena getaran truk sound, tapi pemiliknya sendiri justru membela, katanya tidak ada kerugian sepeser pun, dia malah ikut joget.

Dan itu bukan cerita satu kabupaten saja. Di Nganjuk, pawai bersih desa di Kurungrejo, Kecamatan Prambon, molor tiga jam dari batas izin yang cuma sampai pukul lima sore, dan keluhan warga soal kebisingan berakhir dengan polisi turun tangan membubarkan paksa acaranya. Sebulan berselang, Polres Nganjuk malah mengeluarkan larangan sound horeg untuk seluruh wilayah kabupaten, termasuk untuk karnaval.

Di Banyuwangi, dampaknya lebih fatal. Saat karnaval HUT ke-81 RI Agustus lalu, Bonari, 44 tahun, warga yang menyewakan alat sound untuk acara itu, tiba-tiba ambruk dan meninggal karena serangan jantung. Belakangan, polisi menemukan izin acara itu ternyata cuma untuk karnaval biasa, sama sekali tidak menyebut kendaraan sound. Truk soundnya baru muncul beberapa jam sebelum acara dimulai, di luar kesepakatan awal panitia dengan pihak berwenang.

Di Sidoarjo, sebuah perahu pengangkut sound horeg raksasa bahkan terbalik dan tenggelam saat tradisi nyadran, dengan kerugian ditaksir puluhan juta rupiah. Kejadian yang lebih kecil, seperti genteng rumah warga yang jatuh kena getaran di Kediri dan kru yang tersetrum saat memasang instalasi di Pasuruan, juga sempat dilaporkan.

Kasus Bonari sendiri ternyata satu dari sedikitnya tiga kematian yang tercatat di Jawa Timur sepanjang Agustus 2026 dalam insiden yang berkaitan dengan sound horeg, sampai Anggota Komisi II DPR, Eka Widodo, mendesak Kementerian Dalam Negeri menerbitkan larangan yang berlaku nasional. Dan ini bukan kejadian baru. Setahun sebelumnya, seorang ibu muda di Lumajang juga dilaporkan ambruk dan meninggal dunia saat menonton karnaval sound horeg, meski polisi menyatakan tidak ada proses hukum karena tidak ditemukan unsur pidana. Kalau nyawa sampai melayang berulang kali begini, urusannya sudah lewat dari sekadar selera musik.

Juli lalu, MUI Jawa Timur sudah lebih dulu mengeluarkan fatwa soal ini: sound horeg haram kalau sampai menimbulkan mudarat. Alat musiknya sendiri sebenarnya tidak dipersoalkan. Yang jadi keluhan adalah akibatnya di lapangan, dagangan rusak kena getaran, telinga berdenging seharian, jalan macet gara-gara truk soundnya berhenti sembarangan. Fatwa itu lahir dari keresahan yang sudah bertahun-tahun menumpuk di daratan Jawa Timur.

Pulau seberangnya, Madura, ang masih masuk wilayah Jawa Timur, punya cerita yang berbeda. Yang jadi identitas suara keras dan ramai di sana justru kentongan bambu yang dipukul beramai-ramai, dan itu sudah berlangsung jauh sebelum orang kenal istilah sound horeg.

Namanya tong-tong.

Bentuknya sederhana, kentongan bambu yang dibelah, dipukul hingga berbunyi khas, tong, tong, tong. Konon sudah ada sejak era pra-Hindu, dari Batuputih dan Ambunten di Sumenep. Dulu dipakai untuk menandai bahaya, bahkan gerhana bulan. Di masa kolonial, fungsinya bergeser jadi alat ronda malam, menjaga kampung dari pencuri. Belakangan, ia dipakai memanggil warga bangun sahur di bulan Ramadan.

Kalau ditelusuri, fungsi-fungsi lama itu ujungnya selalu soal menjaga kampung, entah dari bahaya di masa Hindu, dari pencuri di masa kolonial, atau supaya orang bangun sahur tepat waktu. Bukan untuk mengganggu siapa-siapa.

Dari situ ia berkembang jadi arak-arakan. Irama kentongan yang tadinya untuk tanda bahaya berubah jadi musik. Orang Madura menambahkan drum, simbal, bahkan terompet, tapi jiwa kentongannya tetap dipertahankan. Sejak 2013, Pemkab Sumenep menjadikannya festival tahunan, digelar setiap kali kabupaten itu merayakan hari jadinya.

Tahun lalu festival ini ditonton ratusan ribu orang. Tahun ini malah resmi masuk Kalender Event Nasional alias Karisma Event Nusantara 2025-2026 yang disusun Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, dan April 2026 nanti digelar lagi di Lapangan Kesenian Gotong Royong, Sumenep. Dampaknya ke ekonomi kampung juga kerasa, UMKM kecipratan rezeki, pedagang laku, wisatawan berdatangan.

Yang sering luput dari sorotan, arak-arakan Madura juga sudah lama punya kemewahannya sendiri secara visual, bukan cuma soal bunyi. Di jalan-jalan Sumenep saat malam karnaval, muncul kendaraan hias raksasa berbentuk naga dan burung mitologis, disepuh warna emas, menyala oleh untaian lampu neon di sepanjang tubuhnya, diarak beriringan dengan rombongan Ul Daul, kerabat dekat tong-tong yang berkembang dari Pamekasan. Semuanya dikerjakan bergotong-royong oleh warga kampung sendiri, dan jadi ajang gengsi tersendiri soal siapa yang kreasinya paling detail dan paling megah malam itu.

Jadi kalau bicara soal riuh dan mencolok mata, Madura sebenarnya sudah menang duluan, dengan caranya sendiri.

Untungnya begini. Madura sudah lama punya cara sendiri untuk tampil keras, ramai, dan megah sekaligus, entah lewat kentongan yang menggetarkan hati atau lewat kendaraan hias yang menyilaukan mata, tanpa harus menggetarkan kaca jendela tetangga. Tong-tong itu kompetitif juga, cuma yang dilombakan soal kreativitas aransemen, kekompakan pemain, sampai keunikan kostum dan float-nya. Urusan subwoofer paling besar sama sekali tidak masuk hitungan.

Sound horeg, sepanjang yang saya amati di daratan Jawa Timur, lahir dari gengsi, dari dorongan jadi yang paling kencang atau paling viral. Tong-tong lahir dari kebutuhan yang jauh lebih sederhana, menjaga kampung tetap aman. Akarnya beda jauh, meski dua-duanya sama-sama soal ingin didengar orang banyak.

Saya tidak sedang bilang keinginan untuk tampil dan bersuara keras itu salah. Orang bisa berbeda pendapat tentang itu. Cuma soal itu, Madura sebetulnya sudah tidak perlu mencari ke tempat lain. Wadahnya sudah ada, sudah diakui negara pula, dan jelas lebih menguntungkan kampung sendiri.

Daripada menunggu sampai ada yang tergoda ikut arus sound horeg seperti di Mojokerto atau Nganjuk baru ribut soal fatwa haram atau tidak haram, mestinya yang dikerjakan pemerintah daerah di Madura lebih sederhana, dan lebih awal. Perbesar panggung untuk tong-tong. Latih lebih banyak grup, rangkul generasi muda supaya tetap betah di situ. Buat kompetisi antar-desa, seperti dulu, tapi dengan hadiah yang membuat orang bangga menang karena kualitas, bukan karena volume. Bawa ke daratan Jawa Timur yang lebih luas, di luar pulau Madura. 

Kalau ingin ramai, ya biarkan ramai. Madura memang tidak pernah sepi dari hajatan, karnaval, pawai. Cuma, biarkan yang berdentang itu kentongan dan yang berkilau itu kendaraan hias, jangan sampai yang bergetar itu pondasi rumah tetangga, seperti yang sudah terjadi di seberang sana.

Saya jadi ingat pesan lama orang-orang tua di kampung pesisir, yang paling keras belum tentu yang paling didengar. Yang punya irama, sejarah, dan makna biasanya justru yang bertahan paling lama. Tong-tong sudah membuktikan itu, sejak sebelum ada listrik, apalagi sound system. Tinggal Madura sendiri yang perlu menjaga, supaya tetap begitu, dan tidak ikut-ikutan jadi seperti daratan seberangnya.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.