SUMATRA, Indonesia — Berbekal sebilah parang, getah, serta rekaman kicauan burung di ponselnya, “Peni” melangkah masuk ke hutan. Dia mencari burung kicau di hutan Sumatera, khususnya burung the white-rumped shama (Copsychus malabaricus), dikenal sebagai burung murai batu. Popularitas murai batu melonjak pesat dalam satu dekade terakhir karena kicauannya yang khas dan penampilannya yang memikat. Di Jawa, memelihara burung dalam sangkar bukan sekadar hobi — ini telah mengakar sebagai bagian dari budaya, mencerminkan status sosial dan menjaga koneksi dengan alam. Kompetisi burung yang semakin marak mengubah tradisi ini menjadi industri yang menguntungkan, dengan hadiah seperti mobil hingga uang tunai dalam jumlah besar. Seekor murai batu juara bisa terjual hingga puluhan ribu dolar. Murai batu merupakan spesies yang tersebar luas, dengan jangkauan wilayahnya membentang dari India hingga Papua Nugini. Namun, di Indonesia dan negara-negara lain yang memiliki tradisi memelihara burung dalam sangkar, spesies ini mengalami penurunan yang serius. Para pegiat konservasi menyebut beberapa subspesies di Indonesia telah punah. Sementara banyak hutan di Jawa, pulau terpadat di Indonesia, diyakini hampir tidak memiliki murai batu. Kondisi ini mendorong para pemburu mencari ke wilayah Indonesia lainnya. Hingga 2018, murai batu terdaftar sebagai spesies dilindungi berdasarkan undang-undang di Indonesia. Namun, statusnya dicabut setelah adanya lobi dari asosiasi penangkar, keputusan ini dikritik karena membuat penegakan hukum menjadi sulit pada saat murai batu sudah terancam oleh perburuan liar dan kehilangan habitat. Bagi pemburu liar seperti Peni, menangkap burung murai batu pernah menyelamatkan ekonomi keluarganya saat gagal panen. Hari ini, hutan-hutan menjadi jauh lebih sunyi. Tonton film ini untuk mengeksplorasi bagaimana…This article was originally published on Mongabay
Kontes Burung Kicau, Sunyikan Hutan Indonesia
Kontes Burung Kicau, Sunyikan Hutan Indonesia





Comments are closed.