Thu,6 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Features
  3. Krisis Oksigen di Perairan Kalimantan di Balik Viralnya Udang Naik ke Daratan

Krisis Oksigen di Perairan Kalimantan di Balik Viralnya Udang Naik ke Daratan

krisis-oksigen-di-perairan-kalimantan-di-balik-viralnya-udang-naik-ke-daratan
Krisis Oksigen di Perairan Kalimantan di Balik Viralnya Udang Naik ke Daratan
service

Ratusan hingga ribuan udang tiba-tiba merayap keluar dari aliran sungai di Kalimantan Selatan. Video yang memperlihatkan warga menangkap udang dengan tangan kosong, ember, hingga keranjang dalam hitungan menit segera menyebar luas di media sosial.

Sebagian orang menganggapnya sebagai rezeki tak terduga, sementara yang lain mengaitkannya dengan racun, limbah industri, bahkan pertanda datangnya bencana.

Di balik viralnya fenomena tersebut, para peneliti justru melihat sinyal yang jauh lebih mengkhawatirkan. Kemunculan massal udang ke permukaan bukan sekadar perilaku satwa yang tidak biasa, melainkan kemungkinan adanya gangguan serius pada ekosistem sungai yang selama ini luput dari perhatian.

Guru Besar Budidaya Perairan IPB University, Prof. Sri Nuryati, menjelaskan udang merupakan biota akuatik yang bersifat demersal, yakni hidup dan beraktivitas di dasar perairan. Karena itu, kemunculan udang hingga merayap ke daratan bukanlah perilaku normal.

“Apabila tidak ditemukan gejala klinis penyakit pada udang tersebut, maka faktor kualitas lingkungan air menjadi kecurigaan utama. Gangguan di dasar perairan ini biasanya berkaitan dengan kadar oksigen terlarut yang kritis,” ujar Prof. Sri Nuryati.

Pernyataan tersebut sekaligus menggeser berbagai spekulasi yang berkembang di media sosial. Alih-alih langsung menyimpulkan adanya racun atau bahan peledak, Prof. Sri mengingatkan, penyebab utama yang patut dicurigai justru berasal dari memburuknya kualitas lingkungan perairan.

Krisis di Dasar Sungai

Penjelasan Prof. Sri berangkat dari karakteristik ekologi udang. Berbeda dengan sebagian besar ikan yang hidup di kolom air atau bersifat pelagis, udang menghabiskan hampir seluruh siklus hidupnya di dasar sungai.

Kondisi itu membuat udang menjadi salah satu organisme pertama yang merasakan perubahan kualitas lingkungan pada lapisan bentik.

Ketika kadar oksigen terlarut atau dissolved oxygen (DO) di dasar sungai turun hingga titik kritis, ruang hidup udang berubah menjadi lingkungan yang sulit menopang kehidupan.

Dalam kondisi tersebut, satu-satunya peluang bertahan hidup adalah bergerak menuju lapisan air yang lebih kaya oksigen, bahkan hingga naik ke daratan yang masih lembap.

Menurut Prof. Sri, kondisi ini umumnya dipicu oleh tingginya kandungan bahan organik di perairan. Saat limbah organik menumpuk, bakteri akan menguraikannya melalui proses biologis yang membutuhkan oksigen dalam jumlah besar.

Semakin tinggi beban organik, semakin besar pula konsumsi oksigen yang terjadi, sehingga cadangan oksigen di dasar sungai terus menurun.

Situasi tersebut tidak selalu berdampak sama terhadap seluruh biota. Ikan yang hidup di lapisan air lebih atas masih memiliki peluang memperoleh oksigen dari kolom perairan yang berhubungan langsung dengan atmosfer.

Sebaliknya, udang yang terikat pada habitat dasar sungai tidak memiliki banyak pilihan selain meninggalkan habitatnya.

Fenomena inilah yang diduga terjadi pada kasus di Kalimantan Selatan.

Penanganan Berbasis Ilmiah

Meski mengarah pada krisis oksigen, Prof. Sri menegaskan dugaan tersebut tetap harus dibuktikan melalui investigasi ilmiah. Menurutnya, penyebab pasti tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan rekaman video atau pengamatan visual di lapangan.

Ia merekomendasikan pemeriksaan menyeluruh terhadap kualitas air, terutama pada lapisan dasar sungai yang menjadi habitat utama udang. Pengambilan sampel dari permukaan saja dinilai tidak cukup menggambarkan kondisi sebenarnya.

Beberapa parameter yang perlu diuji meliputi kadar oksigen terlarut (dissolved oxygen), Total Ammonia Nitrogen (TAN), Biological Oxygen Demand (BOD), hingga kondisi sedimen atau lumpur dasar sungai.

Pemeriksaan sedimen juga penting untuk mengetahui kemungkinan akumulasi polutan maupun zat berbahaya yang tidak selalu terdeteksi dari sampel air permukaan.

“Penanganan cepat dan berbasis data ilmiah diharapkan dapat mengungkap penyebab pasti fenomena ini guna menjaga ekosistem perairan di daerah tersebut tetap stabil dan mencegah dampak lingkungan yang lebih luas,” kata Prof. Sri.

Gurita Kerusakan Sungai

Fenomena udang naik ke daratan muncul di tengah kondisi sungai-sungai di Kalimantan Selatan yang menghadapi tekanan lingkungan dari berbagai arah.

Daerah Aliran Sungai (DAS) di wilayah ini menerima beban pencemaran dari aktivitas domestik, pertanian, perkebunan, hingga industri ekstraktif.

Akumulasi limbah organik maupun anorganik tidak hanya mengubah kualitas air, tetapi juga memengaruhi keseimbangan ekosistem dasar sungai. Ketika bahan organik terus meningkat, kebutuhan oksigen untuk proses penguraian ikut melonjak.

Pada saat yang sama, organisme bentik seperti udang menjadi kelompok pertama yang merasakan dampaknya.

Dampaknya Tak Berhenti pada Udang

Gangguan kualitas air sungai tidak hanya mengancam satu jenis biota. Ketika kadar oksigen terlarut terus menurun, organisme yang hidup di dasar perairan menjadi kelompok pertama yang terdampak.

Jika kondisi ini berlangsung lama, efeknya dapat merambat ke seluruh rantai makanan di sungai.

Penurunan populasi udang akan memengaruhi ketersediaan pakan bagi ikan-ikan predator dan satwa lain yang bergantung pada ekosistem sungai. Dalam jangka panjang, perubahan komposisi biota dapat mengganggu keseimbangan ekologis yang selama ini menopang produktivitas perairan.

Dampaknya juga dirasakan masyarakat yang menggantungkan hidup dari sungai. Nelayan tradisional berpotensi kehilangan sumber penghasilan ketika hasil tangkapan terus menurun, sementara pembudidaya ikan menghadapi risiko kematian massal akibat memburuknya kualitas air.

Kondisi serupa pernah terjadi di Sungai Barito. Data Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Barito Kuala menunjukkan kadar oksigen terlarut (DO) di sejumlah titik pemantauan berada jauh di bawah ambang batas minimum nasional sebesar 4 mg/L.

Misalnya di kawasan pertemuan Sungai Barito dan Sungai Nagara, kadar DO tercatat hanya sekitar 0,15 mg/L, sedangkan di sekitar Jembatan Rumpiang berada di kisaran 3 mg/L.

Rendahnya kadar oksigen tersebut berujung pada kematian massal ikan nila di keramba jaring apung milik masyarakat di Marabahan dan Bakumpai. Sebanyak 19 kelompok pembudidaya terdampak dengan total kerugian yang dilaporkan mencapai sekitar Rp2,7 miliar.

Peristiwa itu sekaligus menjadi pengingat buruknya kualitas sungai bukan sekadar persoalan lingkungan, tetapi juga menyangkut keberlangsungan ekonomi masyarakat.

Ancaman lain muncul terhadap penyediaan air bersih. Sebagian masyarakat di Kalimantan Selatan masih memanfaatkan air sungai untuk kebutuhan sehari-hari, sementara perusahaan daerah air minum (PDAM) juga bergantung pada sungai sebagai sumber air baku.

Ketika kualitas air terus menurun, biaya pengolahan meningkat dan kekhawatiran masyarakat terhadap keamanan air bersih ikut membesar.

Tekanan Lingkungan yang Terus Bertambah

Selain itu, fenomena udang naik ke daratan tidak dapat dilepaskan dari tekanan yang selama bertahun-tahun membayangi daerah aliran sungai di Kalimantan Selatan.

Aktivitas pertambangan batu bara, perkebunan kelapa sawit, limbah domestik, hingga sedimentasi dari pembukaan lahan menjadi faktor yang secara bersama-sama menurunkan daya dukung sungai.

Beban pencemaran tersebut memperbesar kemungkinan terjadinya penumpukan bahan organik maupun masuknya berbagai zat pencemar ke badan air.

Di Sungai Martapura, sejumlah penelitian melaporkan kandungan beberapa logam berat telah melampaui baku mutu pada titik-titik tertentu. Kadar besi (Fe) ditemukan mencapai lebih dari tujuh kali lipat ambang batas nasional, sementara mangan (Mn) dan tembaga (Cu) juga terdeteksi melebihi standar di beberapa lokasi.

Kontaminasi tersebut diduga berasal dari kombinasi aktivitas domestik, pertanian, dan industri.

Selain pencemaran kimia, limpasan pupuk yang kaya nitrogen dan fosfor juga memicu eutrofikasi, yaitu peningkatan nutrien yang mendorong ledakan populasi alga.

Ketika alga mati, proses penguraiannya menghabiskan oksigen terlarut dalam jumlah besar sehingga memperparah kondisi hipoksia di dasar sungai.

Perubahan iklim pun turut memperumit situasi. Peningkatan suhu air membuat kemampuan air melarutkan oksigen semakin rendah. Pada saat yang sama, suhu yang lebih tinggi mempercepat aktivitas bakteri pengurai bahan organik sehingga kebutuhan oksigen meningkat.

Kombinasi kedua proses tersebut dapat mempercepat terbentuknya zona-zona dengan kandungan oksigen yang sangat rendah.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.