Thu,13 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Kyai, Gus, dan Dukun: Menyingkap Potensi Tiranik Agama atas Budaya

Kyai, Gus, dan Dukun: Menyingkap Potensi Tiranik Agama atas Budaya

kyai,-gus,-dan-dukun:-menyingkap-potensi-tiranik-agama-atas-budaya
Kyai, Gus, dan Dukun: Menyingkap Potensi Tiranik Agama atas Budaya
service

Sebelum kematiannya, lelaki tua yang dikenal sebagai “mbah dukun” itu memang tak pernah terlihat memakai kopyah atau pergi ke masjid, bahkan pun untuk sekedar mengikuti keramaian idulfitri sebagaimana para muslim “abangan” lainnya.

Tapi, yang berkesan bagi saya, adalah “ulat-patrap-pangucap”-nya yang begitu sumeh semeleh, anteng jatmika, dan membuat enak hati.

Konon, bagi saya yang pernah sejumput mencicipi ilmu-ilmu agama, kepribadian semacam itu adalah hasil dari olah yang panjang atas sisi batiniah agama, dimana apa yang dikenal sebagai “akhlaq” pada dasarnya adalah sebangun dengan kondisi batin yang dimiliki.

Artinya, “akhlaq” sebenarnya bukanlah sekedar teori sebagaimana yang selama ini dikenal sebagai pendidikan adab atau pendidikan karakter.

Jadi, bagi saya, untuk ber-akhlaq, yang semestinya dipejari bukanlah akhlaq itu sendiri. Tapi adalah apa yang kemudian mewujud pada apa yang kita kenal sebagai akhlaq itu.

Dalam bidang agama, hal itu sering disebut sebagai sisi batiniah agama atau tasawuf. Sementara dalam budaya, hal itu dikenal sebagai kebatinan.

Maka ketika di hari ini “dukun” seperti menjadi kambing-hitam atas segala keburukan yang terjadi di dunia ini, terasa ada yang salah dengan cara hidup atau bahkan cara beragama kita—mengingat dalam wilayah agama, “dukun” seakan memiliki posisi yang lebih rendah dari para PSK, karena menyangkut akidah.

Taruhlah berbagai kasus pelecehan seksual yang ternyata dilakukan juga oleh orang-orang yang dikenal sebagai kyai, gus, dan yang sejenisnya. Kenapa ketika segala keburukan yang barangkali mereka lakukan kemudian “dukun” yang disalahkan, dengan mengalihkan sebutan “kyai” ataupun “gus” mereka ke antah-berantah? Apakah orang-orang yang konon dekat dengan agama itu sedemikian sucinya hingga kedap rasa atas enaknya sebilah daging paha?

Dalam seks, konon, segala kategori moral dan bahkan nurani yang sampai kini diagung-agungkan oleh para umat manusia berpotensi berhenti untuk terjatuhkan. Dan orang pun menjadi tahu, dalam seks pula, segala tata nilai, moralitas, dan nurani, ternyata tak semata bersifat terberikan.

Sangat berbeda dengan kebudayaan Jawa, “kyai” atau pun “bagus” bukanlah istilah yang mesti identik dengan segala kesucian dan keluhuran. Ia seakan netral atau tak memiliki nilai intrinsik.

Dalam kebudayaan Jawa, “kyai” bisa jadi tak sekadar merujuk pada sesosok manusia yang konon dekat dengan agama. Sebab, di Surakarta dahulu, ia bisa berwujud seekor sapi bule yang merupakan pemberian Kyai Kasan Besari, Tegalsari.

Sementara “dukun,” dalam kebudayaan Jawa, yang masih berlangsung hingga kini, bisa merujuk pada tukang pijat (“dukun pijet”), perantara kelahiran bayi (“dukun bayi”), ataupun pemimpin ritual pernikahan Jawa (“dukun manten”), dsb.

Lagi pula, tak sedikit “kyai” ataupun “gus” yang justru ter-“kyai”-kan atau ter-“gus”-kan karena kemampuan “dukuni”-nya semata, tanpa tahu seluk-beluk ilmu-ilmu agama.

Diskusi tentang tumpang-tindih antara “kyai” atau “gus” dengan “dukun” di atas pada akhirnya menyingkapkan kebelumtuntasan permasalahan tentang persinggungan antara agama—yang diwakili oleh “kyai” ataupun “gus”—dan budaya—yang diwakili oleh “dukun.”

Secara agama, “kyai” ataupun “gus” memang lebih dapat menampang daripada “dukun,” meskipun secara budaya “kyai” ataupun “gus” dapat menjadi tak penting sama sekali, karena kebenaran, kebaikan, dan bahkan ketuhanan adalah hal-hal yang bersifat universal.

Artinya, di sini agama masih berperan seolah lebih berharga daripada bidang ataupun wilayah lainnya. Dengan merendahkan posisi “dukun,” untuk melebihkan posisi “kyai” ataupun “gus,” pada dasarnya orang tengah digiring pada tindakan untuk menindas yang lain yang entah dalam ajaran agama hal itu dibenarkan atau tidak, meskipun jelas dalam budaya—sebagaimana paugeran dalam banyak aliran kepercayaan Jawa—tak dibenarkan bahkan pun ketika hal itu dikenakan pada agama dalam tampilan terbangsatnya.

Bukankah kisah tersisihnya Siti Jenar dan Kebo Kenanga hingga banyak aliran kepercayaan di era orde baru hanyalah contoh atas tak dibenarkannya menindas (kepercayaan) yang lain dalam budaya (Jawa), mengingat mereka adalah para pribumi di masanya?

Dengan demikian, masihkah layak orang mempertahankan superioritas agama atas bidang-bidang kehidupan lainnya, mengingat untuk sekedar menyodorkan sebatang rokok pada seorang anak jalanan dapat terjadi tanpa adanya agama?

Sebagaimana lelaki tua yang oleh masyarakat sekitar dipanggil “mbah dukun” itu, yang sesaat menjelang ajalnya seolah-olah mengungkapkan bahwa tak semua hal yang berkaitan dengan apa yang sejauh ini orang lekatkan pada agama menjadi berharga. Adakalanya, hal itu hanyalah sebongkah batu yang akan membebani laku.     

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.