Wed,13 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Lebih Cantik Lurus atau Keriting? Membedah Akar di Balik Obsesi Rambut Lurus

Lebih Cantik Lurus atau Keriting? Membedah Akar di Balik Obsesi Rambut Lurus

lebih-cantik-lurus-atau-keriting?-membedah-akar-di-balik-obsesi-rambut-lurus
Lebih Cantik Lurus atau Keriting? Membedah Akar di Balik Obsesi Rambut Lurus
service

Bincangperempuan.com- Beberapa waktu lalu, sempat lumayan ramai di TikTok saat sebuah brand perawatan rambut mengiklankan produknya dengan cara mengejek rambut keriting. Tak main-main, dalam sebuah video pendek yang menampilkan seseorang sedang mewawancarai perempuan berambut keriting, muncul kalimat, “Nah, ini nih rambut yang mirip j*mbut, ngembang, keriting, nggak bisa rapi.” Di video lain, terdengar juga pernyataan, “Kalo keriting mah nggak cantik, cewek cantik rambutnya lurus.”

Kampanye iklan tersebut sukses membuat publik geram. Selain menyinggung orang-orang yang memang terlahir dengan rambut keriting, tekstur rambut ikal dan keriting sebenarnya merupakan fitur alami tubuh yang diwariskan oleh ras tertentu. Warganet pun ramai mengomentari dan mengkritik keras brand tersebut. Banyak juga kreator yang merespons dengan membuat video stitch guna membuktikan bahwa rambut keriting itu cantik dan memiliki pesonanya sendiri.

Akhirnya, brand tersebut memberikan klarifikasi dan permintaan maaf. Beruntungnya, mayoritas penghuni TikTok kini sudah mulai berpikir kritis terhadap standar kecantikan rambut. Mau keriting atau lurus sama sekali tidak masalah; mengembang pun tak apa-apa. Tapi kenapa sih dari dulu gaya yang dianggap lebih “rapi” dan “cantik” selalu identik dengan rambut lurus?

Konstruksi Standar Kecantikan yang Eurosentris

Rambut lurus seolah memonopoli definisi kecantikan karena tampilannya yang licin dan rapi. Dari peradaban kuno hingga mode modern, rambut lurus terus dipertahankan sebagai simbol keanggunan. Namun, jika kita membedah lebih dalam, ada akar masalah yang jauh lebih kompleks di baliknya.

Dalam sebuah analisis mendalam yang ditulis oleh Lavanya Sinha, seorang perempuan India, dan dipublikasikan di situs Breakthrough, standar kecantikan rambut lurus ini secara blak-blakan disebut sebagai produk dari pandangan eurosentris. Standar ini adalah ideal supremasi kulit putih yang mengutamakan karakteristik Eropa. Pandangan ini menjadikan fisik Kaukasia (atau fitur yang paling mendekatinya) sebagai tolok ukur universal untuk daya tarik, sementara segala hal yang menyimpang dari standar tersebut dianggap tidak menarik atau aneh.

Dalam konteks kecantikan, ada colourism (diskriminasi berdasarkan warna kulit), Golden Ratio—ukuran ilmiah kecantikan ‘universal’ yang tidak memasukkan satu pun fitur non-Eropa sebagai bentuk yang indah hingga isu seperti fatfobia. 

Lavanya mengutip buku Sabina Strings: Fearing the Black Body: The Racial Origins of Fat Phobia. Buku tersebut memaparkan bahwa fatfobia sebenarnya berakar dari perdagangan budak trans-Atlantik dan stigmatisasi terhadap tubuh orang kulit hitam, bukan dari kepedulian terhadap kesehatan dan kebugaran.

Tak sampai di proporsi wajah, tubuh dan warna kulit, eurosentrisme juga terjadi pada tampilan rambut. Rambut lurus distandardisasi karena identik dengan fitur rambut ras kulit putih. Walaupun komunitas kulit hitam menjadi pihak yang paling terdampak, kecantikan ideal di komunitas Asia Selatan (Desi) juga mencerminkan prasangka yang sama bahwa rambut lurus adalah ‘rambut yang bagus, lebih rapi, dan lembut. 

Sebaliknya, rambut keriting dilabeli liar, tidak teratur, dan harus diatur—sebuah narasi yang persis mencerminkan bagaimana penjajah kulit putih memandang orang kulit berwarna sepanjang sejarah.

Bias ini sangat mengakar hingga tercermin dalam cara kita berbahasa. Kita sering menggunakan eufemisme seperti “kulit eksotis” untuk orang berkulit gelap, menormalisasi kampanye anti-frizz (anti-mengembang) pada produk rambut, atau melabeli orang menarik yang tidak memenuhi standar Kaukasia sebagai unconventionally attractive (menarik dengan cara yang tidak biasa). 

Baca juga: Baby Face atau Childlike: Apakah Standar Kecantikan Kita Mengarah ke Pedofilia?

Rambut sebagai Simbol Status di Era Kuno

Padahal jauh sebelum kolonialisasi modern, peradaban kuno seperti Mesir, Yunani, Romawi, dan Mesopotamia sudah menjadikan rambut sebagai elemen krusial dari identitas sosial. Seperti dipaparkan dalam situs Bebruk Kosmetika, di Mesir kuno, perawatan rambut terkait erat dengan kebersihan dan kelas sosial. Orang kaya sering mencukur kepala mereka dan memakai wig berlapis. Rambut, baik lurus maupun keriting (terutama dalam bentuk wig), menjadi penanda mutlak status kebangsawanan.

Di Yunani dan Romawi, jenis rambut juga dikaitkan dengan kedudukan. Dalam budaya Yunani, rambut panjang bergelombang melambangkan masa muda dan kecantikan yang ideal, sementara rambut keriting yang sangat rapat sering dikonotasikan dengan orang asing atau bangsa barbar. Di Romawi, perempuan dari kelas atas akan menyisir dan menata rambut mereka secara rumit menggunakan alat khusus untuk menciptakan ikal buatan yang elegan, menegaskan bahwa waktu dan akses merawat rambut adalah simbol kekuasaan.

Sementara itu, di Mesopotamia kuno, rambut bahkan dianggap sebagai indikator utama feminitas sekaligus maskulinitas. Panjang dan seberapa terawatnya rambut seseorang adalah cara paling cepat untuk membaca hierarki dan posisi sosial orang tersebut di tengah masyarakat.

Kolonialisme dan Kontrol Identitas Tubuh

Perubahan paling drastis dan merusak terhadap cara pandang rambut terjadi selama era kolonisasi Eropa. Para penjajah secara sistematis memaksakan ideal kecantikan eurosentris yang mengagungkan kulit terang dan rambut lurus, memaksa komunitas Afrika, dan Asia untuk beradaptasi. Rambut tak lagi sekadar gaya, melainkan alat kontrol dan asimilasi budaya. Rambut keriting, bergelombang, dan bertekstur dicap sebagai hal yang “tidak bisa diatur”, menciptakan stereotip negatif yang mengakar kuat hingga lintas generasi.

Bagi komunitas Afrika, rambut dulunya memegang makna spiritual dan kultural yang sakral. Rambut adalah medium komunikasi sosial yang bisa menunjukkan status pernikahan, usia, kekayaan, hingga klan seseorang. Penjajahan menghancurkan tradisi ini. Ketika diperbudak dan kehilangan identitas budayanya, banyak dari mereka dipaksa memotong rambut atau mendapat tekanan sosial yang luar biasa untuk meluruskan tekstur asli mereka demi mematuhi standar ras penjajah. 

Tren Abad ke-20 dan Tekanan Standardisasi

Memasuki abad ke-20, posisi rambut lurus sebagai standar kecantikan utama semakin absolut. Di era 1920-an, gaya rambut flapper bob lurus menjadi simbol independensi dan modernitas. Hollywood kemudian melanggengkan dominasi ini, terutama di tahun 1950-an ketika bintang besar seperti Marilyn Monroe memopulerkan tatanan rambut lurus dan rapi.

Sepanjang abad ini, tekanan untuk mengubah rambut keriting atau bergelombang meningkat tajam. Penggunaan bahan kimia pelurus rambut (relaxers) dan pengeritingan permanen menjadi hal lumrah yang didorong kuat oleh kampanye iklan masif. Berdasarkan penelitian tentang praktik kecantikan historis, pada akhir abad ke-20, tercatat sebanyak 75% perempuan Afrika-Amerika terbiasa menggunakan produk bahan kimia pelurus rambut demi memenuhi tuntutan sosial tersebut.

Gerakan Natural Hair dan Perayaan Keberagaman Modern

Pergeseran akhirnya terjadi pada tahun 1960-an dan 1970-an seiring dengan bangkitnya gerakan Natural Hair, khususnya dalam komunitas Afrika-Amerika. Ini adalah bentuk perlawanan politik dan kultural terhadap standar kecantikan kaku yang memarjinalkan mereka. Laki-laki dan perempuan mulai merangkul kembali tekstur asli mereka, menjadikan gaya rambut Afro sebagai simbol kebanggaan sekaligus kekuatan hak sipil (Black Power). 

Menariknya, tren ini juga merembes ke Indonesia pada era yang sama, namun dengan resonansi yang berbeda. Di tanah air, gaya ini populer dengan sebutan rambut “kribo” yang diledakkan oleh ikon rock seperti Achmad Albar melalui Duo Kribo. Alih-alih murni soal reklamasi identitas ras, konteks kribo di Indonesia lebih kental sebagai fashion statement dan simbol kebebasan berekspresi anak muda.

Jika kita melihat kembali foto-foto lama orang tua kita di era tersebut, pasti kebanyakan dari sekali mereka bergaya rambut kribo. Saat itu, rambut kribo seakan-akan jadi tren paling gaul bagi anak muda.

Selain jadi tren, pada masa itu, budaya rock n’ roll dengan rambut kribo dan gondrong menjadi perlawanan bagi “standar kerapian” yang dipaksakan oleh pemerintah Orde Baru. Di bawah rezim yang sangat menekankan ketertiban, rambut yang tidak lurus dan tidak klimis sering dicap sebagai bentuk pembangkangan atau perilaku urakan. 

Jadi, jika di Amerika rambut Afro adalah perlawanan terhadap supremasi kulit putih, di Indonesia, rambut kribo adalah perlawanan anak muda terhadap standarisasi moral dan kedisiplinan negara yang sangat kaku.

Baca juga: Cantik Tapi Sakit: Sepatu Hak Tinggi, Dari Simbol Kuasa ke Standar Kecantikan 

Merayakan Keberagaman

Saat ini berkat media sosial, gerakan mencintai rambut alami makin kencang di abad ke-21. Platform seperti Instagram dan YouTube membolehkan orang-orang dengan berbagai tekstur rambut untuk berbagi tips perawatan. Menurut survei tahun 2020, kini 70% perempuan Afrika-Amerika lebih memilih tekstur rambut alami mereka, dan pencarian produk perawatan rambut keriting naik hingga 200% dalam satu dekade terakhir.

Sekarang, industri kecantikan mau tidak mau harus beradaptasi. Sudah saatnya kita meninggalkan standar lama yang cuma mendewakan rambut lurus. Dengan memahami sejarah dan melihat kembali tren-tren yang pernah ada, kita bisa mulai merayakan keberagaman rambut dalam bentuknya yang paling alami.

Referensi:

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.