Ibadah haji di masa tempo dulu kala merupakan suatu cita-cita besar para santri asal Nusantara yang ingin melanjutkan studinya di tanah Hijaz. Makkah dan Madinah sebelum dikuasai oleh Dinasti Saud pada masa dulu selain menjadi kiblat shalat umat islam sedunia juga merupakan kiblat pendidikan bagi mereka yang ingin memperdalam agama Islam secara kafah.
Madrasah Shaulatiyah dan Madrasah Darul Ulum ad-Diniyyah di Makkah merupakan salah satu contoh madrasah yang melahirkan ulama kibar (besar) pada masanya. Tidak hanya itu berbagai macam halaqah dilangsungkan secara terbuka di beberapa tempat pada pelataran Masjidil Haram. Maka pada kesempatan ini, kita akan melihat sedikit perjalanan hidup dan profil Ulama Makkah dari kacamata seorang orientalis ternama, Snouck Hurgronje, yang ketika mengaku mualaf di Jeddah dan ia memakai nama Islam Abd al-Gaffar.
Petualangan Snouck ini dimulai di abad 19 tepatnya pada tanggal 21 Februari 1885. Ia bertolak ke Makkah pasca ikrar syahadat dan melakukan sunat (circumcision). Ditemani oleh Abu Bakar Djajadiningrat, salah satu koleganya yang masih saudara dari Bupati Pandeglang, Jawa Barat. Mereka berangkat ke Makkah dan tinggal di kediaman Raden Abu Bakar yang berada di Makkah.
Tujuan utama Snouck berpetualang secara langsung ke tanah suci Makkah tak lain karena ia ingin merekam secara langsung dan meneliti dari segi ilmu antropologi ibadah haji dan kehidupan umat Islam di Makkah yang selama ini dinarasikan picik oleh kawan sejawat orientalis lainnya. Pasca menunaikan umrah pertamanya, Snouck keesokan paginya menemui salah satu tokoh ulama Makkah yang bernama Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan.
Yups, sosok ulama ini yang juga kelak menjadi guru Hadratus Syaikh K.H. Hasyim Asy’ari dan rekannya asal Yogyakarta, yang bernama Muhammad Darwis yang kelak merubah namanya dengan mengharap keberkahan gurunya ini yang di kemudian hari berganti nama menjadi K.H. Ahmad Dahlan.
Dalam biografi Snouck karya Van Den Doel, Snouck menggambarkan Sayyid Ahmad Zaini Dahlan sebagai sosok lelaki tua bertubuh kerempeng. Melihat akan keluasan pengetahuannya akan Islam, Maha Guru Ulama Nusantara yang dikenal mufti Mazhab Syafi’i ini mengundang Snouck untuk hadir di halaqahnya tiap pagi hari di pelataran Masjidil Haram.
Adapun kitab yang dikaji oleh Sayyid Zaini Dahlan kala itu adalah Tafsir al-Baidhawi. Selain itu, Sayyid Zaini juga mengundang secara khusus kepada Snouck untuk hadir di rumahnya setiap Kamis malam guna menyimak bagaimana beliau mentahsin (memperbaiki) bacaan para qari’ al-Qur’an yang mengaji ilmu qira’at kepadanya.
Petuah Sayyid Zaini Dahlan ditangkap oleh Snouck dengan kalimat demikian, “Saya masih bisa mendengar suara khusyuk ceramahnya dan kalimat-kalimat pendek yang setelah selesai memberi kesan seperti hadirkan pada sebagian dari kami bukan karena marah, tetapi karena nafasnya yang memburu”. Nafas Bin Dahlan yang tersendat-sendat tadi disebabkan karena ia terkenal sebagai perokok berat.
Kemudian Ulama’ Makkah lain yang ditemui oleh Snouck adalah Syaikh Nawawi Al-Bantani yang tersohor dengan julukan Sayyid al-Ulama Hijaz. Pada biografi yang ditulis oleh Van Den Doel, Snouck menggambarkan Syaikh Nawawi sebagai ulama yang paling dihormati di Tanah Hijaz. Ia menggambarkan kepribadian Syaikh Nawawi demikian, “Memakai beberapa helai kain kotor dan pudar yang hanya sedikit membalut di tubuhnya dengan peci penuh keringat di kepalanya, dia membacakan tafsiran teks -teks suci di ruang bawah rumahnya”. Apa yang digambarkan Snouck ini dapat kita tangkap bahwa meski dikenal sebagai ulama yang harum namanya di berbagai belahan dunia. Syaikh Nawawi di kediamannya tetap menunjukkan sisi zuhudnya terhadap dunia. Saking gelinya Snouck akan sifat zuhud Syaikh Nawawi ia pun sampai berkomentar demikian,”Jika tidak ada kewajiban menjaga kebersihan diri dalam hukum ritual, dia pasti sangat tidak tidak higienis”.
Menurut Snouck, Syaikh Nawawi ini merupakan sosok ulama asal Jawa yang netral akan keterlibatan kawan-kawan Jawanya kepada aliran mistisisme Islam. Berkat pola pengajarannya cita-cita politik-religius agama Islam dalam bentuk halus semakin menyebar (Doel:64). Tokoh lain yang ditemui Snouck selanjutnya adalah Syekh Abdul Karim al-Bantani yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Syaikh Nawawi. Ia dikenal sebagai tokoh sentral Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah yang menggantikan gurunya, yakni Syaikh Ahmad Khatib as-Sambasi.
Bersama sang Mursyid TQN tersebut, Snouck seringkali diajak untuk menghisap rokok klobot bersama. Dari Syaikh Abdul Karim, Snouck belajar bahwa praktek zikir tarekat TQN berlangsung sebagaimana umumnya tanpa ada hal praktek yang dilebih-lebihkan. Karena bagi Snouck, selama ia mendalami tarekat selain TQN, ia mendapati bahwa praktek yang ditimbulkan mengarahkan anggotanya kepada arah tertentu yang berbau fanatisme (ta’asub).
Demikian tadi sekelumit profil kehidupan tokoh ulama’ Makkah yang berpengaruh di Nusantara dalam catatan seorang Snouck Hurgronje yang sebenarnya masih banyak tokoh lain, namun akan dikupas di lain waktu. Wallahu a’lam.





Comments are closed.